Bekerja sebagai auditor di
perusahaan swasta memang sangat
melelahkan. Tenaga, pikiran,
semuanya terkuras. Apalagi kalau
ada masalah keuangan yang rumit
dan harus segera diselesaikan. Mau tidak mau, aku harus mencurahkan
perhatian ekstra. Akibat dari tekanan
pekerjaan yang demikian itu
membuatku akrab dengan
gemerlapnya dunia malam terutama
jika weekend. Biasanya bareng teman sekantor aku berkaraoke
untuk melepaskan beban. Kadang di
'Manhattan', kadang di 'White
House', dan selanjutnya, benar-
benar malam untuk menumpahkan
"beban". Maklum, aku sudah berkeluarga dan punya seorang
anak, tetapi mereka kutinggalkan di
kampung karena istriku punya
usaha dagang di sana. Tapi lama kelamaan semua itu
membuatku bosan. Ya..di Jakarta ini,
walaupun aku merantau, ternyata
aku punya banyak saudara dan
karena kesibukan (alasan klise) aku
tidak sempat berkomunikasi dengan mereka. Akhirnya kuputuskan
untuk menelepon Mas Adit,
sepupuku. Kami pun bercanda ria,
karena lama sekali kami tidak
kontak. Mas Adit bekerja di salah
satu perusahaan minyak asing, dan saat itu dia kasih tau kalau minggu
depan ditugaskan perusahaannya ke
tengah laut, mengantar logistik
sekaligus membantu perbaikan salah
satu peralatan rig yang rusak. Dan
dia memintaku untuk menemani keluarganya kalau aku tidak
keberatan. Sebenernya aku males
banget, karena rumah Mas Adit
cukup jauh dari tempat kostku Aku
di bilangan Ciledug, sedangkan Mas
Adit di Bekasi. Tapi entah mengapa aku mengiyakan saja
permintaannya, karena kupikir-pikir
sekalian silaturahmi. Maklum, lama
sekali tidak jumpa. Hari Jumat minggu berikutnya aku
ditelepon Mas Adit untuk memastikan
bahwa aku jadi menginap di
rumahnya. Sebab kata Mas Adit
istrinya, Mbak Lala, senang kalau
aku mau datang. Hitung-hitung buat teman ngobrol dan teman main
anak-anaknya. Mereka berdua
sudah punya anak laki-laki dua
orang. Yang sulung kelas 4 SD, dan
yang bungsu kelas 1 SD. Usia Mas
Adit 40 tahun dan Mbak Lala 38 tahun. Aku sendiri 30 tahun. Jadi
tidak beda jauh amat dengan
mereka. Apalagi kata Mbak Lala, aku
sudah lama sekali tidak berkunjung
ke rumahnya. Terutama semenjak
aku bekerja di Jakarta ini Ya, tiga tahun lebih aku tidak berjumpa
mereka. Paling-paling cuma lewat
telepon. Setelah makan siang, aku telepon
Mbak Lala, janjian pulang bareng
Kami janjian di stasiun, karena Mbak
Lala biasa pulang naik kereta. "kalau
naik bis macet banget. Lagian sampe
rumahnya terlalu malem", begitu alasan Mbak Lala. Dan jam 17.00 aku
bertemu Mbak Lala di stasiun. Tak
lama, kereta yang ditunggu pun
datang. Cukup penuh, tapi aku dan
Mbak masih bisa berdiri dengan
nyaman. Kamipun asyik bercerita, seolah tidak mempedulikan kiri
kanan. Tapi hal itu ternyata tidak
berlangsung lama Lepas stasiun J,
kereta benar-benar penuh. Mau
tidak mau posisiku bergeser dan
berhadapan dengan Mbak Lala.
Inilah yang kutakutkan..! Beberapa kali, karena goyangan kereta, dada
montok Mbak Lala menyentuh
dadaku. Ahh..darahku rasanya
berdesir, dan mukaku berubah agak
pias. Rupanya Mbak Lala melihat
perubahanku dan –ini konyolnya- dia mengubah posisi dengan
membelakangiku. Alamaakk..
siksaanku bertambah..! Karena
sempitnya ruangan, si "itong"-ku
menyentuh pantatnya yang bulat
manggairahkan. Aku hanya bisa berdoa semoga "itong" tidak
bangun. Kamipun tetap mengobrol
dan bercerita untuk membunuh
waktu. Tapi, namanya laki-laki
normal apalgi ditambah gesekan-
gesekan yang ritmis, mau tidak mau bangun juga "itong"-ku. Makin lama
makin keras, dan aku yakin Mbak
Lala bisa merasakannya di balik rok
mininya itu. Pikiran ngeresku pun muncul,
seandainya aku bisa meremas dada
dan pinggulnya yang montok itu..
oh.. betapa nikmatnya. Akhirnya
sampai juga kami di Bekasi, dan aku
bersyukur karena siksaanku berakhir. Kami kemudian naik
angkot, dan sepanjang jalan Mbak
Lala diam saja. Sampai dirumah, kami
beristirahat, mandi (sendiri-sendiri,
loh..) dan kemudian makan malam
bersama keponakanku. Selesai makan malam, kami bersantai, dan
tak lama kedua keponakanku pun
pamit tidur. "Ndrew, Mbak mau bicara sebentar",
katanya, tegas sekali.
"Iya mbak.. kenapa", sahutku
bertanya. Aku berdebar, karena
yakin bahwa Mbak akan
memarahiku akibat ketidaksengajaanku di kereta tadi.
"Terus terang aja ya. Mbak tau kok
perubahan kamu di kereta. Kamu
ngaceng kan?" katanya, dengan
nada tertahan seperti menahan rasa
jengkel. "Mbak tidak suka kalau ada laki-laki
yang begitu ke perempuan. Itu
namanya pelecehan. Tau kamu?!"
"MMm.. maaf, mbak..", ujarku
terbata-bata.
"Saya tidak sengaja. Soalnya kondisi kereta kan penuh banget. Lagian,
nempelnya terlalu lama.. ya.. aku
tidak tahan"
"Terserah apa kata kamu, yang jelas
jangan sampai terulang lagi. Banyak
cara untuk mengalihkan pikiran ngeres kamu itu. Paham?!" bentak
Mbak Lisa.
"Iya, Mbak. Saya paham. Saya janji
tidak ngulangin lagi"
"Ya sudah. Sana, kalau kamu mau
main PS. Mbak mau tidur-tiduran dulu. kalau pengen nonton filem
masuk aja kamar Mbak." Sahutnya.
Rupanya, tensinya sudah mulai
menurun. Akhirnya aku main PS di ruang
tengah. Karena bosan, aku ketok
pintu kamarnya. Pengen nonton
film. Rupanya Mbak Lala sedang
baca novel sambil tiduran. Dia
memakai daster panjang. Aku sempat mencuri pandang ke seluruh
tubuhnya. Kuakui, walapun punya
anak dua, tubuh Mbak Lala betul-
betul terpelihara. Maklumlah,
modalnya ada. Akupun segera
menyetel VCD dan berbaring di karpet, sementara Mbak Lala asyik
dengan novelnya. Entah karena lelah atau sejuknya
ruangan, atau karena apa akupun
tertidur. Kurang lebih 2 jam, dan aku
terbangun. Film telah selesai, Mbak
Lala juga sudah tidur. Terdengar
dengkuran halusnya. Wah, pasti dia capek banget, pikirku. Saat aku beranjak dari tiduranku,
hendak pindah kamar, aku
terkesiap. Posisi tidur Mbak Lala
yang agak telungkup ke kiri dengan
kaki kana terangkat keatas benar-
benar membuat jantungku berdebar. Bagaimana tidak? Di depanku
terpampang paha mulus, karena
dasternya sedikti tersingkap. Mbak
Lala berkulti putih kemerahan, dan
warna itu makin membuatku tak
karuan. Hatiku tambah berdebar, nafasku mulai memburu.. birahiku
pun timbul.. Perlahan, kubelai paha itu.. lembut..
kusingkap daster itu samapi pangkal
pahanya.. dan.. AHH.. "itong"-ku
mengeras seketika. Mbak Lala
ternyata memakai CD mini warna
merah.. OHH GOD.. apa yang harus kulakukan.. Aku hanya menelan
ludah melihat pantatnya yang
tampak menggunung, dan CD itu
nyaris seperti G-String. Aku bener-
bener terangsang melihat
pemandangan indah itu, tapi aku sendiri merasa tidak enak hati,
karena Mbak Lala istri sepupuku
sendiri, yang mana sebetulnya harus
aku temani dan aku lindungi dikala
suaminya sedang tidak dirumah. Namun godaan syahwat memang
mengalahkan segalanya. Tak tahan,
kusingkap pelan-pelan celana
dalamnya, dan tampaklah gundukan
memeknya berwarna kemerahan.
Aku bingung.. harus kuapakan.. karena aku masih ada rasa was-was,
takut, kasihan.. tapi sekali lagi
godaan birahi memang
dahsyat.Akhirnya pelan-pelan kujilati
memek itu dengan rasa was-was
takut Mbak Lala bangun. Sllrrpp.. mmffhh.. sllrrpp.. ternyata
memeknya lezat juga, ditambah
pubic hair Mbak Lala yang sedikit,
sehingga hidungku tidak geli bahkan
leluasa menikmati aroma memeknya. Entah setan apa yang menguasai
diriku, tahu-tahu aku sudah
mencopot seluruh celanaku. Setelah
"itong"-ku kubasahi dengan
ludahku, segera kubenamkan ke
memek Mbak Lala. Agak susah juga, karena posisinya itu. Dan aku hasrus
ekstra hati-hati supaya dia tidak
terbangun. Akhirnya "itongku"-ku
berhasil masuk. HH.. hangat
rasanya.. sempit.. tapi licin.. seperti
piston di dalam silinder. Entah licin karena Mbak Lala mulai horny, atau
karena ludah bekas jilatanku..
entahlah. Yang pasti, kugenjot dia..
naik turun pelan lembut.. tapi
ternyata nggak sampai lima menit.
Aku begitu terpukau dengan keindahan pinggul dan pantatnya,
kehalusan kulitnya, sehingga
pertahananku jebol. Crroott..
ccrroott.. sseerr.. ssrreett..
kumuntahkan maniku di dalam
memek Mbak Lala. Aku merasakan pantatnya sedikit tersentak. Setelah
habis maniku, pelan-pelan dengan
dag-dig-dug kucabut penisku. "Mmmhh.. kok dicabut tititnya.."
suara Mbak Lala parau karena masih
ngantuk.
"Gantian dong..aku juga pengen.."
Aku kaget bukan main. Jantungku
tambah keras berdegup. "Wah.. celaka..", pikirku.
"Ketahuan, nich.." Benar saja! Mbak
Lala mambalikkan badannya.
Seketika dia begitu terkejut dan
secara refleks menampar pipiku.
Rupanya dia baru sadar bahwa yang habis menyetubuhinya bukan Mas
Adit, melainkan aku, sepupunya.
"Kurang ajar kamu, Ndrew",
makinya.
"KELUAR KAMU..!" Aku segera keluar dan masuk kamar
tidur tamu. Di dalam kamar aku
bener-bener gelisah.. takut.. malu..
apalagi kalau Mbak Lala sampai lapor
polisi dengan tuduhan pemerkosaan.
Wah.. terbayang jelas di benakku acara Buser.. malunya aku. Aku mencoba menenangkan diri
dengan membaca majalah, buku,
apa saja yang bisa membuatku
mengantuk. Dan entah berapa lama
aku membaca, aku pun akhirnya
terlelap. Seolah mimpi, aku merasa "itong"-ku seperti lagi keenakan.
Serasa ada yang membelai. Nafas
hangat dan lembut menerpa
selangkanganku. Perlahan kubuka
mata.. dan.. "Mbak Lala..jangan", pintaku sambil
aku menarik tubuhku.
"Ndrew.." sahut Mbak Lala, setengah
terkejut.
"Maaf ya, kalau tadi aku marah-
marah. Aku bener-bener kaget liat kamu tidak pake celana, ngaceng
lagi."
"Terus, Mbak maunya apa?" taku
bertanya kepadaku. Aneh sekali, tadi
dia marah-marah, sekarang kok..
jadi begini.. "Terus terang, Ndrew.. habis marah-
marah tadi, Mbak bersihin memek
dari sperma kamu dan disiram air
dingin supaya Mbak tidak ikutan
horny. Tapi.. Mbak kebayang-
bayang titit kamu. Soalnya Mbak belum pernah ngeliat kayak punya
kamu. Imut, tapi di meki Mbak
kerasa tuh." Sahutnya sambil
tersenyum. Dan tanpa menunggu jawabanku,
dikulumnya penisku seketika
sehingga aku tersentak dibuatnya.
Mbak Lala begitu rakus melumat
penisku yang ukurannya biasa-biasa
saja. Bahkan aku merasakan penisku mentok sampai ke
kerongkongannya. Secara refleks,
Mbak naik ke bed, menyingkapkan
dasternya di mukaku. Posisii kami
saat ini 69. Dan, Ya Tuhan, Mbak Lala
sudah melepas CD nya. Aku melihat memeknya makin membengkak
merah. Labia mayoranya agak
menggelambir, seolah menantangku
untuk dijilat dan dihisap. Tak kusia-
siakan, segera kuserbu dengan
bibirku.. "SSshh.. ahh.. Ndrew.. iya.. gitu..
he-eh.. Mmmffhh.. sshh.. aahh"
Mbak Lala merintih menahan nikmat.
Akupun menikmati memeknya yang
ternyata bener-bener becek. Aku
suka sekali dengan cairannya. "Itilnya.. dong.. Ndrew.. mm..
IYAA.. AAHH.. KENA AKU..
AMPUUNN NDREEWW.."
Mbak Lala makin keras merintih dan
melenguh. Goyangan pinggulnya
makin liar dan tak beraturan. Memeknya makin memerah dan
makin becek. Sesekali jariku
kumasukkan ke dalamnya sambil
terus menghisap clitorisnya. Tapi
rupanya kelihaian lidah dan jariku
masih kalah dengan kelihaian lidah Mbak Lala. Buktinya aku merasa ada
yang mendesak penisku, seolah mau
menyembur. "Mbak.. mau keluar nih.." kataku.
Tapi Mbak Lala tidak mempedulikan
ucapanku dan makin ganas
mengulum batang penisku. Aku
makin tidak tahan dan.. crrootts..
srssrreett.. ssrett.. spermaku muncrat di muutu Mbak Lala. Dengan
rakusnya Mbak Lala mengusapkan
spermaku ke wajahnya dan menelan
sisanya. "Ndrewww.. kamu ngaceng terus
ya.. Mbak belum kebagian nih.."
pintanya.
Aku hanya bisa mmeringis menahan
geli, karena Mbak Lala melanjutkan
mengisap penisku. Anehnya, penisku seperti menuruti kemauan
Mbak Lala. Jika tadi langsung lemas,
ternyata kali ini penisku dengan
mudahnya bangun lagi. Mungkin
karena pengaruh lendir memek
Mbak Lala sebab pada saat yang sama aku sibuk menikmati itil dan
cairan memeknya, aku jadi mudah
terangsang lagi. Tiba-tiba Mbak Lala bangun dan
melepaskan dasternya.
"Copot bajumu semua, Ndrew"
perintahnya.
Aku menuruti perintahnya dan
terperangah melihat pemandangan indah di depanku. Buah dada itu
membusung tegak. Kuperkirakan
ukurannya 36B. Puting dan
ariolanya bersih, merah kecoklatan,
sewarna kulitnya. Puting itu benar-
benar tegak ke atas seolah menantang kelelakianku untuk
mengulumnya. Segera Mbak Lala
berlutut di atasku, dan tangannya
membimbing penisku ke lubang
memeknya yang panas dan basah.
Bless.. sshh.. "Aduhh.. Ndrew.. tititmu keras
banget yah.." rintihnya.
"kok bisa kayak kayu sih..?"
Mbak Lala dengan buasnya
menaikturunkan pantatnya, sesekali
diselingi gerkan maju mundur. Bunyi gemerecek akibat memeknya yang
basah makin keras. Tak kusia-siakan,
kulahap habis kedua putingnya
yang menantang, rakus. Mbak Lala
makin keras goyangnya, dan aku
merasakan tubuh dan memeknya makin panas, nafasnya makin
memburu. Makin lama gerakan
pinggul Mbak Lala makin cepat,
cairan memeknya membanjir,
nafasnya memburu dan sesaat
kurasakan tubuhnya mengejang.. bergetar hebat.. nafasnynya
tertahan. "MMFF.. SSHSHH.. AAIIHH..
OUUGGHH.. NDREEWW.. MBAK
KELUAARR.. AAHHSSHH.."
Mbak Lala menjerit dan mengerang
seiring dengan puncak kenikmatan
yang telah diraihnya. Memeknya terasa sangat panas dan gerakan
pinggulnya demikian liar sehingga
aku merasakan penisku seperti
dipelintir. Dan akhirnya Mbak Lala
roboh di atas dadaku dengan
ekspresi wajah penuh kepuasan. Aku tersenyum penuh kemenangan
sebab aku masih mampu bertahan.. Tak disangka, setelah istirahat
sejenak, Mbak Lala berdiri dan
duduk di pinggir spring bed. Kedua
kakinya mengangkang,
punggungnya agak ditarik ke
belakang dan kedua tangannya menyangga tubuhnya.
"Ndrew, ayo cepet masukin lagi. Itil
Mbak kok rasanya kenceng lagi.."
pintanya setengah memaksa.
Apa boleh buat, kuturuti
kemauannya itu. Perlahan penisku kugosok-gosokkan ke bibir memek
dan itilnya. Memek Mbak Lala mulai
memerah lagi, itilnya langsung
menegang, dan lendirnya tampak
mambasahi dinding memeknya.
"SShh.. mm.. Ndrew.. kamu jail banget siicchh.. oohh.." rintihnya.
"Masukin aja, yang.. jangan siksa
aku, pleeaassee.." rengeknya. Mendengar dia merintih dan
merengek, aku makin bertafsu.
Perlahan kumasukkan penisku yang
memang masih tegak ke memeknya
yang ternyata sangat becek dan
terasa panas akibat masih memendam gelora birahi. Kugoyang maju
mundur perlahan, sesekali dengan
gerakan mencangkul dan memutar.
Mbak Lala mulai gelisah, nafasnya
makin memburu, tubuhnya makin
gemetaran. Tak lupa jari tengahku memainkan dan menggosok
clitorisnya yang ternyata benar-
benar sekeras dan sebesar kacang.
Iseng-iseng kucabut penisku dari
liang surganya, dan tampaklah
lubang itu menganga kemerahan.. basah sekali.. Gerakan jariku di itilnya makin
kupercepat, Mbak Lala makin tidak
karuan gerakannya. Kakinya mulai
kejang dan gemetaran, demikian
pula sekujur tubuhnya mulai
bergetar dan mengejang bergantian. Lubang memek itu makin becek,
terlihat lendirnya meleleh dengan
derasnya, dan segera saja kusambar
dengan lidahku.. direguk habis
semua lendir yang meleleh. Tentu
saja tindakanku ini mengagetkan Mbak Lala, terasa dari pinggulnya
yang tersentak keras seiring dengan
jilatanku di memeknya. Kupandangi memek itu lagi, dan aku
melihat ada seperti daging
kemerahan yang mencuat keluar,
bergerinjal berwarna merah seolah-
olah hendak keluar dari memeknya.
Dan nafas Mbak Lala tiba-tiba tertahan diiringi pekikan kecil.. dan
ssrr.. ceerr.. aku merasakan ada
cairan hangat muncrat dari
memeknya. "Mbak.. udah keluar?", tanyaku.
"Beluumm.., Ndreew.. ayo sayang..
masukin kontol kamu.. aku hampir
sampaaii.." erangnya.
Rupanya Mbak Lala sampai
terkencing-kencing menahan nikmat. Akibat pemandangan itu aku merasa
ada yang mendesak ingin keluar dari
penisku, dan segera saja kugocek
Mbak Lala sekuat tenaga dan secepat
aku mampu, sampai akhirnya.. "NDREEWW.. AKU KELUAARR..
OOHH.. SAYANG.. MMHH..
AAGGHH.. UUFF..", Mbak Lala
menjerit dan mengerang tidak
karuan sambil mengejang-ngejang.
Bola matanya tampak memutih, dan aku merasa jepitan di penisku begitu
kuat. Akhirnya bobol juga
pertahananku.. "Mbak.. aku mau muncrat nich.."
kataku.
"Keluarin sayang.. ayo sayang,
keluarin di dalem.. aku pengen
kehangatan spermamu sekali lagi.."
pintanya sambil menggoyangkan pinggulnya, menepuk pantatku dan
meremas pinggulnya.
Seketika itu juga.. Jrruuoott..
jrroott.. srroott..
"Mbaakk.. MBAAKK.. OOGGHH..
AKU MUNCRAT MBAAKK.." aku berteriak.
"Hmm.. ayo sayang.. keluarkan
semua.. habiskan semua.. nikmati,
sayang.. ayo.. oohh.. hangat..
hangat sekali spermamu di rahimku..
mmhh.." desah Mbak Lala manja menggairahkan.
Akupun terkulai diatas tubuh
moleknya dengan nafas satu dua.
Benar-benar malam jahanam yang
melelahkan sekaligus malam surgawi. "Ndrew, makasih ya.. kamu bisa
melepaskan hasratku.." Mbak Lala
tersenyum puas sekali..
"He-eh.. Mbak.. aku juga.." balasku.
"Aku juga makasih boleh menikmati
tubuh Mbak. Terus terang, sejak ngeliat Mbak, aku pengen
bersetubuh dengan Mbak. Tapi aku
sadar itu tak mungkin terjadi.
Gimana dengan keluarga kita kalau
sampai tahu."
"Waahh.. kurang ajar juga kau ya.." kata Mbak Lala sambil memencet
hidungku.
"Aku tidak nyangka kalau adik
sepupuku ini pikirannya ngesex
melulu. Tapi, sekarang impian kamu
jadi kenyataan kan?" "Iya, Mbak. Makasih banget.. aku
boleh menikmati semua bagian tubuh
Mbak." Jawabku.
"Kamu pengalaman pertamaku,
Ndrew. Maksud Mbak, ini pertama
kali Mbak bersetubuh dengan laki- laki selain Mas Adit. tidak ada yang
aneh kok. Titit Mas Adit jauh lebih
besar dari punya kamu. Mas Adit
juga perkasa, soalnya Mbak berkali-
kali keluar kalau lagi join sama
masmu itu" sahutnya. "Terus, kok keliatan puas banget?
Cari variasi ya?" aku bertanya.
"Ini pertama kalinya aku sampai
terkencing-kencing menahan
nikmatnya gesekan jari dan tititmu
itu. Suer, baru kali ini Mbak sampai pipisin kamu segala. Kamu nggak
jijik?"
"Ooohh.. itu toh..? Kenapa harus
jijik? Justru aku makin horny.." aku
tersenyum. Kami berpelukan dan akhirnya
terlelap. Kulihat senyum tersungging
di bibir Mbak Lalaku tersayang.. Tamat
Kamis, 07 April 2011
sepupuku endang
Kenalkan, nama saya Boy, teman-
teman biasa memanggilku Mas Boy.
Saya seorang pemuda berusia 25
tahun dengan tinggi badan 170 cm
dan berat 55 kg. Meski usia saya kini
sudah seperempat abad, namun pengetahuan saya dalam dunia
percintaan masih sangat minim dan
belum punya banyak pengalaman
yang layak dibanggakan
sebagaimana layaknya anak muda
jaman sekarang. Sekarang saya sedang bekerja pada
sebuah perusahaan swasta yang
bergerak di bidang jasa. Sebut saja
nama perusahaan itu adalah
Sepinggan tours and travel service.
Jarak kantor itu sekitar 5 km dari tempat tinggal saya. Kini saya tinggal dengan Om saya,
saya biasa memanggilnya om Rudy,
ia adalah adik kandung dari Ibu
saya). Om Rudy sehari-hari bekerja
sebagai Kepala sekolah di sebuah
SMK Negeri yang cukup terkenal di kota kami, sementara tante saya,
sebut saja namanya tante Rini
bekerja sebagai perawat di sebuah
RS swasta. Kedua anaknya (sepupu
saya) tinggal kost di kota lain karna
mereka tidak mau kuliah di kota kami (entah karena alasan apa).
Sejak kedua anaknya kuliah dan
tinggal di kota lain, om dan tante
saya hanya tinggal bertiga dengan
seorang pembantu. Sekitar dua bulan kemudian Om
Rudy mengajak saya agar saya
tinggal bersama mereka, dengan
alasan daripada saya harus kost di
luar, lebih baik saya tinggal di rumah
om saya saja karena di rumahnya ada kamar yang kosong, kata om
Rudy memberi alasan. Sejak saat itu
jumlah penghuni rumah bertambah
satu orang. Sebulan kemudian, tante
Rini membawa keponakannya ke
rumah, jadi sekarang ada lima orang yang tinggal di rumah itu. Sejak
kedatangan keponakan tante Rini,
suasana jadi kembali ramai, tidak
seperti dulu lagi ketika belum ada
keponakan. Nama keponakan tante
Rini adalah Endang, usianya 15 tahun, ia sudah duduk di kelas dua
SMKK Negeri. Endang adalah
seorang gadis yang cantik, cerdas,
rajin dan baik hati pada semua
orang. Suatu ketika, om Rudy dan tante Rini
pergi menghadiri acara perpisahan
siswa kelas II di sekolah tempat om
saya bekerja. Ia sempat mengajak
saya, namun saya menolak dengan
alasan saya agak lelah, lalu tante Rini mengajak Endang, namun Endang
juga menolak dengan alasan Endang
lagi ada tugas dari sekolah yang
harus diselesaikan malam itu juga
karena besok tugas itu sudah harus
dikumpulkan. Sebelum om dan tante meninggalkan rumah, mereka tidak
lupa berpesan agar kami berdua
berhati-hati, karena sekarang
banyak maling yang pura-pura
datang sebagai tamu, namun
ternyata sang tamu tiba-tiba merampok setelah melihat situasi
yang memungkinkan. Setelah selesai
berpesan, om dan tante pun pergi
sambil menyuruh saya menutup
pintu. Sejak kepergian om dan tante saya,
rumah jadi hening, kini hanya ada
suara TV, namun sengaja saya
kecilkan volumenya karena Endang
sedang belajar. Saya hanya duduk
di ruang depan menonton sebuah sinetron yang ditayangkan salah satu
stasiun TV swasta. Saya sempat
menyaksikan adegan panas seorang
lelaki paruh baya yang sedang asyik
berselingkuh dengan seorang gadis
yang ternyata teman sekantornya sendiri. Karena terlalu asyiknya saya
nonton TV, sehingga saya sangat
kaget ketika sebuah tangan
menepuk pundak saya. Setelah saya
lihat ternyata Endang, ia tersenyum
manis sambil menarik lenganku dengan manja menuju kamarnya.
Saya jadi deg-degan setelah melihat
penampilannya, ternyata ia hanya
mengenakan celana pendek ketat
warna coklat muda dengan kaos
orangenya yang super ketat, sehingga lekuk-lekuk tubuhnya
tampak begitu jelas. Sejenak saya terpana melihat
tubuhnya yang nyaris sempurna.
Saya amati pinggangnya bagai gitar
spanyol dengan paha yang
kencang, mulus, dan bersih. Selain
itu juga tampak buah dadanya sangat menantang. Sepertinya
ukuran BH-nya 34B. Pemandangan
itu sempat mengundang pikiran jahat
saya. Bagaimana rasanya kalo saya
menikmati tubuhnya yang nyaris
sempurna itu. Namun saya berusaha menyingkirkan pikiran itu karena
saya pikir bahwa dia adalah sepupu
ipar saya, tinggal serumah dengan
saya dan saya pun menganggapnya
sudah seperti adik kandung saya
sendiri. "Ada apa sih? Kok kamu mengajak
saya masuk ke kamar kamu?"
kataku agak bingung sambil
berusaha melepaskan tangan saya.
Sebenarnya bukan karena saya
menolak tetapi hanya karena grogi saja. Maklum saya belum pernah
masuk ke kamar Endang
sebelumnya.
"Kak, Endang mau minta tolong nih!"
katanya sambil menatapku manja.
"Kakak mau ngga membantu saya menyelesaikan tugas ini, soalnya
besok udah harus dikumpul." kata
dia setengah merengek.
"Oh, maksudnya kamu mau minta
tolong agar saya membantu kamu
mengerjakan tugas itu? Okelah. Saya akan membantumu dengan
senang hati, saya kan sudah berjanji
untuk selalu menolongmu." kataku
mantap.
"Asyik, makasih ya kak." kata
Endang sambil menciumku. Kontan saya merasa tersengat aliran
listrik karena meskipun umur sudah
25 tahun, saya belum pernah
mendapat ciuman seperti itu dari
seorang gadis, apalagi ciuman itu
datangnya dari gadis secantik Endang. Saya pun segera
membantunya sambil sesekali curi
padang padanya, namun sepertinya
ia tidak menyadari kalau saya
memperhatikanya. Setelah kami mengerjakan tugas itu
sekitar 30 menit, tiba-tiba Endang
berhenti mengerjakan tugas itu. Ia
mengeluh sambil memegangi
keningnya.
"Kak, Endang pusing nih, boleh ngga kakak pijitin kepala Endang?"
katanya sambil merapatkan
badannya ke dada saya.
Sempat saya merasakan gesekan dari
payudaranya yang cukup kencang
namun terasa lembut. "Emang kenapa kok Endang tiba-
tiba pusing?" tanya saya agak heran.
"Ayo kak, tolong pijatin donk,
kepala Endang pening!"
"Oke, dengan senang hati lagi."
kataku penuh antusias. Saya lalu mulai menekan-nekan
keningnya dengan tangan kiri saya
dan tangan kanan. Saya menahan
lehernya agar badannya tidak
bergoyang. Sesekali saya juga
mengelus pundaknya yang putih bersih.
"Kak, belakang leher Endang juga
kak, soalnya leher Endang agak
kaku nih." katanya sambil menuntun
tangan saya pada lehernya.
Setelah saya memijatnya sekitar lima menit, ia lalu berdiri sambil menarik
tangan saya.
Katanya, "Kak, Endang baring di
ranjang aja ya? Biar pijitnya
gampang."
"Terserah Endang ajalah." kata saya sambil mengikutinya dari belakang.
Lagi-lagi saya terkesima melihat
pinggulnya yang sungguh aduhai. Ia lalu berbaring telungkup di atas
ranjang sambil menyuruh saya
memijat leher dan punggungnya.
Sesekali saya melihat dia
menggerakkan tubuhnya, entah
karena sakit atau karena geli. Saya tidak tahu pasti, yang jelas saya juga
sangat senang memijat
punggungnya yang sangat seksi. Entah karena gerah atau bagaimana,
tiba-tiba saja ia bangun.
Katanya, "Kak, Endang buka baju
saja ya? Sekalian pakai balsem biar
cepat sembuh."
"Mungkin Endang masuk angin." katanya sambil melepaskan kaosnya,
lalu kembali berbaring di depan saya.
Saya terkesima melihat kulit
tubuhnya yang kuning langsat.
Dalam hati saya berpikir alangkah
bahagianya saya kalau kelak mempunyai istri secantik Endang.
Saya terus memijatnya dengan
lembut. Sesekali saya memutar-mutar
jari-jari saya di tepi rusuknya. Setiap
saya meraba sisi rusuknya, ia kontan
menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Kadang juga
pinggulnya ditarik. Maklum, ia belum
terbiasa disentuh laki-laki. Saya juga
sudah mulai merasakan penis saya
mulai bergerak-gerak dan kini sudah
semakin tegang. Tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya
menghadap ke arah saya.
Katanya, "Kak, Endang buka aja BH-
nya ya kak? Soalnya gerah nih."
"Terserah Endang lah." kata saya.
Kini kami saling berhadap-hadapan, ia berbaring menatap ke arah
pandangan saya dan saya berlutut di
samping kanannya. Dia hanya
tersenyum manja, saya pun
membalas senyumanya dengan
senyuman yang entah seperti apa modelnya, soalnya saya sudah tidak
konsen lagi karena nafas saya sudah
mulai tidak menentu. Sepertinya
nafas Endang juga sudah mulai tidak
terkendali, saya melihat bukitnya
yang nampak berdiri kokoh dengan pucuk warna merah jambu kini
sudah mulai turun naik. Saya sempat grogi dibuatnya,
bagaimana tidak, selama ini saya
belum pernah melihat pemandangan
seindah ini. Di depan saya kini
tergeletak seorang gadis yang
tubuhnya begitu memabukkan dengan desahan nafas yang
membuat batang kejantanan saya
sudah berdenyut-denyut. Seakan-
akan penis saya mau lompat
menerjang tubuh Endang yang
terbaring mengeliat-geliat, sungguh darah muda saya mulai berdesir
kencang. Kini saya mulai merasakan
detak jantung saya sudah tidak
beraturan lagi. "Kenapa kak?" katanya sambil
tersenyum manja.
"Ngga, ngga papa kok." kata saya
agak grogi.
"Sudahlah, ayo Kak pijitnya yang
agak keras dikit." "Iya, iya" jawab saya.
Saya lalu mulai mengelus-elus
perutnya yang putih bersih itu,
tanpa sengaja saya menyenggol
gundukan di dadanya.
"Ahh.." katanya sambil menggeliatkan tubuhnya.
Saya dengan cepat memindahkan
tangan, tetapi ia kembali
menariknya."Tidak apa-apa kak,
terusin saja." katanya.
Wah, benar-benar malam ini adalah malam yang sangat menyenangkan
bagi saya karena tidak pernah
terlintas di dalam pikiran saya akan
mendapat kesempatan seperti ini.
Kesempatan untuk mengelus-elus
tubuh Endang yang sangat meransang.
"Saya tidak boleh melewatkan
kesempatan sebaik ini," kata saya
dalam hati. Kini Endang semakin merasakan
rabaan jari-jari saya, saya melihat
dari desahan nafasnya dan dari
tubuhnya yang sudah mulai hangat.
Entah setan apa yang membuat
Endang lupa diri, dia tiba-tiba menarik wajah saya, lalu
mengusapnya dengan jari-jarinya
yang lembut dan mulai mencium dan
menggigit bibir saya. Saya hanya
pasrah dan terus terang saya juga
sebenarnya sangat menginginkanya, namun selama ini saya pendam saja
karena saya menghargainya dan
menganggapnya sebagai adik saya
sendiri. Tetapi saat ini pikiran itu telah
sirna dari kepala saya yang dialiri
oleh gelora darah muda saya yang menggelora. Ia terus mencium saya
dan kini ia melepaskan kaos yang
saya pakai lalu membuangnya di
samping ranjang. "Endang, ada apa ini?" tanya saya
setengah tidak percaya dengan apa
yang sedang ia lakukan.
Tetapi ia tidak memperdulikan kata-
kata saya lagi. Melihat gelagat
Endang yang sudah di luar batas kendali itu, saya pun tidak mau
tinggal diam. Saya mulai membalas
ciumannya, melumat bibirnya dan
menghisap lehernya yang putih
bersih. Saya merasakan penis saya
semakin keras dan berdenyut- denyut. Endang terus mencium bibir
saya dengan nafas tersengal-sengal.
Saya pun tidak mau kalah, saya
mulai meremas-remas payudaranya
yang masih kencang dan
menantang. Kini saya mulai mengisap pucuknya.
"Achh.." ia menggeliat. Saya melihat Endang semakin
menikmati perbuatannya. Sesekali ia
menggerakkan pinggulnya ke kiri
dan ke kanan sambil mendesah
nikmat. Endang melihat penis sudah
mendongkrak celana pendek saya, ia lalu menyelipkan tangannya ke
dalam CD saya dan ia kini sudah
menggenggam penis saya yang
berdiri tegak dengan otot-otot yang
berwarna kebiruan. Ia lalu menarik
celana pendek dan CD saya dan kemudian melemparkannya ke lantai. Ia kembali menangkap penis saya
dan mengocoknya dengan jari-
jarinya yang lembut. "Aachh..
achh.." benar-benar nikmat rasanya.
Saya merasakan penis saya semakin
tegang dan semakin panjang. Ia terus mempermainkan milik saya
yang sudah berdenyut-denyut dan
mulai mengeluarkan cairan bening.
Saya pun tidak mau ketinggalan.
Saya lalu menyelipkan jari-jari saya
ke selangkangannya. Saya merasakan lubang kemaluannya
sudah hangat dan sudah sangat
basah dengan cairan warna bening
mengkilat. Rupanya ia sudah benar-
benar sangat terangsang dengan
permainan kami. Dengan nafas yang tersengal-sengal,
saya lalu melorotkan celana Endang
lalu meremas-remas pahanya yang
putih mulus dan masih kencang.
Saya tidak sanggup lagi menahan
nafsu saya yang sudah naik ke ubun-ubun saya. Dengan sekali
tarik, saya berhasil melepaskan CD-
nya Endang. Kini ia benar-benar
bugil. Saya sejenak terpana
menyaksikan tubuhnya yang kini
tanpa sehelai benang, dengan kulit kuning langsat, halus, bersih dan
bentuk badan yang sangat seksi
sungguh nyaris sempurna. Saya benar-benar tidak tahan
melihat vaginya yang ditumbui
rambut tipis dan halus dengan
bentuknya yang mungil berwarna
coklat agak kemerah-merahan.
Kembali penis saya berdenyut- denyut, seakan meronta-ronta ingin
menerjang lubang nikmat Endang
yang masih terkatup rapat. Saya
sangat gemas melihat liang
kemaluannya dan kini saya mulai
mengusap-usap bibirnya dan meremas klitorisnya. Lubang nikmat
Endang sudah sangat basah. Saya
melihat Endang semakin terlelap
dalam nafsunya. Ia hanya
mengerang nikmat.
"Achh.. achh.. ohh.. ohh.." Saya terus menjilat klitorisnya. Ia
hanya mendesah, "Achh.. achh.."
sambil menarik-narik pinggulnya. "Kak, ayo masukin kak!" sambil
menarik penis saya menuju bibir
kemaluannya.
"Oke sayang," lalu saya membuka
kakinya.
Kemudian saya melipat kakinya dan menyuruhnya supaya ia membuka
pahanya agak lebar. Saya lalu
menarik pantat saya dan
merapatkannya pada selangkangan
Endang. Ia dengan cekatan meraih
batang kemaluan saya lalu menempelkannya di bibir
kemaluanya yang masih sangat rapat
namun sudah basah dengan cairan
lendirnya.
"Pelan-pelan ya kak, Endang belum
biasa." "Iya sayang," kata saya sambil
mengecup bibirnya yang merekah
basah. Saya kemudian mendorongnya
pelan-pelan.
"Achh.. sakit kak."
"Tahan sayang."
Saya lalu kembali mendorongnya
pelan-pelan dan kini batang saya sudah bisa masuk setengahnya.
Endang hanya menggeliat dan
menggigit bibirnya. Saya terus
mendorongnya sambil memeluk
tubuhnya. Sesekali saya
menyentaknya agak keras. "Achhkk.. sakit kak, pelan-pelan
donk!" memang kelaminnya masih
sangat rapat, maklum ia masih
perawan.
"Tahan ya sayang," saya mencoba
menenangkannya sambil memegang pinggulnya erat-erat.
"Akk.." Endang meringis keras.
Ia memukul dada saya dengan keras
sambil menarik pantatnya.
"Sakit kak, sakitt.." Saya merasakan batang kejantanan
saya menembus sesuatu yang kenyal
dalam lubang kenikmatan Endang.
Rupanya batang saya telah berhasil
menembul selaput daranya. Dari
liang sorga Endang tampak mengalir darah segar. Saya terus
menggoyang-goyangkan pinggul
saya maju mundur sambil menciumi
bibirnya dan meremas-remas
gunungnya yang sangat menantang
itu. Sesekali saya melihat dia merapatkan kedua pahanya sambil
mengigit bibirnya. Benar-benar milik
Endang sungguh nikmat, saya
merasakan vaginanya semakin basah
dan licin, namun tetap saya
merasakan kejantanan saya terjepit dan kadang seperti dihisap oleh
vaginanya Endang. Kini saya merasakan batang
kemaluan saya sudah berdenyut-
denyut sepertinya ingin
memuntahkan sesuatu, namun saya
tetap menahannya dengan
mengurangi irama permainan saya. "Terus kak, terus.." ia menggeliat.
Saya melihat kedua kakinya
mengejang. Gerakan saya kembali
saya pacu, membuat payudaranya
agak bergoyang dan sepertinya
semakin membesar berwarna kemerah-merahan.
"Achh.. achh.. Kak cepat kak, cepat
kak." sambil menggeliat.
Ia merapatkan pahanya. Dia mulai
menggerak-gerakkan tangannya
mencari pegangan. Akhirnya ia memelukku dengan erat dan
mengangkat kedua kakinya. Sambil
menggigit bibirnya, ia memejamkan
matanya. Saya merasakan kalau kini
badannya sudah kaku dan hangat.
Akhirnya Endang memelukku erat- erat dan mengangkat pantatnya
sambil berteriak."Achhkk.." Saya merasakan badannya bergetar
dan sepertinya ada sesuatu yang
hangat menyentuh batang
kejantanan saya, rupanya Endang
sudah orgasme. Saya semakin tidak
kuat menahan denyutan dari buah kejantanan saya, akibat kenikmatan
yang diberikan Endang sangat luar
biasa, batang saya semakin
berdenyut-denyut dan kini saya
benar-benar tidak sanggup lagi
menahannya. Lalu saya mempercepat gerakan saya dan
mendorong penis saya lebih dalam
lagi sambil menarik tubuh Endang
dengan erat ke dalam pelukan saya.
Saya merasakan kenikmatan yang
sangat dahsyat itu. Kini semuanya mengaliri dan menggetarkan seluruh
tubuh saya mulai dari ubun-ubun
sampai ujung kaki saya.
Akhirnya, "Srett.. srett.. srett.." Kejantanan saya mengeluarkan
cairan hangat dalam lubang
kemaluan Endang. Saya sempat
bingung dan takut karena telah
menikmati tubuh Endang secara
tidak sah. Namun rasa nikmat itu lebih dahsyat sehingga pikiran itu
segera sirna. Saya hanya tersenyum
lalu mengecup bibir Endang dan
mengucapkan terima kasih pada
Endang. Tampak tubuh Endang
basah dengan keringatnya tetapi terlihat wajahnya berseri-seri karena
puas. Endang hanya merapatkan
kedua tangannya ke sisi tubuhnya.
Ketika saya mencabut batang
kejantanan saya dari vaginanya ia
hanya tersenyum saja. Astaga, saya melihat di sprey Endang terdapat
bercak darah. Tetapi segera Endang
bangun dan menenangkan saya.
"Tenang mas, nanti saya cuci, tak
akan ada yang mengetahuinya."
katanya sambil meletakkan jarinya di kedua bibir saya. Kami berdua lalu menuju ke kamar
mandi. Di situ kami masih sempat
melakukannya sekali lagi, lalu
akhirnya kami kembali mandi dan
kembali ke kamarnya Endang.
Setelah saya mengambil baju dan celana, saya pun menuju ruang
tamu. Tidak lama kemudian keluarlah
Endang dari kamarnya lalu
mengajak saya makan malam
berdua. Katanya, ia sengaja duluan
makan karena tidak ingin bertemu dengan om dan tante malam ini.
Mungkin Endang malu dan takut
kalau perbuatan kami ketahuan.
Setelah makan, ia kembali ke
kamarnya. Entah ia tidur atau
belajar, saya tidak tahu pasti. Tidak lama kemudian, om dan tante
saya datang. Mereka menceritakan
keadaan pesta itu yang katanya
cukup ramai dibanding tahun lalu
karena tahun ini siswanya lulus 100
persen dengan nilai tertinggi di kota kami. Om saya menanyakan
Endang, tetapi saya katakan
mungkin ia sudah tidur sebab tadi
setelah makan ia sempat mengatakan
kepada saya bahwa ia agak lelah.
Om saya hanya menggangguk lalu menuju kamarnya, katanya ia juga
sudah makan dan kini ia pun ingin
istirahat. Saya tersenyum puas dan kembali
menonton sebentar, lalu masuk
kamar saya. Di dalam kamar, saya
tidak bisa tidur membayangkan
kejadian yang baru saja terjadi
beberapa jam yang lalu. Malam ini saya sangat senang karena telah
merasakan sesuatu yang tidak
pernah saya rasakan sebelumnya
dan pengalaman yang sangat manis
ini tentu tidak akan pernah saya
lupakan sepanjang hidup saya. Tamat
teman biasa memanggilku Mas Boy.
Saya seorang pemuda berusia 25
tahun dengan tinggi badan 170 cm
dan berat 55 kg. Meski usia saya kini
sudah seperempat abad, namun pengetahuan saya dalam dunia
percintaan masih sangat minim dan
belum punya banyak pengalaman
yang layak dibanggakan
sebagaimana layaknya anak muda
jaman sekarang. Sekarang saya sedang bekerja pada
sebuah perusahaan swasta yang
bergerak di bidang jasa. Sebut saja
nama perusahaan itu adalah
Sepinggan tours and travel service.
Jarak kantor itu sekitar 5 km dari tempat tinggal saya. Kini saya tinggal dengan Om saya,
saya biasa memanggilnya om Rudy,
ia adalah adik kandung dari Ibu
saya). Om Rudy sehari-hari bekerja
sebagai Kepala sekolah di sebuah
SMK Negeri yang cukup terkenal di kota kami, sementara tante saya,
sebut saja namanya tante Rini
bekerja sebagai perawat di sebuah
RS swasta. Kedua anaknya (sepupu
saya) tinggal kost di kota lain karna
mereka tidak mau kuliah di kota kami (entah karena alasan apa).
Sejak kedua anaknya kuliah dan
tinggal di kota lain, om dan tante
saya hanya tinggal bertiga dengan
seorang pembantu. Sekitar dua bulan kemudian Om
Rudy mengajak saya agar saya
tinggal bersama mereka, dengan
alasan daripada saya harus kost di
luar, lebih baik saya tinggal di rumah
om saya saja karena di rumahnya ada kamar yang kosong, kata om
Rudy memberi alasan. Sejak saat itu
jumlah penghuni rumah bertambah
satu orang. Sebulan kemudian, tante
Rini membawa keponakannya ke
rumah, jadi sekarang ada lima orang yang tinggal di rumah itu. Sejak
kedatangan keponakan tante Rini,
suasana jadi kembali ramai, tidak
seperti dulu lagi ketika belum ada
keponakan. Nama keponakan tante
Rini adalah Endang, usianya 15 tahun, ia sudah duduk di kelas dua
SMKK Negeri. Endang adalah
seorang gadis yang cantik, cerdas,
rajin dan baik hati pada semua
orang. Suatu ketika, om Rudy dan tante Rini
pergi menghadiri acara perpisahan
siswa kelas II di sekolah tempat om
saya bekerja. Ia sempat mengajak
saya, namun saya menolak dengan
alasan saya agak lelah, lalu tante Rini mengajak Endang, namun Endang
juga menolak dengan alasan Endang
lagi ada tugas dari sekolah yang
harus diselesaikan malam itu juga
karena besok tugas itu sudah harus
dikumpulkan. Sebelum om dan tante meninggalkan rumah, mereka tidak
lupa berpesan agar kami berdua
berhati-hati, karena sekarang
banyak maling yang pura-pura
datang sebagai tamu, namun
ternyata sang tamu tiba-tiba merampok setelah melihat situasi
yang memungkinkan. Setelah selesai
berpesan, om dan tante pun pergi
sambil menyuruh saya menutup
pintu. Sejak kepergian om dan tante saya,
rumah jadi hening, kini hanya ada
suara TV, namun sengaja saya
kecilkan volumenya karena Endang
sedang belajar. Saya hanya duduk
di ruang depan menonton sebuah sinetron yang ditayangkan salah satu
stasiun TV swasta. Saya sempat
menyaksikan adegan panas seorang
lelaki paruh baya yang sedang asyik
berselingkuh dengan seorang gadis
yang ternyata teman sekantornya sendiri. Karena terlalu asyiknya saya
nonton TV, sehingga saya sangat
kaget ketika sebuah tangan
menepuk pundak saya. Setelah saya
lihat ternyata Endang, ia tersenyum
manis sambil menarik lenganku dengan manja menuju kamarnya.
Saya jadi deg-degan setelah melihat
penampilannya, ternyata ia hanya
mengenakan celana pendek ketat
warna coklat muda dengan kaos
orangenya yang super ketat, sehingga lekuk-lekuk tubuhnya
tampak begitu jelas. Sejenak saya terpana melihat
tubuhnya yang nyaris sempurna.
Saya amati pinggangnya bagai gitar
spanyol dengan paha yang
kencang, mulus, dan bersih. Selain
itu juga tampak buah dadanya sangat menantang. Sepertinya
ukuran BH-nya 34B. Pemandangan
itu sempat mengundang pikiran jahat
saya. Bagaimana rasanya kalo saya
menikmati tubuhnya yang nyaris
sempurna itu. Namun saya berusaha menyingkirkan pikiran itu karena
saya pikir bahwa dia adalah sepupu
ipar saya, tinggal serumah dengan
saya dan saya pun menganggapnya
sudah seperti adik kandung saya
sendiri. "Ada apa sih? Kok kamu mengajak
saya masuk ke kamar kamu?"
kataku agak bingung sambil
berusaha melepaskan tangan saya.
Sebenarnya bukan karena saya
menolak tetapi hanya karena grogi saja. Maklum saya belum pernah
masuk ke kamar Endang
sebelumnya.
"Kak, Endang mau minta tolong nih!"
katanya sambil menatapku manja.
"Kakak mau ngga membantu saya menyelesaikan tugas ini, soalnya
besok udah harus dikumpul." kata
dia setengah merengek.
"Oh, maksudnya kamu mau minta
tolong agar saya membantu kamu
mengerjakan tugas itu? Okelah. Saya akan membantumu dengan
senang hati, saya kan sudah berjanji
untuk selalu menolongmu." kataku
mantap.
"Asyik, makasih ya kak." kata
Endang sambil menciumku. Kontan saya merasa tersengat aliran
listrik karena meskipun umur sudah
25 tahun, saya belum pernah
mendapat ciuman seperti itu dari
seorang gadis, apalagi ciuman itu
datangnya dari gadis secantik Endang. Saya pun segera
membantunya sambil sesekali curi
padang padanya, namun sepertinya
ia tidak menyadari kalau saya
memperhatikanya. Setelah kami mengerjakan tugas itu
sekitar 30 menit, tiba-tiba Endang
berhenti mengerjakan tugas itu. Ia
mengeluh sambil memegangi
keningnya.
"Kak, Endang pusing nih, boleh ngga kakak pijitin kepala Endang?"
katanya sambil merapatkan
badannya ke dada saya.
Sempat saya merasakan gesekan dari
payudaranya yang cukup kencang
namun terasa lembut. "Emang kenapa kok Endang tiba-
tiba pusing?" tanya saya agak heran.
"Ayo kak, tolong pijatin donk,
kepala Endang pening!"
"Oke, dengan senang hati lagi."
kataku penuh antusias. Saya lalu mulai menekan-nekan
keningnya dengan tangan kiri saya
dan tangan kanan. Saya menahan
lehernya agar badannya tidak
bergoyang. Sesekali saya juga
mengelus pundaknya yang putih bersih.
"Kak, belakang leher Endang juga
kak, soalnya leher Endang agak
kaku nih." katanya sambil menuntun
tangan saya pada lehernya.
Setelah saya memijatnya sekitar lima menit, ia lalu berdiri sambil menarik
tangan saya.
Katanya, "Kak, Endang baring di
ranjang aja ya? Biar pijitnya
gampang."
"Terserah Endang ajalah." kata saya sambil mengikutinya dari belakang.
Lagi-lagi saya terkesima melihat
pinggulnya yang sungguh aduhai. Ia lalu berbaring telungkup di atas
ranjang sambil menyuruh saya
memijat leher dan punggungnya.
Sesekali saya melihat dia
menggerakkan tubuhnya, entah
karena sakit atau karena geli. Saya tidak tahu pasti, yang jelas saya juga
sangat senang memijat
punggungnya yang sangat seksi. Entah karena gerah atau bagaimana,
tiba-tiba saja ia bangun.
Katanya, "Kak, Endang buka baju
saja ya? Sekalian pakai balsem biar
cepat sembuh."
"Mungkin Endang masuk angin." katanya sambil melepaskan kaosnya,
lalu kembali berbaring di depan saya.
Saya terkesima melihat kulit
tubuhnya yang kuning langsat.
Dalam hati saya berpikir alangkah
bahagianya saya kalau kelak mempunyai istri secantik Endang.
Saya terus memijatnya dengan
lembut. Sesekali saya memutar-mutar
jari-jari saya di tepi rusuknya. Setiap
saya meraba sisi rusuknya, ia kontan
menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Kadang juga
pinggulnya ditarik. Maklum, ia belum
terbiasa disentuh laki-laki. Saya juga
sudah mulai merasakan penis saya
mulai bergerak-gerak dan kini sudah
semakin tegang. Tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya
menghadap ke arah saya.
Katanya, "Kak, Endang buka aja BH-
nya ya kak? Soalnya gerah nih."
"Terserah Endang lah." kata saya.
Kini kami saling berhadap-hadapan, ia berbaring menatap ke arah
pandangan saya dan saya berlutut di
samping kanannya. Dia hanya
tersenyum manja, saya pun
membalas senyumanya dengan
senyuman yang entah seperti apa modelnya, soalnya saya sudah tidak
konsen lagi karena nafas saya sudah
mulai tidak menentu. Sepertinya
nafas Endang juga sudah mulai tidak
terkendali, saya melihat bukitnya
yang nampak berdiri kokoh dengan pucuk warna merah jambu kini
sudah mulai turun naik. Saya sempat grogi dibuatnya,
bagaimana tidak, selama ini saya
belum pernah melihat pemandangan
seindah ini. Di depan saya kini
tergeletak seorang gadis yang
tubuhnya begitu memabukkan dengan desahan nafas yang
membuat batang kejantanan saya
sudah berdenyut-denyut. Seakan-
akan penis saya mau lompat
menerjang tubuh Endang yang
terbaring mengeliat-geliat, sungguh darah muda saya mulai berdesir
kencang. Kini saya mulai merasakan
detak jantung saya sudah tidak
beraturan lagi. "Kenapa kak?" katanya sambil
tersenyum manja.
"Ngga, ngga papa kok." kata saya
agak grogi.
"Sudahlah, ayo Kak pijitnya yang
agak keras dikit." "Iya, iya" jawab saya.
Saya lalu mulai mengelus-elus
perutnya yang putih bersih itu,
tanpa sengaja saya menyenggol
gundukan di dadanya.
"Ahh.." katanya sambil menggeliatkan tubuhnya.
Saya dengan cepat memindahkan
tangan, tetapi ia kembali
menariknya."Tidak apa-apa kak,
terusin saja." katanya.
Wah, benar-benar malam ini adalah malam yang sangat menyenangkan
bagi saya karena tidak pernah
terlintas di dalam pikiran saya akan
mendapat kesempatan seperti ini.
Kesempatan untuk mengelus-elus
tubuh Endang yang sangat meransang.
"Saya tidak boleh melewatkan
kesempatan sebaik ini," kata saya
dalam hati. Kini Endang semakin merasakan
rabaan jari-jari saya, saya melihat
dari desahan nafasnya dan dari
tubuhnya yang sudah mulai hangat.
Entah setan apa yang membuat
Endang lupa diri, dia tiba-tiba menarik wajah saya, lalu
mengusapnya dengan jari-jarinya
yang lembut dan mulai mencium dan
menggigit bibir saya. Saya hanya
pasrah dan terus terang saya juga
sebenarnya sangat menginginkanya, namun selama ini saya pendam saja
karena saya menghargainya dan
menganggapnya sebagai adik saya
sendiri. Tetapi saat ini pikiran itu telah
sirna dari kepala saya yang dialiri
oleh gelora darah muda saya yang menggelora. Ia terus mencium saya
dan kini ia melepaskan kaos yang
saya pakai lalu membuangnya di
samping ranjang. "Endang, ada apa ini?" tanya saya
setengah tidak percaya dengan apa
yang sedang ia lakukan.
Tetapi ia tidak memperdulikan kata-
kata saya lagi. Melihat gelagat
Endang yang sudah di luar batas kendali itu, saya pun tidak mau
tinggal diam. Saya mulai membalas
ciumannya, melumat bibirnya dan
menghisap lehernya yang putih
bersih. Saya merasakan penis saya
semakin keras dan berdenyut- denyut. Endang terus mencium bibir
saya dengan nafas tersengal-sengal.
Saya pun tidak mau kalah, saya
mulai meremas-remas payudaranya
yang masih kencang dan
menantang. Kini saya mulai mengisap pucuknya.
"Achh.." ia menggeliat. Saya melihat Endang semakin
menikmati perbuatannya. Sesekali ia
menggerakkan pinggulnya ke kiri
dan ke kanan sambil mendesah
nikmat. Endang melihat penis sudah
mendongkrak celana pendek saya, ia lalu menyelipkan tangannya ke
dalam CD saya dan ia kini sudah
menggenggam penis saya yang
berdiri tegak dengan otot-otot yang
berwarna kebiruan. Ia lalu menarik
celana pendek dan CD saya dan kemudian melemparkannya ke lantai. Ia kembali menangkap penis saya
dan mengocoknya dengan jari-
jarinya yang lembut. "Aachh..
achh.." benar-benar nikmat rasanya.
Saya merasakan penis saya semakin
tegang dan semakin panjang. Ia terus mempermainkan milik saya
yang sudah berdenyut-denyut dan
mulai mengeluarkan cairan bening.
Saya pun tidak mau ketinggalan.
Saya lalu menyelipkan jari-jari saya
ke selangkangannya. Saya merasakan lubang kemaluannya
sudah hangat dan sudah sangat
basah dengan cairan warna bening
mengkilat. Rupanya ia sudah benar-
benar sangat terangsang dengan
permainan kami. Dengan nafas yang tersengal-sengal,
saya lalu melorotkan celana Endang
lalu meremas-remas pahanya yang
putih mulus dan masih kencang.
Saya tidak sanggup lagi menahan
nafsu saya yang sudah naik ke ubun-ubun saya. Dengan sekali
tarik, saya berhasil melepaskan CD-
nya Endang. Kini ia benar-benar
bugil. Saya sejenak terpana
menyaksikan tubuhnya yang kini
tanpa sehelai benang, dengan kulit kuning langsat, halus, bersih dan
bentuk badan yang sangat seksi
sungguh nyaris sempurna. Saya benar-benar tidak tahan
melihat vaginya yang ditumbui
rambut tipis dan halus dengan
bentuknya yang mungil berwarna
coklat agak kemerah-merahan.
Kembali penis saya berdenyut- denyut, seakan meronta-ronta ingin
menerjang lubang nikmat Endang
yang masih terkatup rapat. Saya
sangat gemas melihat liang
kemaluannya dan kini saya mulai
mengusap-usap bibirnya dan meremas klitorisnya. Lubang nikmat
Endang sudah sangat basah. Saya
melihat Endang semakin terlelap
dalam nafsunya. Ia hanya
mengerang nikmat.
"Achh.. achh.. ohh.. ohh.." Saya terus menjilat klitorisnya. Ia
hanya mendesah, "Achh.. achh.."
sambil menarik-narik pinggulnya. "Kak, ayo masukin kak!" sambil
menarik penis saya menuju bibir
kemaluannya.
"Oke sayang," lalu saya membuka
kakinya.
Kemudian saya melipat kakinya dan menyuruhnya supaya ia membuka
pahanya agak lebar. Saya lalu
menarik pantat saya dan
merapatkannya pada selangkangan
Endang. Ia dengan cekatan meraih
batang kemaluan saya lalu menempelkannya di bibir
kemaluanya yang masih sangat rapat
namun sudah basah dengan cairan
lendirnya.
"Pelan-pelan ya kak, Endang belum
biasa." "Iya sayang," kata saya sambil
mengecup bibirnya yang merekah
basah. Saya kemudian mendorongnya
pelan-pelan.
"Achh.. sakit kak."
"Tahan sayang."
Saya lalu kembali mendorongnya
pelan-pelan dan kini batang saya sudah bisa masuk setengahnya.
Endang hanya menggeliat dan
menggigit bibirnya. Saya terus
mendorongnya sambil memeluk
tubuhnya. Sesekali saya
menyentaknya agak keras. "Achhkk.. sakit kak, pelan-pelan
donk!" memang kelaminnya masih
sangat rapat, maklum ia masih
perawan.
"Tahan ya sayang," saya mencoba
menenangkannya sambil memegang pinggulnya erat-erat.
"Akk.." Endang meringis keras.
Ia memukul dada saya dengan keras
sambil menarik pantatnya.
"Sakit kak, sakitt.." Saya merasakan batang kejantanan
saya menembus sesuatu yang kenyal
dalam lubang kenikmatan Endang.
Rupanya batang saya telah berhasil
menembul selaput daranya. Dari
liang sorga Endang tampak mengalir darah segar. Saya terus
menggoyang-goyangkan pinggul
saya maju mundur sambil menciumi
bibirnya dan meremas-remas
gunungnya yang sangat menantang
itu. Sesekali saya melihat dia merapatkan kedua pahanya sambil
mengigit bibirnya. Benar-benar milik
Endang sungguh nikmat, saya
merasakan vaginanya semakin basah
dan licin, namun tetap saya
merasakan kejantanan saya terjepit dan kadang seperti dihisap oleh
vaginanya Endang. Kini saya merasakan batang
kemaluan saya sudah berdenyut-
denyut sepertinya ingin
memuntahkan sesuatu, namun saya
tetap menahannya dengan
mengurangi irama permainan saya. "Terus kak, terus.." ia menggeliat.
Saya melihat kedua kakinya
mengejang. Gerakan saya kembali
saya pacu, membuat payudaranya
agak bergoyang dan sepertinya
semakin membesar berwarna kemerah-merahan.
"Achh.. achh.. Kak cepat kak, cepat
kak." sambil menggeliat.
Ia merapatkan pahanya. Dia mulai
menggerak-gerakkan tangannya
mencari pegangan. Akhirnya ia memelukku dengan erat dan
mengangkat kedua kakinya. Sambil
menggigit bibirnya, ia memejamkan
matanya. Saya merasakan kalau kini
badannya sudah kaku dan hangat.
Akhirnya Endang memelukku erat- erat dan mengangkat pantatnya
sambil berteriak."Achhkk.." Saya merasakan badannya bergetar
dan sepertinya ada sesuatu yang
hangat menyentuh batang
kejantanan saya, rupanya Endang
sudah orgasme. Saya semakin tidak
kuat menahan denyutan dari buah kejantanan saya, akibat kenikmatan
yang diberikan Endang sangat luar
biasa, batang saya semakin
berdenyut-denyut dan kini saya
benar-benar tidak sanggup lagi
menahannya. Lalu saya mempercepat gerakan saya dan
mendorong penis saya lebih dalam
lagi sambil menarik tubuh Endang
dengan erat ke dalam pelukan saya.
Saya merasakan kenikmatan yang
sangat dahsyat itu. Kini semuanya mengaliri dan menggetarkan seluruh
tubuh saya mulai dari ubun-ubun
sampai ujung kaki saya.
Akhirnya, "Srett.. srett.. srett.." Kejantanan saya mengeluarkan
cairan hangat dalam lubang
kemaluan Endang. Saya sempat
bingung dan takut karena telah
menikmati tubuh Endang secara
tidak sah. Namun rasa nikmat itu lebih dahsyat sehingga pikiran itu
segera sirna. Saya hanya tersenyum
lalu mengecup bibir Endang dan
mengucapkan terima kasih pada
Endang. Tampak tubuh Endang
basah dengan keringatnya tetapi terlihat wajahnya berseri-seri karena
puas. Endang hanya merapatkan
kedua tangannya ke sisi tubuhnya.
Ketika saya mencabut batang
kejantanan saya dari vaginanya ia
hanya tersenyum saja. Astaga, saya melihat di sprey Endang terdapat
bercak darah. Tetapi segera Endang
bangun dan menenangkan saya.
"Tenang mas, nanti saya cuci, tak
akan ada yang mengetahuinya."
katanya sambil meletakkan jarinya di kedua bibir saya. Kami berdua lalu menuju ke kamar
mandi. Di situ kami masih sempat
melakukannya sekali lagi, lalu
akhirnya kami kembali mandi dan
kembali ke kamarnya Endang.
Setelah saya mengambil baju dan celana, saya pun menuju ruang
tamu. Tidak lama kemudian keluarlah
Endang dari kamarnya lalu
mengajak saya makan malam
berdua. Katanya, ia sengaja duluan
makan karena tidak ingin bertemu dengan om dan tante malam ini.
Mungkin Endang malu dan takut
kalau perbuatan kami ketahuan.
Setelah makan, ia kembali ke
kamarnya. Entah ia tidur atau
belajar, saya tidak tahu pasti. Tidak lama kemudian, om dan tante
saya datang. Mereka menceritakan
keadaan pesta itu yang katanya
cukup ramai dibanding tahun lalu
karena tahun ini siswanya lulus 100
persen dengan nilai tertinggi di kota kami. Om saya menanyakan
Endang, tetapi saya katakan
mungkin ia sudah tidur sebab tadi
setelah makan ia sempat mengatakan
kepada saya bahwa ia agak lelah.
Om saya hanya menggangguk lalu menuju kamarnya, katanya ia juga
sudah makan dan kini ia pun ingin
istirahat. Saya tersenyum puas dan kembali
menonton sebentar, lalu masuk
kamar saya. Di dalam kamar, saya
tidak bisa tidur membayangkan
kejadian yang baru saja terjadi
beberapa jam yang lalu. Malam ini saya sangat senang karena telah
merasakan sesuatu yang tidak
pernah saya rasakan sebelumnya
dan pengalaman yang sangat manis
ini tentu tidak akan pernah saya
lupakan sepanjang hidup saya. Tamat
sepupuku sayang
Perkenalkan namaku Roni (samaran)
umur 25 tahun, bekerja pada suatu
perusahaan Jepang di bekasi sebagai
EDP. Cerita ini bermula waktu aku masih
SD kelas 5 dan mulai mengenal yang
namanya seks. Itu juga pertama kali
dengan adik sepupuku yang
lumayan cakep lah.., ingat aktris
sinetron "Dominique Sandra", seperti dia cantiknya.
Dia anak pakde ku yang tinggal di
Jawa Tengah namanya .. Retno .. (8
tahun). (Sengaja aku kosongkan
nama pertama dan terakhir, takut
ketahuan kakak sepupuku yang lain. Hehehe..). Sedangkan aku
tinggal di daerah Bekasi.
Waktu itu aku masih SD kelas 5 dan
aku minta di sunat seperti kawan-
kawan yang lain. Karena ku pikir
udah saatnya aku disunat. Biasanya seminggu sebelum disunat
banyak keluarga dari bapak dan
ibuku datang dan menginap juga
sekalian membantu masak-
masaknya. Nah, dari situlah aku
mulai mengenal sepupuku. Pertama aku biasa saja karena kupikir dia
masih sepupuku. Tapi kok kayaknya
di semakin genit dan centil di
depanku, tidak seperti sepupu
cewek yang lain, ("yang katanya
aku ganteng dan gagah dibandingkan cowok yang lain,
katanya setelah aku "berhubungan"
dengan dia"). Aku sih biasa saja,
karena aku belum paham betul.
Nah.. Puncaknya terjadi ketika malam
sebelum aku disunat. Setelah semua
orang tidur terlelap di rumahku, ada
juga sih yang main kartu remi dan
gaple, di luaran sambil begadangan
dan ronda, yang padahal waktu itu juga aku pengen ikut begadang, tapi
diomelin sama semua katanya,
disuruh banyak istirahat supaya
pada waktu di sunat tidak terlalu
banyak mengeluarkan darah. Aku
terjaga (mendusin) sekitar jam 01.00 malam karena ingin pipis. Setelah
pipis aku melewati kamar dimana
retno serta beberapa sepupu cewek
yang lain termasuk adikku sendiri
tidur. Aku iseng ngeliat karena kebetulan
lampunya mati maka aku jadi bebas.
Aku juga ngga tahu tiba-tiba saja
seperti ada yang menyuruhku untuk
masuk ke dalam kamar itu. Lalu aku
masuk dan kulihat retno tidur dibawah bersama adikku dan
sepupu cewek lainnya
menggunakan tikar, dia tidur
dengan posisi yang agak
menggairahkan dimana waktu itu dia
memakai rok sedangkan kaki kanannya diangkat keatas sehingga
terpampanglah paha mulus seorang
anak kecil. Walaupun lampu mati tapi
aku masih dengan jelas melihat paha
dan CD-nya (walaupun remang-
remang), karena masih ada lampu dapur yang nyala terang. Lalu aku
lihat semua orang yang ada dikamar.
Ah.. udah tidur semua.. iseng aku
tidur dismping dia, karena kebetulan
disamping kanannya kosong.. Sialan
dia menurunkan kaki kanannya sehingga pahanya tertutup semua. Sengaja aku tidak tidur karena diam-
diam aku menarik rok nya sampai
kedua pahanya yang mulus terlihat.
Dan juga CD yang agak
menggembung sedikit, walaupun
belum ditumbuhi bulu. Tiba-tiba aku ngerasa ada perasaan aneh, dimana
titit ku agak membesar, biasanya ini
terjadi kalau aku bangun tidur dan
langsung kencing, tapi ini lain. Ketika
ku pegang, kok makin enak..
karena dari kecil aku termasuk anak yang cerdas dan cepat tanggap,
maka dalam hal ini walaupun masih
bingung kenapa, aku pun sudah
bisa mencerna apa yang terjadi saat
itu.
Lalu akupun bangun dan duduk didepan pahanya, dan terlihatlah
sebuah CD putih dengan agak
sedikit menggembung bagian
tengahnya, walaupun belum ada
bulunya. Dan juga dadanya yang
sedikit menonjol menendakan bahwa dia agak bongsor. Nekat kudekati
Cdnya, dan ku cium. Ah.. biasa saja.
Tititku semakin tegang, dan ku
sentuh di bagian tengah Cdnya,
hangat.. lalu perlahan kuturunkan
Cdnya, pelan dan sangat hati-hati takut dia terbangun. 1 centi.. lalu
aku pura-pura tidur lagi.. melihat
tidak ada reaksi kuturunkan lagi..
Lagi.. Dan lagi.. sampai mata kaki. Dan.. saat itu pula dia bergerak.. aku
gemetar, jantungku berdetak
kencang sekali.. takut kalo dia
bangun, teriak dan mengadukan hal
ini pada semuanya. Tapi anehnya.
Dia cuma menggeliat dan menaikkan kaki kanannya kembali tapi tidak
penuh karena kaki kanan dan kiri
terikat oleh Cdnya yang masih
melingkar di mata kakinya. Melihat
itu, aku segera melepas Cdnya dan
berhasil..coy.. Kini didepanku terpampang sebuah pemandangan
indah walaupun itu hanya vagina
anak kecil tapi untuk seumuranku
waktu itu membuat titikku semakin
mengencang dan aku pun
mengambil kesimpulan bahwa ini toh yang namanya terangsang, seperti
yang aku baca di majalah-majalah
Kartini, Femina, dll kepunyaan
ibuku. Aku makin nekat dengan
menciumi vaginanya yang mungil..
Ah..masih biasa juga.. tidak ada bau apa-apa. Tapi setelah dipikir-pikir..
nih enaknya pake senter, ya udah
aku ambil senter di kamarku, senter
kecil buatan bokap untuk aku, yang
baterry nya cuma satu. Dan jaman Sekarang pun aku punya
tapi beli harganya +- Rp. 10000,
merknya Energizer, udah ada yang
jual dimana-mana. Terkadang kalo
lagi bengong sambil ngeliatin senter
kecilku, aku jadi tersenyum sendiri. Setelah senternya kudapat, aku
dekati dia lagi.. Masih dalam posisi
yang sama. Kutunggu sebentar
sampai semua terlihat aman. Lalu aku
tiduran di sampingnya.. Kuamati
wajahnya yang mungil.. busyet dah ternyata gua punya sepupu cantik
buangeet.. Walaupun masih SD tapi
tanda-tanda kecantikannya sudah
terlihat. Mungkin karena udah
keturunan kali ye.. He he he.. Ge eR
dah Gua.. Wah kayaknya udah lelap banget
nih retno, karena hanya terdengar
nafasnya yang teratur dan lembut..
sialan bikin aku makin bernafsu aja.. Aku bangkit dan langsung
kunyalakan senter, beruntung
karena lampunya kecil jadi hanya
diameter 3 centi saja, sinarnya.
Lumayanlah untuk menerangi
vaginanya retno.. eh.. dia bergerak dan melebarkan kedua pahanya,
pucuk di cinta ulam tiba. Terlihat
dengan jelas di kedua mataku,
vaginanya yang masih merah dan
ranum. Nekat kupegang dengan
tangan kanan sedangkan kiri masih memegang senter. Kering..?? Aku
colek terus aja.. eh.. terdengar
nafasnya yang mulai tidak teratur..
Tapi kok mulai basah?? wah jangan-
jangan dia ngompol nih.. tapi pas
aku cium tanganku, ah.. bukan air kencing nih..air apa yak?? terus ku
elus-elus vaginanya, lalu tanpa sadar
aku langsung mencium dan
menjilatnya.. Mmpphh..asin.. sial..
kok rasanya kayak gini sih?? ah..
peduli amat aku udah terlanjur terangsang. Kudengar nafasnya mulai tidak
beraturan tapi tidak berisik.. (unik
kan). Lalu ku buka celana ku,
karena aku masih kecil jadi belum
pakai CD. Aku ngeliat tititku makin
tegang dengan ujungnya yang masih tertutup oleh kulup. Dan
sedikit keluar lendir.. aku makin
heran lendir apaan nih..ku jilat.. kok
asin juga sih.. Ku coba mencerna
semua ini, tapi karena otak normal
ku udah ditutupi oleh nafsu aku jadi tidak bisa berpikir secara teoritis.
Yang ada saat itu hanya perasaan
nikmat dan juga nafsu yang
menggebu-gebu. Setelah puas
menjilati vagina retno, yang
sepertinya dia menikmati permainanku ini, aku lalu
menurunkan kedua kakinya sampai
lurus.
Lalu aku mulai merangkak di atas
tubuh nya tanpa menyentuh
tubuhnya sama sekali. Setelah posisiku pas, aku turunkan
tititku sehingga mendekati
vaginanya. Kucoba masukkin, kok
ngga mau masuk.. terus ku coba..
lagi..lagi.. ah capek.. susah juga,
pikirku. Yah udah aku tiduran lagi disampingnya.. ah mendingan juga
megangin vaginanya.. lagi asyik
berfikir untuk melanjutkan aksiku,
tiba-tiba dia menggeliat dan posisi
tubuhnya miring menghadap diriku
yang waktu itu aku juga sedang asyik menikmati wajahnya yang ayu.
Di tambah lagi dengan kaki kirinya
ditekuk ke atas sehingga sepertinya
dia sudah pasrah untuk di setubuhi.
Aku bingung.. Ku pegang lagi
vaginanya.. wah kok tambah basah.. jangan-jangan dia tahu dan
terangsang.. atau sedang mimpi
sambil ikuta terangsang.. wajahku
dengan wajahnya hanya berjarak 10
centi saja. Sehingga nafasnya yang
berat dan menggebu terdengar sangat jelas. Aku berusaha bernafas
dengan pelan supaya dia tidak
terbangun dan kaget. Tapi tiba-tiba tanpa kuduga dia
tersenyum dan tangannya bergerak
memegang tititku, Oouuppss.. ada
apa nih.. aku kaget setengah mati..
ah mungkin nih anak ngga sadar kali
yak.. Tapi setelah kuperhatikan mukanya, dia masih sambil
tersenyum dan mulai membuka
kedua matanya pelan-pelan. Aku
makin kaget dan takut, kalau itu
cuma tipuan dia setelah itu dia
teriak.. lalu aku pun bangun sambil merapikan celanaku, tapi sebelum
aku berjalan kaki ku ditahan oleh
tangannya retno, sambil tangan
kirinya memberi kode untuk kembali
tidur disampingnya.
Aku menggeleng, tapi sambil tersenyum dia tetap memberi kode,
dan aku pun seperti tersihir lalu aku
tidur disampingnya kembali. Kami tetap diam untuk beberapa
saat.. sampai dia akhirnya berbisik
kepadaku dengan bahasa bekasi
karena dia tahu aku ngga bisa
bahasa jawa, "Mas,.. akhirnya aku
kesampean juga bisa pegang tititnya mas". "Lo, kok kamu ngomong gitu,
sih", jawabku. "Entar aja aku
ceritain, sekarang elus-elus lagi
punyaku kayak tadi", jawabnya.
Bagai disamber geledek di tengah
malam, antara seang, kaget, gembira bercampu jadi satu, kuturuti
kemauan dia. Tanpa di suruh dua
kali aku langsung mengelus-elus
vagina retno, dan dia sepertinya
mendesis keenakan. Aku ngga
peduli kenapa dia mau seperti, yang penting aku juga sudah terangsang
berat. "Ehmm..eesstt.. eennaakk
mas..uuhh"..
"Hei..pelan-pelan, jangan berisik..",
jariku makin liar menggosok
vaginanya yang makin lama makin
membanjir. Tangannya pun mulai meremas dadanya sendiri. Semua
kami lakukan dengan sangat hati-
hati takut membangunkan yang
lainnya.
"Mmmass.. yang cepet dong.. Eesstt..
eesstt.. aahh..". "Gila nih anak.. kecil-kecil udah
pinter yang beginian, belajar
darimana nih anak yak?", pikirku
dalam hati.
Tak lama kemudian, setelah sekian
lama aku menggosok vaginanya yang membuat tanganku pegal, dia
merapatkan kedua pahanya..
"Ret.. tanganku jangan dijepit
dong..", kataku pelan.
"Aakkuu mauu naympee, mass",
katanya "Nyampe kemana.. ret, ngaco kamu"
"Ohh..sstt.." sseerr..sseerr..
kurasakan jariku sepertinya ada
cairan yang keluar lumayan banyak
dari vaginanya.
"Kamu ngompol ya..?", kataku "Bbb bukann Mass, ituu namanya
cairan kenikmatan", jawabnya
"Ahh.. Eesstt", erangnya. Kembali aku dibuatnya berpikir,
kenapa nih anak.. Aku masih
bingung..
Lalu kedua pahanya mulai
mengendur dan perlahan membuka..
Tercium aroma yang aneh di udara kamar.. " Bau apa nih, ret..",
tanyaku. "Itu namanya aroma
punyaku", jawabnya. Aneh..??!!
Tak lama setelah dia orgasme (yang
aku baru tahu setelah aku SMP),
jariku di lapnya dengan menggunakan CDnya. Kami terdiam
beberapa saat, sampai kemudian dia
kembali memegang tititku yang
sudah lemas, entah kapan aku juga
tidak merasakan kapan tititku ini
mengkerut. "Mas, kok tititnya lemes sih"
"Mana aku tahu.."
"Ya udah sini retno bangunin lagi"
"Emangnya kamu bisa"
"Sini.. serahkan padaku"
Leherku dielus-elus dengan tangannya yang lembut, dicium,
dijilat, yang membuatku merasakan
sensasi yang aneh, asing tapi kok
enak dan nikmat, sepertinya aku tak
mau dia berhenti melakukannya.
Tindakannya itu ternyata membuat tititku kembali menegang, dan
rupanya dia juga sudah
mengetahuinya dengan memegang
tititku.
"Tuh.. kan dah bangun lagi"
"Trus aku mau diapain, sih" "Pokoknya Mas tenang aja, dijamin
enak deh"
"Terserah koe lah..", jawabku. Lalu dia membuka resleting celana ku
dan mengeluarkan tititku yang
sudah menegang dengan hebat.
"Ih.. lucu juga yah.. titit anak cowok
kalo belum di sunat". "Cerewet
luh..", kataku agak kesal karena dari tadi dia selalu menjatuhkan ku terus.
"Jangan marah dong, Mas". "Nih
kalo diginiin enak ngga?".
Tangannya yang mungil mengocok-
ocok tititku, sambil membuka kulup
(kulit atas) bagian ujung tititku, sehingga terlihat seperti topeng
Ksatria Baja Hitam kalo dibalik,
apalsgi kalo dikasih 2 mata pake
spidol, persis banget..!! (kata teman-
teman sebayaku yang sudah disunat
sewaktu kami mandi di kali, dan saling memperhatikan tititnya
masing-masing). "Ret.. eennaee rekk..".
"Hmm sstt..ohh.."
Tidak lama dia bangun dan
kepalanya sudah berada diatas
perutku, "Mau ngapain kamu ret.."
"Nikmatin aja yah Mas..". Gila dia mengulum tititku, sampai aku
blingsatan keenakkan.
"Cah.. gemblung koe..", kataku
pelan..
"Men.., sing penting ayu, akeh sing
naksir karo aku, wee..", katanya.. Sialan juga nih bocah..
"Ohh.ret .. eennakk.. "
Sepertinya dia makin cepat
mengulum penisku, sangat cepat,
hingga aku merasakan sensasi yang
sangat luar biasa yang baru pertama kali kurasakan seumur hidupku.
Perasaan apa nih.. Dan sepertinya
juga aku pingin pipis.
"Ret.. Aku pengin pipis nih".
Tapi dia cuek aja, sambil terus
mengulum penisku, kulihat bibirnya yang mungil naik turun
memasukkan dan mengeluarkan
tititku.
"Akhh..Eeuuhh.. ", croott..crroot..
mau ngga mau aku akhirnya pipis
juga.. tapi kok pipis rasanya lain, sangat nikmat. Dia terus mengisap
sampai habis air mani ku habis..
(semua ku tahu sampai detail setelah
aku menginjak SMP).
Aku lemas dan tak berdaya,
langsung saja aku terlentang, sementara retno sepertinya pergi
keluar kamar.
"Enak ya, Mas..", katanya manja,
setelah dia kembali ke kamar..
"Dari mana kamu, Ret?"
"Dari kamar mandi, buang mani, Mas".
"Mani? apaan tuh?"
"Ih.. Mas.. kok ngga tau sih.."
"Ya udah kita tidur lagi besok kan
Mas mau disunat entar banyak
darahnya lo kalo kurang tidur". Dia pun mencium pipiku, aku pun
merespon tindakan dia dengan
mencium pipinya juga.
Aku pun bangkit, dan memakai
celanaku.. kulihat tititku masih ada
beberapa cairan yang saat itu aku ngga paham cairan apa itu.
"Ret,.. kapan kau mau ceritain semua
ini", tanyaku.
"Entar.. aja.. masih banyak waktu..
Aku libur sekolah hampir 1,5 bulan,
entar aja kalo Mas udah di sunat, nanti aku ceritain semuanya",
jawabnya.
"Yo..wis..karep mu lah..", "met bobo
yak..
"Met bobo juga Mas".. Tanpa sadar kulirik jam sudah jam
03.00, berarti lama juga aku
bercumbu sama retno.. aku harus
tidur supaya besok pagi aku ngga
cape dan ngantuk.
Aku pun ke kamar mandi untuk pipis dan pada saat pipis aku
merasakan hal yang biasa saja, aku
semakin bingung kenapa tadi pada
saat aku pipis di mulut retno kok aku
ngerasa enak dan nikmat, tapi kok
sekarang biasa saja. Ah .. bodo amet.. Aku pun kembali ke kamar
dan terlelap.. Hingga besok pesta sunatanku
meriah sekali, aku berangkat ke
mantri sekitar jam 06.00, dimana aku
masih sangat terlihat sangat ngantuk,
aku sempat di marahin sama ibu
karena aku kurang istirahat, beruntung semua ngga ada yang
tahu, kecuali kami berdua. Ternyata or-tu ku mengundang
banyak orang untuk hadir dalam
pesta sunatanku. Banyak teman-
temanku yang hadir, bahkan ada
juga teman cewek yang nekat ingin
ngeliat tititku yang udah disunat. Tapi ketika kulirik retno yang
memang dari aku datang dari mantri
dia selalu menemaniku, terlihat
sangat tidak suka terhadap teman
cewekku, sambil mempelototi cewek
itu. Yah udah teman cewek ku tidak jadi ngeliat, ada satpamnya sih.
Hehehehe.. Hingga aku sembuh retno masih
menginap dirumahku padahal or-
tunya sudah pulang ke jawa,
katanya masih betah main sama
adikku, padahal dia kurang begitu
akrab sama adikku hanya sebatas main bekel, boneka, congklak,
masak-masakan, dll. Ternyata setelah waktu pas dia
menceritakan kepadaku kalau dulu
dia di kampung nya di ajarin oleh
teman cowoknya yang katanya
naksir sama dia, anak SMP kelas 2.
Gila yak tuh cowok.. sepupu gua di mainin.. katanya dulu dia ajak main
dokter-dokteran, trus sampai begini
deh.. Untung aja retno kaga
kecewa, karena setelah itu aku
bertekad untuk melindungi retno
dan sampai sekarangpun aku masih menjalin hubungan yang makin
hangat, walaupun aku sempat
berpikir untuk bersenggama
dengannya, aku takut karena dia
masih sepupuku, kami berkomitmen
hanya sebatas petting saja, dan jangan lebih. Ok.. rumahseks readers, masih
banyak petualangan bercintaku
dengan retno sepupuku, kayaknya
episode selanjutnya aku dan retno
bersex ria ketika aku SMA kelas 1.
Pada saat aku liburan sekolah. Tunggu aja episode selanjutnya.
Kritik dan saran sangat membantu,
bagiku yang masih terbilang sangat
awam dalam hal mengarang, karena
dari dulu pelajaran bahasa
indonesiaku dalam mengarang selalu standar, tidak pernah menakjubkan,
hanya saja yang eksak seperti IPA,
Matematika dan Or-kes aku selalu
terlihat menonjol dibandingkan
dengan teman-temanku yang lain.. NB: oh ya.. si retno nih punya lagu
favorit, tahu lagu "Nenek moyangku
Seorang Pelaut", mungkin bagi yang
pernah ngalamin SD, tahu lagu ini,
seperti ini, "KAKEK MOYANGKU
SEORANG PELAUT, PUNYA SENJATA DI BAWAH PERUT, BISA
MENGEMBANG, BISA MENGKERUT,
SEKALI TEMBAK, CRUUT, PERUT
CEWEK GENDUT", coba readers
nyanyiin lagu ini deh, pasti akan
tertawa.. bagi yang tahu dan kenal syair ini mungkin ada hubungannya
sama aku atau retno..(dah..). Tamat
umur 25 tahun, bekerja pada suatu
perusahaan Jepang di bekasi sebagai
EDP. Cerita ini bermula waktu aku masih
SD kelas 5 dan mulai mengenal yang
namanya seks. Itu juga pertama kali
dengan adik sepupuku yang
lumayan cakep lah.., ingat aktris
sinetron "Dominique Sandra", seperti dia cantiknya.
Dia anak pakde ku yang tinggal di
Jawa Tengah namanya .. Retno .. (8
tahun). (Sengaja aku kosongkan
nama pertama dan terakhir, takut
ketahuan kakak sepupuku yang lain. Hehehe..). Sedangkan aku
tinggal di daerah Bekasi.
Waktu itu aku masih SD kelas 5 dan
aku minta di sunat seperti kawan-
kawan yang lain. Karena ku pikir
udah saatnya aku disunat. Biasanya seminggu sebelum disunat
banyak keluarga dari bapak dan
ibuku datang dan menginap juga
sekalian membantu masak-
masaknya. Nah, dari situlah aku
mulai mengenal sepupuku. Pertama aku biasa saja karena kupikir dia
masih sepupuku. Tapi kok kayaknya
di semakin genit dan centil di
depanku, tidak seperti sepupu
cewek yang lain, ("yang katanya
aku ganteng dan gagah dibandingkan cowok yang lain,
katanya setelah aku "berhubungan"
dengan dia"). Aku sih biasa saja,
karena aku belum paham betul.
Nah.. Puncaknya terjadi ketika malam
sebelum aku disunat. Setelah semua
orang tidur terlelap di rumahku, ada
juga sih yang main kartu remi dan
gaple, di luaran sambil begadangan
dan ronda, yang padahal waktu itu juga aku pengen ikut begadang, tapi
diomelin sama semua katanya,
disuruh banyak istirahat supaya
pada waktu di sunat tidak terlalu
banyak mengeluarkan darah. Aku
terjaga (mendusin) sekitar jam 01.00 malam karena ingin pipis. Setelah
pipis aku melewati kamar dimana
retno serta beberapa sepupu cewek
yang lain termasuk adikku sendiri
tidur. Aku iseng ngeliat karena kebetulan
lampunya mati maka aku jadi bebas.
Aku juga ngga tahu tiba-tiba saja
seperti ada yang menyuruhku untuk
masuk ke dalam kamar itu. Lalu aku
masuk dan kulihat retno tidur dibawah bersama adikku dan
sepupu cewek lainnya
menggunakan tikar, dia tidur
dengan posisi yang agak
menggairahkan dimana waktu itu dia
memakai rok sedangkan kaki kanannya diangkat keatas sehingga
terpampanglah paha mulus seorang
anak kecil. Walaupun lampu mati tapi
aku masih dengan jelas melihat paha
dan CD-nya (walaupun remang-
remang), karena masih ada lampu dapur yang nyala terang. Lalu aku
lihat semua orang yang ada dikamar.
Ah.. udah tidur semua.. iseng aku
tidur dismping dia, karena kebetulan
disamping kanannya kosong.. Sialan
dia menurunkan kaki kanannya sehingga pahanya tertutup semua. Sengaja aku tidak tidur karena diam-
diam aku menarik rok nya sampai
kedua pahanya yang mulus terlihat.
Dan juga CD yang agak
menggembung sedikit, walaupun
belum ditumbuhi bulu. Tiba-tiba aku ngerasa ada perasaan aneh, dimana
titit ku agak membesar, biasanya ini
terjadi kalau aku bangun tidur dan
langsung kencing, tapi ini lain. Ketika
ku pegang, kok makin enak..
karena dari kecil aku termasuk anak yang cerdas dan cepat tanggap,
maka dalam hal ini walaupun masih
bingung kenapa, aku pun sudah
bisa mencerna apa yang terjadi saat
itu.
Lalu akupun bangun dan duduk didepan pahanya, dan terlihatlah
sebuah CD putih dengan agak
sedikit menggembung bagian
tengahnya, walaupun belum ada
bulunya. Dan juga dadanya yang
sedikit menonjol menendakan bahwa dia agak bongsor. Nekat kudekati
Cdnya, dan ku cium. Ah.. biasa saja.
Tititku semakin tegang, dan ku
sentuh di bagian tengah Cdnya,
hangat.. lalu perlahan kuturunkan
Cdnya, pelan dan sangat hati-hati takut dia terbangun. 1 centi.. lalu
aku pura-pura tidur lagi.. melihat
tidak ada reaksi kuturunkan lagi..
Lagi.. Dan lagi.. sampai mata kaki. Dan.. saat itu pula dia bergerak.. aku
gemetar, jantungku berdetak
kencang sekali.. takut kalo dia
bangun, teriak dan mengadukan hal
ini pada semuanya. Tapi anehnya.
Dia cuma menggeliat dan menaikkan kaki kanannya kembali tapi tidak
penuh karena kaki kanan dan kiri
terikat oleh Cdnya yang masih
melingkar di mata kakinya. Melihat
itu, aku segera melepas Cdnya dan
berhasil..coy.. Kini didepanku terpampang sebuah pemandangan
indah walaupun itu hanya vagina
anak kecil tapi untuk seumuranku
waktu itu membuat titikku semakin
mengencang dan aku pun
mengambil kesimpulan bahwa ini toh yang namanya terangsang, seperti
yang aku baca di majalah-majalah
Kartini, Femina, dll kepunyaan
ibuku. Aku makin nekat dengan
menciumi vaginanya yang mungil..
Ah..masih biasa juga.. tidak ada bau apa-apa. Tapi setelah dipikir-pikir..
nih enaknya pake senter, ya udah
aku ambil senter di kamarku, senter
kecil buatan bokap untuk aku, yang
baterry nya cuma satu. Dan jaman Sekarang pun aku punya
tapi beli harganya +- Rp. 10000,
merknya Energizer, udah ada yang
jual dimana-mana. Terkadang kalo
lagi bengong sambil ngeliatin senter
kecilku, aku jadi tersenyum sendiri. Setelah senternya kudapat, aku
dekati dia lagi.. Masih dalam posisi
yang sama. Kutunggu sebentar
sampai semua terlihat aman. Lalu aku
tiduran di sampingnya.. Kuamati
wajahnya yang mungil.. busyet dah ternyata gua punya sepupu cantik
buangeet.. Walaupun masih SD tapi
tanda-tanda kecantikannya sudah
terlihat. Mungkin karena udah
keturunan kali ye.. He he he.. Ge eR
dah Gua.. Wah kayaknya udah lelap banget
nih retno, karena hanya terdengar
nafasnya yang teratur dan lembut..
sialan bikin aku makin bernafsu aja.. Aku bangkit dan langsung
kunyalakan senter, beruntung
karena lampunya kecil jadi hanya
diameter 3 centi saja, sinarnya.
Lumayanlah untuk menerangi
vaginanya retno.. eh.. dia bergerak dan melebarkan kedua pahanya,
pucuk di cinta ulam tiba. Terlihat
dengan jelas di kedua mataku,
vaginanya yang masih merah dan
ranum. Nekat kupegang dengan
tangan kanan sedangkan kiri masih memegang senter. Kering..?? Aku
colek terus aja.. eh.. terdengar
nafasnya yang mulai tidak teratur..
Tapi kok mulai basah?? wah jangan-
jangan dia ngompol nih.. tapi pas
aku cium tanganku, ah.. bukan air kencing nih..air apa yak?? terus ku
elus-elus vaginanya, lalu tanpa sadar
aku langsung mencium dan
menjilatnya.. Mmpphh..asin.. sial..
kok rasanya kayak gini sih?? ah..
peduli amat aku udah terlanjur terangsang. Kudengar nafasnya mulai tidak
beraturan tapi tidak berisik.. (unik
kan). Lalu ku buka celana ku,
karena aku masih kecil jadi belum
pakai CD. Aku ngeliat tititku makin
tegang dengan ujungnya yang masih tertutup oleh kulup. Dan
sedikit keluar lendir.. aku makin
heran lendir apaan nih..ku jilat.. kok
asin juga sih.. Ku coba mencerna
semua ini, tapi karena otak normal
ku udah ditutupi oleh nafsu aku jadi tidak bisa berpikir secara teoritis.
Yang ada saat itu hanya perasaan
nikmat dan juga nafsu yang
menggebu-gebu. Setelah puas
menjilati vagina retno, yang
sepertinya dia menikmati permainanku ini, aku lalu
menurunkan kedua kakinya sampai
lurus.
Lalu aku mulai merangkak di atas
tubuh nya tanpa menyentuh
tubuhnya sama sekali. Setelah posisiku pas, aku turunkan
tititku sehingga mendekati
vaginanya. Kucoba masukkin, kok
ngga mau masuk.. terus ku coba..
lagi..lagi.. ah capek.. susah juga,
pikirku. Yah udah aku tiduran lagi disampingnya.. ah mendingan juga
megangin vaginanya.. lagi asyik
berfikir untuk melanjutkan aksiku,
tiba-tiba dia menggeliat dan posisi
tubuhnya miring menghadap diriku
yang waktu itu aku juga sedang asyik menikmati wajahnya yang ayu.
Di tambah lagi dengan kaki kirinya
ditekuk ke atas sehingga sepertinya
dia sudah pasrah untuk di setubuhi.
Aku bingung.. Ku pegang lagi
vaginanya.. wah kok tambah basah.. jangan-jangan dia tahu dan
terangsang.. atau sedang mimpi
sambil ikuta terangsang.. wajahku
dengan wajahnya hanya berjarak 10
centi saja. Sehingga nafasnya yang
berat dan menggebu terdengar sangat jelas. Aku berusaha bernafas
dengan pelan supaya dia tidak
terbangun dan kaget. Tapi tiba-tiba tanpa kuduga dia
tersenyum dan tangannya bergerak
memegang tititku, Oouuppss.. ada
apa nih.. aku kaget setengah mati..
ah mungkin nih anak ngga sadar kali
yak.. Tapi setelah kuperhatikan mukanya, dia masih sambil
tersenyum dan mulai membuka
kedua matanya pelan-pelan. Aku
makin kaget dan takut, kalau itu
cuma tipuan dia setelah itu dia
teriak.. lalu aku pun bangun sambil merapikan celanaku, tapi sebelum
aku berjalan kaki ku ditahan oleh
tangannya retno, sambil tangan
kirinya memberi kode untuk kembali
tidur disampingnya.
Aku menggeleng, tapi sambil tersenyum dia tetap memberi kode,
dan aku pun seperti tersihir lalu aku
tidur disampingnya kembali. Kami tetap diam untuk beberapa
saat.. sampai dia akhirnya berbisik
kepadaku dengan bahasa bekasi
karena dia tahu aku ngga bisa
bahasa jawa, "Mas,.. akhirnya aku
kesampean juga bisa pegang tititnya mas". "Lo, kok kamu ngomong gitu,
sih", jawabku. "Entar aja aku
ceritain, sekarang elus-elus lagi
punyaku kayak tadi", jawabnya.
Bagai disamber geledek di tengah
malam, antara seang, kaget, gembira bercampu jadi satu, kuturuti
kemauan dia. Tanpa di suruh dua
kali aku langsung mengelus-elus
vagina retno, dan dia sepertinya
mendesis keenakan. Aku ngga
peduli kenapa dia mau seperti, yang penting aku juga sudah terangsang
berat. "Ehmm..eesstt.. eennaakk
mas..uuhh"..
"Hei..pelan-pelan, jangan berisik..",
jariku makin liar menggosok
vaginanya yang makin lama makin
membanjir. Tangannya pun mulai meremas dadanya sendiri. Semua
kami lakukan dengan sangat hati-
hati takut membangunkan yang
lainnya.
"Mmmass.. yang cepet dong.. Eesstt..
eesstt.. aahh..". "Gila nih anak.. kecil-kecil udah
pinter yang beginian, belajar
darimana nih anak yak?", pikirku
dalam hati.
Tak lama kemudian, setelah sekian
lama aku menggosok vaginanya yang membuat tanganku pegal, dia
merapatkan kedua pahanya..
"Ret.. tanganku jangan dijepit
dong..", kataku pelan.
"Aakkuu mauu naympee, mass",
katanya "Nyampe kemana.. ret, ngaco kamu"
"Ohh..sstt.." sseerr..sseerr..
kurasakan jariku sepertinya ada
cairan yang keluar lumayan banyak
dari vaginanya.
"Kamu ngompol ya..?", kataku "Bbb bukann Mass, ituu namanya
cairan kenikmatan", jawabnya
"Ahh.. Eesstt", erangnya. Kembali aku dibuatnya berpikir,
kenapa nih anak.. Aku masih
bingung..
Lalu kedua pahanya mulai
mengendur dan perlahan membuka..
Tercium aroma yang aneh di udara kamar.. " Bau apa nih, ret..",
tanyaku. "Itu namanya aroma
punyaku", jawabnya. Aneh..??!!
Tak lama setelah dia orgasme (yang
aku baru tahu setelah aku SMP),
jariku di lapnya dengan menggunakan CDnya. Kami terdiam
beberapa saat, sampai kemudian dia
kembali memegang tititku yang
sudah lemas, entah kapan aku juga
tidak merasakan kapan tititku ini
mengkerut. "Mas, kok tititnya lemes sih"
"Mana aku tahu.."
"Ya udah sini retno bangunin lagi"
"Emangnya kamu bisa"
"Sini.. serahkan padaku"
Leherku dielus-elus dengan tangannya yang lembut, dicium,
dijilat, yang membuatku merasakan
sensasi yang aneh, asing tapi kok
enak dan nikmat, sepertinya aku tak
mau dia berhenti melakukannya.
Tindakannya itu ternyata membuat tititku kembali menegang, dan
rupanya dia juga sudah
mengetahuinya dengan memegang
tititku.
"Tuh.. kan dah bangun lagi"
"Trus aku mau diapain, sih" "Pokoknya Mas tenang aja, dijamin
enak deh"
"Terserah koe lah..", jawabku. Lalu dia membuka resleting celana ku
dan mengeluarkan tititku yang
sudah menegang dengan hebat.
"Ih.. lucu juga yah.. titit anak cowok
kalo belum di sunat". "Cerewet
luh..", kataku agak kesal karena dari tadi dia selalu menjatuhkan ku terus.
"Jangan marah dong, Mas". "Nih
kalo diginiin enak ngga?".
Tangannya yang mungil mengocok-
ocok tititku, sambil membuka kulup
(kulit atas) bagian ujung tititku, sehingga terlihat seperti topeng
Ksatria Baja Hitam kalo dibalik,
apalsgi kalo dikasih 2 mata pake
spidol, persis banget..!! (kata teman-
teman sebayaku yang sudah disunat
sewaktu kami mandi di kali, dan saling memperhatikan tititnya
masing-masing). "Ret.. eennaee rekk..".
"Hmm sstt..ohh.."
Tidak lama dia bangun dan
kepalanya sudah berada diatas
perutku, "Mau ngapain kamu ret.."
"Nikmatin aja yah Mas..". Gila dia mengulum tititku, sampai aku
blingsatan keenakkan.
"Cah.. gemblung koe..", kataku
pelan..
"Men.., sing penting ayu, akeh sing
naksir karo aku, wee..", katanya.. Sialan juga nih bocah..
"Ohh.ret .. eennakk.. "
Sepertinya dia makin cepat
mengulum penisku, sangat cepat,
hingga aku merasakan sensasi yang
sangat luar biasa yang baru pertama kali kurasakan seumur hidupku.
Perasaan apa nih.. Dan sepertinya
juga aku pingin pipis.
"Ret.. Aku pengin pipis nih".
Tapi dia cuek aja, sambil terus
mengulum penisku, kulihat bibirnya yang mungil naik turun
memasukkan dan mengeluarkan
tititku.
"Akhh..Eeuuhh.. ", croott..crroot..
mau ngga mau aku akhirnya pipis
juga.. tapi kok pipis rasanya lain, sangat nikmat. Dia terus mengisap
sampai habis air mani ku habis..
(semua ku tahu sampai detail setelah
aku menginjak SMP).
Aku lemas dan tak berdaya,
langsung saja aku terlentang, sementara retno sepertinya pergi
keluar kamar.
"Enak ya, Mas..", katanya manja,
setelah dia kembali ke kamar..
"Dari mana kamu, Ret?"
"Dari kamar mandi, buang mani, Mas".
"Mani? apaan tuh?"
"Ih.. Mas.. kok ngga tau sih.."
"Ya udah kita tidur lagi besok kan
Mas mau disunat entar banyak
darahnya lo kalo kurang tidur". Dia pun mencium pipiku, aku pun
merespon tindakan dia dengan
mencium pipinya juga.
Aku pun bangkit, dan memakai
celanaku.. kulihat tititku masih ada
beberapa cairan yang saat itu aku ngga paham cairan apa itu.
"Ret,.. kapan kau mau ceritain semua
ini", tanyaku.
"Entar.. aja.. masih banyak waktu..
Aku libur sekolah hampir 1,5 bulan,
entar aja kalo Mas udah di sunat, nanti aku ceritain semuanya",
jawabnya.
"Yo..wis..karep mu lah..", "met bobo
yak..
"Met bobo juga Mas".. Tanpa sadar kulirik jam sudah jam
03.00, berarti lama juga aku
bercumbu sama retno.. aku harus
tidur supaya besok pagi aku ngga
cape dan ngantuk.
Aku pun ke kamar mandi untuk pipis dan pada saat pipis aku
merasakan hal yang biasa saja, aku
semakin bingung kenapa tadi pada
saat aku pipis di mulut retno kok aku
ngerasa enak dan nikmat, tapi kok
sekarang biasa saja. Ah .. bodo amet.. Aku pun kembali ke kamar
dan terlelap.. Hingga besok pesta sunatanku
meriah sekali, aku berangkat ke
mantri sekitar jam 06.00, dimana aku
masih sangat terlihat sangat ngantuk,
aku sempat di marahin sama ibu
karena aku kurang istirahat, beruntung semua ngga ada yang
tahu, kecuali kami berdua. Ternyata or-tu ku mengundang
banyak orang untuk hadir dalam
pesta sunatanku. Banyak teman-
temanku yang hadir, bahkan ada
juga teman cewek yang nekat ingin
ngeliat tititku yang udah disunat. Tapi ketika kulirik retno yang
memang dari aku datang dari mantri
dia selalu menemaniku, terlihat
sangat tidak suka terhadap teman
cewekku, sambil mempelototi cewek
itu. Yah udah teman cewek ku tidak jadi ngeliat, ada satpamnya sih.
Hehehehe.. Hingga aku sembuh retno masih
menginap dirumahku padahal or-
tunya sudah pulang ke jawa,
katanya masih betah main sama
adikku, padahal dia kurang begitu
akrab sama adikku hanya sebatas main bekel, boneka, congklak,
masak-masakan, dll. Ternyata setelah waktu pas dia
menceritakan kepadaku kalau dulu
dia di kampung nya di ajarin oleh
teman cowoknya yang katanya
naksir sama dia, anak SMP kelas 2.
Gila yak tuh cowok.. sepupu gua di mainin.. katanya dulu dia ajak main
dokter-dokteran, trus sampai begini
deh.. Untung aja retno kaga
kecewa, karena setelah itu aku
bertekad untuk melindungi retno
dan sampai sekarangpun aku masih menjalin hubungan yang makin
hangat, walaupun aku sempat
berpikir untuk bersenggama
dengannya, aku takut karena dia
masih sepupuku, kami berkomitmen
hanya sebatas petting saja, dan jangan lebih. Ok.. rumahseks readers, masih
banyak petualangan bercintaku
dengan retno sepupuku, kayaknya
episode selanjutnya aku dan retno
bersex ria ketika aku SMA kelas 1.
Pada saat aku liburan sekolah. Tunggu aja episode selanjutnya.
Kritik dan saran sangat membantu,
bagiku yang masih terbilang sangat
awam dalam hal mengarang, karena
dari dulu pelajaran bahasa
indonesiaku dalam mengarang selalu standar, tidak pernah menakjubkan,
hanya saja yang eksak seperti IPA,
Matematika dan Or-kes aku selalu
terlihat menonjol dibandingkan
dengan teman-temanku yang lain.. NB: oh ya.. si retno nih punya lagu
favorit, tahu lagu "Nenek moyangku
Seorang Pelaut", mungkin bagi yang
pernah ngalamin SD, tahu lagu ini,
seperti ini, "KAKEK MOYANGKU
SEORANG PELAUT, PUNYA SENJATA DI BAWAH PERUT, BISA
MENGEMBANG, BISA MENGKERUT,
SEKALI TEMBAK, CRUUT, PERUT
CEWEK GENDUT", coba readers
nyanyiin lagu ini deh, pasti akan
tertawa.. bagi yang tahu dan kenal syair ini mungkin ada hubungannya
sama aku atau retno..(dah..). Tamat
Selasa, 05 April 2011
oh mama oh adikq
Membaca cerita-cerita di
rumahseks.blogspot.com ini
mengingatkan diriku pada 19 tahun
yang lalu saat pertama kalinya aku
merasakan nikmatnya seks. Saat itu
usiaku 11 tahun dan masih duduk di kelas 6 SD. Dan orang-orang
pertama yang menjadi pemuas
nafsuku adalah Mama dan adikku
sendiri. Sudah sejak berumur 7 atau 8 tahun
aku mempunyai keingintahuan dan
hasrat yang kuat akan seks. Secara
sembunyi-sembunyi aku sering
membaca majalah dewasa milik
orang tuaku. Biasanya hal itu kulakukan saat sebelum berangkat
sekolah dan orang tuaku tidak di
rumah. Saat membaca majalah
tersebut aku juga beronani untuk
memuaskan hasratku. Pada saat usiaku 10 tahun, hasratku
akan pemuasan seks semakin besar,
maklum saat itu adalah masa puber.
Frekuensiku melakukan onani juga
semakin sering, dalam sehari bisa
sampai 4 kali. Dan setiap hari minimal 1 kali pasti aku lakukan. Pada suatu sore ketika aku duduk di
kelas 6 SD, saat itu tidak ada seorang
pun di rumah. Papa sedang bertugas
keluar kota, sedangkan Mama dan
adikku sedang mengikuti suatu
kegiatan sejak pagi. Aku gunakan kesempatan tersebut untuk
menonton blue film milik orang
tuaku. Sejak pagi sudah 3 film aku
putar dan sudah 4 kali aku
melakukan onani. Namun hasratku
masih juga begitu besar. Ada adegan yang sangat aku sukai
dan aku sering berkhayal bahwa
aku menjadi pemeran pria dalam film
itu. Adegan itu adalah saat seorang
pria sedang berbaring sementara
wanita pertama duduk di atas penis sang pria sambil menggoyangkan
pinggulnya dan wanita kedua duduk
tepat di atas mukanya sementara
sang pria dengan lahapnya menjilati
vagina wanita kedua tersebut. Aku segera menurunkan celanaku
bersiap melakukan onani sambil
menyaksikan adegan favoritku. Di
tengah-tengah kegiatanku dan film
sedang hot-hotnya, tiba-tiba
terdengar suara pintu pagar dibuka. Saat itu menunjukkan pukul 20.00,
ternyata Mama dan adikku sudah
pulang. Segera aku kenakan
celanaku kembali dan mengeluarkan
video dari playernya kemudian
meletakkannya kembali di tempatnya. Lalu baru aku
membukakan pintu untuk mereka. "Eh Wan, tolong bantu masukkan
barang-barang dong", Mama
memintaku membantunya membawa
barang-barang.
"Iya Ma. Shin, di sana ngapain aja?
Koq sepertinya capek banget sih?", aku menyapa adikku Shinta.
"Wah, banyak. Pagi setelah aerobik
terus jalan lintas alam. Sampai di atas
udah siang. Terus sorenya baru
turun. Pokoknya capek deh.",
Shinta menjelaskannya dengan bersemangat. Setelah itu mereka mandi dan makan
malam. Sementara aku duduk di
ruang keluarga sambil menonton
acara TV. Setelah mereka selesai
makan malam, adikku langsung
menuju ke kamarnya di atas. Mama ikut bergabung denganku
menonton TV. "Wan, ada acara bagus apa aja?",
Mama bertanya padaku.
"Cuma ini yang mendingan, yang
lainnya jelek", aku memberi tahu
bahwa hanya acara yang sedang
kutonton yang cukup bagus. Saat itu acaranya adalah film action.
Setelah itu ada pembicaraan kecil
antara aku dan Mama. Karena lelah,
Mama menonton sambil tiduran di
atas karpet. Tidak lama sesudah itu
Mama rupanya terlelap. Aku tetap menonton. Pada suatu saat, dalam
film tersebut ada jalan cerita dimana
teman wanita sang jagoan
tertangkap dan diperkosa oleh boss
penjahat. Spontan saja penisku
mengembang. Aku tetap meneruskan menonton. Ketika film sedang seru-serunya,
tanpa sengaja aku menatap Mama
yang sedang tertidur dengan posisi
telentang dan kaki yang terbentang.
Baju tidurnya (daster) tersingkap,
sehingga sedikit celana dalamnya terlihat. Tubuhku langsung bergetar
karena nafsuku yang tiba-tiba
meledak. Tidak pernah terpikir
olehku melakukan persetubuhan
dengan Mamaku sendiri. Tapi
pemandangan ini sungguh menggiurkan. Pada usia 29 tahun,
Mama masih terlihat sangat menarik.
Dengan kulit kuning, tinggi badan
161 cm, berat badan 60 kg, buah
dada 36B ditambah bentuk
pinggulnya yang aduhai, ternyata selama ini aku tidak menyadari
bahwa sebenarnya Mama sangat
menggairahkan. Selama ini aku benar-benar tidak
pernah punya pikiran aneh terhadap
Mama. Sekarang sepertinya baru
aku tersadar. Nafsu mendorongku
untuk menjamah Mama, namun
sejenak aku ragu. Bagaimana kalau sampai Mama terbangun. Namun
dorongan nafsu memaksaku.
Akhirnya aku memberanikan diri
setelah sebelumnya aku mengecilkan
volume TV agar tidak
membangunkan Mama. Aku bergerak mendekati Mama dan
mengambil posisi dari arah kaki
kanannya. Untuk memastikan agar
Mama tidak sampai terbangun,
kugerak-gerakkan tangan Mama
dan ternyata memang tidak ada reaksi. Rupanya karena lelah seharian, ia
jadi tertidur dengan sangat lelap.
Dasternya yang tersingkap, kucoba
singkap lebih tinggi lagi sampai perut
dan tidak ada kesulitan. Tapi itu
belum cukup, aku singkap dasternya lebih tinggi lagi dengan terlebih
dahulu aku pindahkan posisi kedua
tangannya ke atas. Sekarang kedua
buah dadanya dapat terlihat dengan
jelas, karena ternyata Mama tidak
mengenakan bra. Langsung aku sentuh buah dada kanannya dengan
telapak tangan terbuka dan dengan
perlahan aku remas. Setelah puas
meremasnya, aku hisap bagian
putingnya lalu seluruh bagian buah
dadanya. Tiba-tiba Mama mendesah. Aku
kaget dan merasa takut kalau-kalau
sampai Mama terbangun. Tetapi
setelah kutunggu beberapa saat
tidak ada reaksi lain darinya. Untuk
memastikannya lagi aku meremas buah dada Mama lebih keras dan
tetap tidak ada reaksi. Walau masih
penasaran dengan bagian dadanya,
namun aku takut jika tidak punya
cukup waktu. Sekarang sasaran aku
arahkan ke vaginanya. Mama mengenakan CD tipis berwarna
kuning sehingga masih terlihat bulu
kemaluannya. Aku raba dan aku ciumi vagina
Mama, tapi aku tidak puas karena
masih terhalang CD-nya. Jadi
kuputuskan untuk menurunkan CD-
nya sampai seluruh vaginanya
terlihat. Namun hal itu tidak dapat kulakukan karena posisi kakinya
yang terbentang menyulitkanku
untuk menurunkannya. Jadi
terpaksa aku rapatkan kakinya
sehingga aku bisa menurunkan CD-
nya sampai lutut. Tapi akibatnya aku jadi tidak bisa mengeksplorasi vagina
Mama dengan leluasa karena
kakinya kini merapat. Apakah aku
harus melepas semuanya? Tentu
akan lebih leluasa, tapi jika Mama
sampai terbangun akan berbahaya karena aku tidak akan bisa dengan
cepat memakaikannya kembali. Berhubung nafsuku sudah
memburu, maka aku putuskan
untuk melepaskannya semua. Lalu
aku rentangkan kakinya. Sekarang
vagina Mama dapat terlihat dengan
jelas. Tidak tahan lagi, langsung aku cium dan jilati vaginanya. Lebih jauh
lagi, dengan kedua tangan kubuka
bibir-bibir vaginanya dan aku jilati
bagian dalamnya. Aku benar-benar
semakin bernafsu, ingin rasanya aku
telan vagina Mama. Tidak lama setelah aku jilati, vaginanya menjadi
basah. Setelah puas mencium dan
menjilati bagian vaginanya, penisku
sudah tidak tahan untuk dimasukkan
ke dalam vagina Mama. Aku
kemudian berdiri untuk melepas celanaku. Lalu aku duduk lagi di
antara kedua kaki Mama dan aku
bentangkan kakinya lebih lebar. Dengan mengambil posisi duduk dan
kedua kakiku dibentangkan untuk
menahan kedua kaki Mama, aku
arahkan penisku ke lubang
vaginanya. Tangan kananku
membantu membuka lubang vagina Mama sementara aku dorong
penisku perlahan. Aku rasakan
penisku memasuki daerah yang
basah, hangat dan menjepit.
Tubuhku gemetar hebat karena
nafsu yang mendesak. Setelah beberapa saat akhirnya seluruh
penisku sudah berhasil masuk ke
dalam vagina Mama dengan tidak
terlalu sulit, mungkin karena Mama
sudah melahirkan dua orang anak. Mulailah kugoyangkan pinggulku
maju mundur secara perlahan.
Kurasakan kenikmatan dan sensasi
yang luar biasa. Aku memutuskan
untuk memuaskan nafsuku, apa pun
yang terjadi. Semakin lama gerakanku semakin cepat. Dengan
semakin bernafsu, aku peluk tubuh
Mama dan mengulum dadanya,
sementara penisku terus bergerak
cepat menggosok vagina Mama. Aku
sudah tidak peduli lagi apakah Mama akan terbangun atau tidak, biar pun
terbangun aku akan terus
menggoyangnya sampai aku puas. Sungguh nikmat. Bahkan lebih
nikmat daripada fantasiku selama ini.
Setelah aku berjuang keras selama 6
menit, akhirnya aku sudah tidak
tahan lagi hingga aku benamkan
penisku dalam-dalam ke vagina Mama. Aku rasakan spermaku
mengalir bersamaan dengan sensasi
yang luar biasa. Seakan melayang
sampai-sampai terasa sakit kepala.
Aku biarkan penisku beberapa saat
di dalam tubuh Mamaku. Setelah cukup rileks, aku cabut
penisku. Aku puas. Aku tidak
menyesal. Aku kenakan kembali
celanaku. Sebelum aku kenakan
kembali CD-Mama, aku puaskan diri
dengan meremas-remas vagina Mama. Setelah itu aku rapikan
kembali daster Mama. Aku matikan
TV dan naik menuju kamarku di
atas. Aku langsung rebahan di atas
kasurku. Walau aku merasa lelah tapi
aku tidak bisa tidur membayangkan pengalaman ternikmat yang baru
saja aku rasakan. Pengalaman
seorang anak SD yang baru saja
melakukan hubungan seks dengan
Mamanya sendiri. Membayangkan hal tersebut saja
membuat nafsuku bangkit kembali.
Aku berpikir untuk kembali
melakukannya dengan Mama. Aku
berjalan keluar kamar menuju ruang
keluarga. Namun di depan kamar Shinta adikku, entah apa yang
mengubah pikiranku. Aku berpikir,
kalau Mama saja tidur sedemikian
lelapnya maka tentu Shinta juga
demikian. Apalagi selama ini Shinta
kalau sudah tidur sulit sekali untuk dibangunkan. Perlahan aku buka kamarnya dan
aku lihat Shinta tertidur dengan
menggunakan selimut. Aku masuk
ke kamarnya dan aku tutup lagi
pintunya. Seperti yang sudah aku
lakukan dengan Mama, aku juga sudah bertekad akan menyetubuhi
Shinta adikku sendiri. Walaupun ia
bangun aku juga tidak akan peduli. Lalu aku singkap selimutnya dan aku
lepaskan dasternya serta tidak CD-
nya. Sekarang Shinta sudah benar-
benar bugil. Karena Shinta belum
memiliki buah dada, sasaranku
langsung ke vaginanya. Vaginanya sungguh mulus karena belum
ditumbuhi rambut. Aku rentangkan
kakinya lalu aku cium dan jilati
vaginanya. Sekali-kali aku gigit
perlahan. Lalu aku buka lebar-lebar
bibir vaginanya dengan jariku dan kujilati bagian dalamnya. Setelah puas menciumi vaginanya,
aku bersiap untuk menghunjamkan
penisku ke dalam vagina Shinta
yang masih mulus. Aku rentangkan
kakinya dan aku tempatkan
melingkar di pinggangku. Aku ingin mengambil posisi yang
memungkinkanku dapat
menyetubuhi Shinta dengan leluasa. Lalu kuarahkan penisku ke lubang
vaginanya sementara kedua
tanganku membantu membuka bibir
vaginanya. Aku dorong perlahan
namun ternyata tidak semudah aku
melakukannya dengan Mama. Vagina Shinta begitu sempit, karena
ia masih kecil (saat itu ia baru berusia
9 tahun) dan tentu saja masih
perawan. Tapi itu bukan halangan
bagiku. Aku terus mendorong
penisku dan bagian kepala penisku akhirnya berhasil masuk. Namun
untuk lebih jauh sangat sulit. Nafsuku sudah memuncak tapi masih
belum bisa masuk juga hingga
membuatku kesal. Karena aku sudah
bertekad, maka aku paksakan untuk
mendorongnya hingga aku berhasil.
Namun tiba-tiba saja Shinta merintih. Aku diam sejenak dan ternyata
Shinta tidak bereaksi lebih jauh.
Walaupun aku tidak peduli apakah
Shinta akan tahu atau tidak, tetap
saja akan lebih baik kalau Shinta
tidak mengetahuinya. Kemudian aku mulai menggoyang
pinggulku, tetapi gerakanku tidak
bisa selancar saat melakukannya
dengan Mama, karena vagina Mama
basah dan tidak terlalu sempit,
sedangkan milik Shinta kering dan sempit. Aku terus menggesekan
penisku di dalam tubuh Shinta
semakin lama semakin cepat sambil
memeluk tubuhnya. Ada perbedaan
kenikmatan tersendiri antara vagina
Mama dan Shinta. Karena vagina Shinta lebih sempit maka hanya
dalam waktu 3 menit aku sudah
mencapai orgasme. Kubiarkan spermaku mengalir di
dalam vagina Shinta. Aku tidak perlu
khawatir karena aku tahu Shinta
belum bisa hamil. Aku tekan penisku
dalam-dalam dan aku peluk Shinta
dengan erat. Setelah puas aku kenakan lagi pakaian Shinta baru
aku kenakan pakaianku sendiri. Aku
berjingkat kembali ke kamarku dan
tertidur sampai keesokan paginya. Pada pagi harinya aku agak
khawatir jika ketahuan. Tapi sampai
aku berangkat sekolah tidak ada
yang mencurigakan dari sikap Mama
maupun Shinta. Sejak saat itu aku
selalu terbayang kenikmatan yang aku alami pada malam itu. Aku ingin
mengulanginya. Dengan Mama
kemungkinannya bisa dilakukan jika
Papa tidak di rumah. Jadi akan lebih
besar kesempatannya jika
melakukannya dengan Shinta saja. Walaupun pada saat melakukannya,
aku tidak peduli jika diketahui tetapi
tetap akan lebih aman jika mereka
tidak mengetahuinya. Maka hampir
setiap malam, aku selalu bergerilya
ke kamar Shinta. Namun aku hanya berhasil sampai tahap melucuti
pakaiannya. Setiap kali penisku mulai
masuk, Shinta selalu terbangun. Empat bulan sejak pengalaman
pertama, aku belum pernah lagi
melakukan sex. Pada bulan kelima,
aku masuk SMP dan pada pelajaran
biologi aku mengenal suatu bahan
kimia praktikum yang digunakan untuk membius. Saat itu aku
langsung berpikir bahwa aku bisa
menggunakannya bersetubuh
dengan Shinta lagi. Setelah pelajaran biologi, aku
mengambil sebotol obat bius untuk
dibawa ke rumah. Pada malam hari
setelah semuanya tertidur, aku
masuk ke kamar Shinta. Sebuah
sapu tangan yang telah dilumuri obat bius aku tempatkan di hidung
Shinta. Setelah beberapa saat, aku
angkat sapu tangan tersebut dan
mulai melucuti pakaian Shinta. Dan
setelah aku melucuti seluruh
pakaianku, aku naik ke ranjang Shinta dan duduk di antara kedua
kakinya. Aku mengambil posisi favoritku
dengan menempatkan kedua
kakinya melingkari pinggangku.
Aku masukkan penisku ke
vaginanya dengan perlahan sampai
keseluruhan penisku masuk. Goyangan pinggulku mulai
menggoyang tubuh Shinta. Aku
memeluk tubuhnya dengan erat dan
penisku bergerak keluar masuk
dengan cepat. Karena aku yakin
Shinta tidak akan terbangun maka aku bisa mengubah posisi sesukaku.
Seperti sebelumnya, saat pada
puncaknya aku biarkan spermaku
tertumpah di dalam vaginanya. Sejak saat itu hampir setiap hari aku
menyetubuhi adikku, Shinta.
Sesekali jika Papa sedang di luar
kota, aku juga menyetubuhi Mama.
Alangkah beruntungnya aku.
Dengan ilmu pengetahuan, suatu hambatan ternyata dapat diselesaikan
dengan mudah. TAMAT
rumahseks.blogspot.com ini
mengingatkan diriku pada 19 tahun
yang lalu saat pertama kalinya aku
merasakan nikmatnya seks. Saat itu
usiaku 11 tahun dan masih duduk di kelas 6 SD. Dan orang-orang
pertama yang menjadi pemuas
nafsuku adalah Mama dan adikku
sendiri. Sudah sejak berumur 7 atau 8 tahun
aku mempunyai keingintahuan dan
hasrat yang kuat akan seks. Secara
sembunyi-sembunyi aku sering
membaca majalah dewasa milik
orang tuaku. Biasanya hal itu kulakukan saat sebelum berangkat
sekolah dan orang tuaku tidak di
rumah. Saat membaca majalah
tersebut aku juga beronani untuk
memuaskan hasratku. Pada saat usiaku 10 tahun, hasratku
akan pemuasan seks semakin besar,
maklum saat itu adalah masa puber.
Frekuensiku melakukan onani juga
semakin sering, dalam sehari bisa
sampai 4 kali. Dan setiap hari minimal 1 kali pasti aku lakukan. Pada suatu sore ketika aku duduk di
kelas 6 SD, saat itu tidak ada seorang
pun di rumah. Papa sedang bertugas
keluar kota, sedangkan Mama dan
adikku sedang mengikuti suatu
kegiatan sejak pagi. Aku gunakan kesempatan tersebut untuk
menonton blue film milik orang
tuaku. Sejak pagi sudah 3 film aku
putar dan sudah 4 kali aku
melakukan onani. Namun hasratku
masih juga begitu besar. Ada adegan yang sangat aku sukai
dan aku sering berkhayal bahwa
aku menjadi pemeran pria dalam film
itu. Adegan itu adalah saat seorang
pria sedang berbaring sementara
wanita pertama duduk di atas penis sang pria sambil menggoyangkan
pinggulnya dan wanita kedua duduk
tepat di atas mukanya sementara
sang pria dengan lahapnya menjilati
vagina wanita kedua tersebut. Aku segera menurunkan celanaku
bersiap melakukan onani sambil
menyaksikan adegan favoritku. Di
tengah-tengah kegiatanku dan film
sedang hot-hotnya, tiba-tiba
terdengar suara pintu pagar dibuka. Saat itu menunjukkan pukul 20.00,
ternyata Mama dan adikku sudah
pulang. Segera aku kenakan
celanaku kembali dan mengeluarkan
video dari playernya kemudian
meletakkannya kembali di tempatnya. Lalu baru aku
membukakan pintu untuk mereka. "Eh Wan, tolong bantu masukkan
barang-barang dong", Mama
memintaku membantunya membawa
barang-barang.
"Iya Ma. Shin, di sana ngapain aja?
Koq sepertinya capek banget sih?", aku menyapa adikku Shinta.
"Wah, banyak. Pagi setelah aerobik
terus jalan lintas alam. Sampai di atas
udah siang. Terus sorenya baru
turun. Pokoknya capek deh.",
Shinta menjelaskannya dengan bersemangat. Setelah itu mereka mandi dan makan
malam. Sementara aku duduk di
ruang keluarga sambil menonton
acara TV. Setelah mereka selesai
makan malam, adikku langsung
menuju ke kamarnya di atas. Mama ikut bergabung denganku
menonton TV. "Wan, ada acara bagus apa aja?",
Mama bertanya padaku.
"Cuma ini yang mendingan, yang
lainnya jelek", aku memberi tahu
bahwa hanya acara yang sedang
kutonton yang cukup bagus. Saat itu acaranya adalah film action.
Setelah itu ada pembicaraan kecil
antara aku dan Mama. Karena lelah,
Mama menonton sambil tiduran di
atas karpet. Tidak lama sesudah itu
Mama rupanya terlelap. Aku tetap menonton. Pada suatu saat, dalam
film tersebut ada jalan cerita dimana
teman wanita sang jagoan
tertangkap dan diperkosa oleh boss
penjahat. Spontan saja penisku
mengembang. Aku tetap meneruskan menonton. Ketika film sedang seru-serunya,
tanpa sengaja aku menatap Mama
yang sedang tertidur dengan posisi
telentang dan kaki yang terbentang.
Baju tidurnya (daster) tersingkap,
sehingga sedikit celana dalamnya terlihat. Tubuhku langsung bergetar
karena nafsuku yang tiba-tiba
meledak. Tidak pernah terpikir
olehku melakukan persetubuhan
dengan Mamaku sendiri. Tapi
pemandangan ini sungguh menggiurkan. Pada usia 29 tahun,
Mama masih terlihat sangat menarik.
Dengan kulit kuning, tinggi badan
161 cm, berat badan 60 kg, buah
dada 36B ditambah bentuk
pinggulnya yang aduhai, ternyata selama ini aku tidak menyadari
bahwa sebenarnya Mama sangat
menggairahkan. Selama ini aku benar-benar tidak
pernah punya pikiran aneh terhadap
Mama. Sekarang sepertinya baru
aku tersadar. Nafsu mendorongku
untuk menjamah Mama, namun
sejenak aku ragu. Bagaimana kalau sampai Mama terbangun. Namun
dorongan nafsu memaksaku.
Akhirnya aku memberanikan diri
setelah sebelumnya aku mengecilkan
volume TV agar tidak
membangunkan Mama. Aku bergerak mendekati Mama dan
mengambil posisi dari arah kaki
kanannya. Untuk memastikan agar
Mama tidak sampai terbangun,
kugerak-gerakkan tangan Mama
dan ternyata memang tidak ada reaksi. Rupanya karena lelah seharian, ia
jadi tertidur dengan sangat lelap.
Dasternya yang tersingkap, kucoba
singkap lebih tinggi lagi sampai perut
dan tidak ada kesulitan. Tapi itu
belum cukup, aku singkap dasternya lebih tinggi lagi dengan terlebih
dahulu aku pindahkan posisi kedua
tangannya ke atas. Sekarang kedua
buah dadanya dapat terlihat dengan
jelas, karena ternyata Mama tidak
mengenakan bra. Langsung aku sentuh buah dada kanannya dengan
telapak tangan terbuka dan dengan
perlahan aku remas. Setelah puas
meremasnya, aku hisap bagian
putingnya lalu seluruh bagian buah
dadanya. Tiba-tiba Mama mendesah. Aku
kaget dan merasa takut kalau-kalau
sampai Mama terbangun. Tetapi
setelah kutunggu beberapa saat
tidak ada reaksi lain darinya. Untuk
memastikannya lagi aku meremas buah dada Mama lebih keras dan
tetap tidak ada reaksi. Walau masih
penasaran dengan bagian dadanya,
namun aku takut jika tidak punya
cukup waktu. Sekarang sasaran aku
arahkan ke vaginanya. Mama mengenakan CD tipis berwarna
kuning sehingga masih terlihat bulu
kemaluannya. Aku raba dan aku ciumi vagina
Mama, tapi aku tidak puas karena
masih terhalang CD-nya. Jadi
kuputuskan untuk menurunkan CD-
nya sampai seluruh vaginanya
terlihat. Namun hal itu tidak dapat kulakukan karena posisi kakinya
yang terbentang menyulitkanku
untuk menurunkannya. Jadi
terpaksa aku rapatkan kakinya
sehingga aku bisa menurunkan CD-
nya sampai lutut. Tapi akibatnya aku jadi tidak bisa mengeksplorasi vagina
Mama dengan leluasa karena
kakinya kini merapat. Apakah aku
harus melepas semuanya? Tentu
akan lebih leluasa, tapi jika Mama
sampai terbangun akan berbahaya karena aku tidak akan bisa dengan
cepat memakaikannya kembali. Berhubung nafsuku sudah
memburu, maka aku putuskan
untuk melepaskannya semua. Lalu
aku rentangkan kakinya. Sekarang
vagina Mama dapat terlihat dengan
jelas. Tidak tahan lagi, langsung aku cium dan jilati vaginanya. Lebih jauh
lagi, dengan kedua tangan kubuka
bibir-bibir vaginanya dan aku jilati
bagian dalamnya. Aku benar-benar
semakin bernafsu, ingin rasanya aku
telan vagina Mama. Tidak lama setelah aku jilati, vaginanya menjadi
basah. Setelah puas mencium dan
menjilati bagian vaginanya, penisku
sudah tidak tahan untuk dimasukkan
ke dalam vagina Mama. Aku
kemudian berdiri untuk melepas celanaku. Lalu aku duduk lagi di
antara kedua kaki Mama dan aku
bentangkan kakinya lebih lebar. Dengan mengambil posisi duduk dan
kedua kakiku dibentangkan untuk
menahan kedua kaki Mama, aku
arahkan penisku ke lubang
vaginanya. Tangan kananku
membantu membuka lubang vagina Mama sementara aku dorong
penisku perlahan. Aku rasakan
penisku memasuki daerah yang
basah, hangat dan menjepit.
Tubuhku gemetar hebat karena
nafsu yang mendesak. Setelah beberapa saat akhirnya seluruh
penisku sudah berhasil masuk ke
dalam vagina Mama dengan tidak
terlalu sulit, mungkin karena Mama
sudah melahirkan dua orang anak. Mulailah kugoyangkan pinggulku
maju mundur secara perlahan.
Kurasakan kenikmatan dan sensasi
yang luar biasa. Aku memutuskan
untuk memuaskan nafsuku, apa pun
yang terjadi. Semakin lama gerakanku semakin cepat. Dengan
semakin bernafsu, aku peluk tubuh
Mama dan mengulum dadanya,
sementara penisku terus bergerak
cepat menggosok vagina Mama. Aku
sudah tidak peduli lagi apakah Mama akan terbangun atau tidak, biar pun
terbangun aku akan terus
menggoyangnya sampai aku puas. Sungguh nikmat. Bahkan lebih
nikmat daripada fantasiku selama ini.
Setelah aku berjuang keras selama 6
menit, akhirnya aku sudah tidak
tahan lagi hingga aku benamkan
penisku dalam-dalam ke vagina Mama. Aku rasakan spermaku
mengalir bersamaan dengan sensasi
yang luar biasa. Seakan melayang
sampai-sampai terasa sakit kepala.
Aku biarkan penisku beberapa saat
di dalam tubuh Mamaku. Setelah cukup rileks, aku cabut
penisku. Aku puas. Aku tidak
menyesal. Aku kenakan kembali
celanaku. Sebelum aku kenakan
kembali CD-Mama, aku puaskan diri
dengan meremas-remas vagina Mama. Setelah itu aku rapikan
kembali daster Mama. Aku matikan
TV dan naik menuju kamarku di
atas. Aku langsung rebahan di atas
kasurku. Walau aku merasa lelah tapi
aku tidak bisa tidur membayangkan pengalaman ternikmat yang baru
saja aku rasakan. Pengalaman
seorang anak SD yang baru saja
melakukan hubungan seks dengan
Mamanya sendiri. Membayangkan hal tersebut saja
membuat nafsuku bangkit kembali.
Aku berpikir untuk kembali
melakukannya dengan Mama. Aku
berjalan keluar kamar menuju ruang
keluarga. Namun di depan kamar Shinta adikku, entah apa yang
mengubah pikiranku. Aku berpikir,
kalau Mama saja tidur sedemikian
lelapnya maka tentu Shinta juga
demikian. Apalagi selama ini Shinta
kalau sudah tidur sulit sekali untuk dibangunkan. Perlahan aku buka kamarnya dan
aku lihat Shinta tertidur dengan
menggunakan selimut. Aku masuk
ke kamarnya dan aku tutup lagi
pintunya. Seperti yang sudah aku
lakukan dengan Mama, aku juga sudah bertekad akan menyetubuhi
Shinta adikku sendiri. Walaupun ia
bangun aku juga tidak akan peduli. Lalu aku singkap selimutnya dan aku
lepaskan dasternya serta tidak CD-
nya. Sekarang Shinta sudah benar-
benar bugil. Karena Shinta belum
memiliki buah dada, sasaranku
langsung ke vaginanya. Vaginanya sungguh mulus karena belum
ditumbuhi rambut. Aku rentangkan
kakinya lalu aku cium dan jilati
vaginanya. Sekali-kali aku gigit
perlahan. Lalu aku buka lebar-lebar
bibir vaginanya dengan jariku dan kujilati bagian dalamnya. Setelah puas menciumi vaginanya,
aku bersiap untuk menghunjamkan
penisku ke dalam vagina Shinta
yang masih mulus. Aku rentangkan
kakinya dan aku tempatkan
melingkar di pinggangku. Aku ingin mengambil posisi yang
memungkinkanku dapat
menyetubuhi Shinta dengan leluasa. Lalu kuarahkan penisku ke lubang
vaginanya sementara kedua
tanganku membantu membuka bibir
vaginanya. Aku dorong perlahan
namun ternyata tidak semudah aku
melakukannya dengan Mama. Vagina Shinta begitu sempit, karena
ia masih kecil (saat itu ia baru berusia
9 tahun) dan tentu saja masih
perawan. Tapi itu bukan halangan
bagiku. Aku terus mendorong
penisku dan bagian kepala penisku akhirnya berhasil masuk. Namun
untuk lebih jauh sangat sulit. Nafsuku sudah memuncak tapi masih
belum bisa masuk juga hingga
membuatku kesal. Karena aku sudah
bertekad, maka aku paksakan untuk
mendorongnya hingga aku berhasil.
Namun tiba-tiba saja Shinta merintih. Aku diam sejenak dan ternyata
Shinta tidak bereaksi lebih jauh.
Walaupun aku tidak peduli apakah
Shinta akan tahu atau tidak, tetap
saja akan lebih baik kalau Shinta
tidak mengetahuinya. Kemudian aku mulai menggoyang
pinggulku, tetapi gerakanku tidak
bisa selancar saat melakukannya
dengan Mama, karena vagina Mama
basah dan tidak terlalu sempit,
sedangkan milik Shinta kering dan sempit. Aku terus menggesekan
penisku di dalam tubuh Shinta
semakin lama semakin cepat sambil
memeluk tubuhnya. Ada perbedaan
kenikmatan tersendiri antara vagina
Mama dan Shinta. Karena vagina Shinta lebih sempit maka hanya
dalam waktu 3 menit aku sudah
mencapai orgasme. Kubiarkan spermaku mengalir di
dalam vagina Shinta. Aku tidak perlu
khawatir karena aku tahu Shinta
belum bisa hamil. Aku tekan penisku
dalam-dalam dan aku peluk Shinta
dengan erat. Setelah puas aku kenakan lagi pakaian Shinta baru
aku kenakan pakaianku sendiri. Aku
berjingkat kembali ke kamarku dan
tertidur sampai keesokan paginya. Pada pagi harinya aku agak
khawatir jika ketahuan. Tapi sampai
aku berangkat sekolah tidak ada
yang mencurigakan dari sikap Mama
maupun Shinta. Sejak saat itu aku
selalu terbayang kenikmatan yang aku alami pada malam itu. Aku ingin
mengulanginya. Dengan Mama
kemungkinannya bisa dilakukan jika
Papa tidak di rumah. Jadi akan lebih
besar kesempatannya jika
melakukannya dengan Shinta saja. Walaupun pada saat melakukannya,
aku tidak peduli jika diketahui tetapi
tetap akan lebih aman jika mereka
tidak mengetahuinya. Maka hampir
setiap malam, aku selalu bergerilya
ke kamar Shinta. Namun aku hanya berhasil sampai tahap melucuti
pakaiannya. Setiap kali penisku mulai
masuk, Shinta selalu terbangun. Empat bulan sejak pengalaman
pertama, aku belum pernah lagi
melakukan sex. Pada bulan kelima,
aku masuk SMP dan pada pelajaran
biologi aku mengenal suatu bahan
kimia praktikum yang digunakan untuk membius. Saat itu aku
langsung berpikir bahwa aku bisa
menggunakannya bersetubuh
dengan Shinta lagi. Setelah pelajaran biologi, aku
mengambil sebotol obat bius untuk
dibawa ke rumah. Pada malam hari
setelah semuanya tertidur, aku
masuk ke kamar Shinta. Sebuah
sapu tangan yang telah dilumuri obat bius aku tempatkan di hidung
Shinta. Setelah beberapa saat, aku
angkat sapu tangan tersebut dan
mulai melucuti pakaian Shinta. Dan
setelah aku melucuti seluruh
pakaianku, aku naik ke ranjang Shinta dan duduk di antara kedua
kakinya. Aku mengambil posisi favoritku
dengan menempatkan kedua
kakinya melingkari pinggangku.
Aku masukkan penisku ke
vaginanya dengan perlahan sampai
keseluruhan penisku masuk. Goyangan pinggulku mulai
menggoyang tubuh Shinta. Aku
memeluk tubuhnya dengan erat dan
penisku bergerak keluar masuk
dengan cepat. Karena aku yakin
Shinta tidak akan terbangun maka aku bisa mengubah posisi sesukaku.
Seperti sebelumnya, saat pada
puncaknya aku biarkan spermaku
tertumpah di dalam vaginanya. Sejak saat itu hampir setiap hari aku
menyetubuhi adikku, Shinta.
Sesekali jika Papa sedang di luar
kota, aku juga menyetubuhi Mama.
Alangkah beruntungnya aku.
Dengan ilmu pengetahuan, suatu hambatan ternyata dapat diselesaikan
dengan mudah. TAMAT
adik iparq asti
Cerita ini merupakan kejadian yang
memalukan sekaligus menyenangkan
tentang perselingkuhanku dengan
adik iparku Asti. 'Halo', kataku menyambut telepon. 'Oh, kakak!!, Mbak Yuke mana kak',
suara diseberang menyahut. 'Asti??, kapan balik ke Jakarta,
mbakmu lagi piket, telepon aja ke
HP-nya deh, sahutku sambil
bertanya. 'Gak usah deh kak,
sampaiin aja kalo aku pertengahan
juni mo balik, aku kangen banget deh' jawabnya lagi. 'Oke, deh ntar aku sampaikan, take
care ya' jawabku datar dan menutup
telepon. Kemudian ingatanku melayang
beberapa tahun lalu, dimana saat itu
dia banyak problem,.. cowok, drug,
bahkan sempat pula berurusan
dengan pihak berwajib karena
tertangkap tangan atas kepemilikan Narkoba. Atas saranku Asti, adik
kandung Yuke ke Jakarta dan
sekarang telah bekerja di Singapura
untuk memulai sesuatu yang baru. Asti 30 th, seperti juga saudaranya
berwajah cantik, kulitnya bersih,
mata lebar, hidung mancung, rambut
berombak di ujung dengan postur
tubuh proporsional. Karena obsesi
untuk mandiri dan sifatnya yang keras kepala itulah dia terperosok
dalam problem berkepanjangan. Asti
sebelumnya tinggal di Surabaya,
disana dia bekerja sebagai penyanyi.
Dari pekerjaannya itulah (yang
sebenernya tidak kami sukai) Asti sempat ditahan polisi 1 malam karena
narkoba, sebelum kami datang-
dipanggil untuk memberi
keterangan. Sejak peristiwa ditahannya Asti 3
tahun lalu, Asti sering telepon aku
dan bercerita tentang keadaannya,
teman lelakinya dan biasanya cukup
lama, minimal 30 menit. Asti lebih
dekat denganku dan sering 'curhat' daripada kakaknya. Dalam setiap
pembicaraan, Yuke selalu memberi
tanda agar aku 'merayu' Asti untuk
pindah ke Jakarta dan mencari
pekerjaan di sini. Yuke tau
kedekatan kami itu, bahkan mendorong untuk dapat
mengontrolnya melalui aku, karena
sejak kecil Asti memang susah nurut
dan bandel. Awalnya aku hanya
menganggapnya sebagai tanggung
jawab seorang kakak terhadap adik, sebelum terjadi 'sesuatu' yang tidak
semestinya kami lakukan. Awal maret 2000, Asti telepon
memintaku untuk menjemputnya di
stasiun Gambir, Yuke sangat gembira
dengan berita itu dan segera
mempersiapkan kamar untuknya. 13
maret 2000 aku jemput asti sendiri, karena anak bungsuku sakit, dan
kami duga demam berdarah. Asti
datang sendirian, padahal
rencananya bersama Hendry
'cowoknya' yang keturunan. 'Kok, sendirian kak??' mana
ponakan2ku, tanya asti saat aku
sambut barang2 bawaannya. 'Andi lagi sakit, kayanya demam
berdarah deh, terpaksa diisolasi dari
sodaranya' jawabku ngeloyor
menuju mobil. Sambil merokok dan
berlari kecil Asti mengikuti aku,
'Kesian yah, aku kangen ama mereka' katanya. 'Kak, tau nggak knapa aku kesini??
tanyanya di mobil. 'Yah, loe mau refreshing, loe udah
sadar dan mau kerja yang sesuai
ama ijazahmu, khan?' jawabku
sekenanya. 'Yang lain donk' komentarnya
manja. 'Apa yaa, paling putus atau mo lari
dari cowokmu, hahahaha' aku
tertawa geli karena pinggangku
digelitiknya. 'Sekarang bulan apa kak?' 'Maret' jawabku sambil terus nyetir 'Bulan maret ada apa ya??' Asti
mengerling, tangannya meremas
tanganku saat di persneling.. 'Asti,.. Apaan sih', kataku berusaha
menepis tangannya yang kemudian
bergerak mau gelitiki aku lagi.
Tanganku ditangkapnya, digenggam
kemudian dicium sambil bertanya
manja 'Kakak sayang Asti nggak sih?' 'Asti.. aku kakakmu, aku sayang
kamu seperti Yuke menyayangimu'
kataku jengah dan menarik tangan . 'Kak,.. aku sayang dan mengagumi
Kak rizky, lebih dari itu.., aku sayang
ama kakak, karena bisa ngertiin aku,
pahami aku, bisa ngemanjain aku
dan..tau nggak, aku bisa orgasme
kalo lagi teleponan ama kakak'..katanya sambil meraih
tanganku lagi. 'Asti.. aku gak mau ngerusak
semuanya dengan perbuatan
bodohmu', jawabku marah namun
sebenernya menahan gejolak. Asti
terdiam dan melepas tanganku.
Itulah 30 menit pembicaraan kami di perjalanan menuju ke rumah. Sampai di rumah Yuke
menyambutku dengan ciuman sambil
bilang mo ke RS karna andi anak ke
tiga ku panas udah lebih dari 2 hari.
Aku segera ke kamar melihat
keadaannya, sementara Asti dan Yuke menuju ke kamar di lantai 2
yang telah disiapkan. 'Maa, cepetan yah' aku beri isyarat
agar Yuke segera bersiap. 'Asti, mandi terus istirahat dulu yaa,
ntar ngobrolnya deh' kata Yuke ama
Asti..OK boss sahut Asti. Singkatnya Andi harus segera
dirawat di RS saat itu juga. 'Andi maunya ditemenin ama mama
aja yaa? pinta anakku lirih.. 'Iya sayang, mama akan temenin
anak tersayang mama deh' Yuke
menghibur. 'Janji ya maa..' Setelah Andi tidur aku rundingan
ama Yuke, keputusannya adalah aku
akan nungguin Andi malem dan
langsung berangkat kerja dari RS. 'Paa, sekarang jemput asti ya.. ajak
dia kesini, sekalian bawain aku
beberapa pakaian, aku pengen
ngobrol disini'. 'Oke sayang', jawabku setelah
merasa semua beres. Sesampainya di rumah, aku siapkan
beberapa pakaian yang pantas,
termasuk pakaian dalemYuke. Aku
naik ke lantai 2 (kamar Asti) mo
ambil tas, kuketuk pintu dan
memanggilnya.. Tapi gak ada sahutan, aku berasa gak enak dan
telepon istriku 'Kalo gak dikunci masuk aja deh paa,
soalnya semua tas ada disana' 'Tungguin si Bengal itu bangun,
biarin dulu dia istirahat ntar kalo
bangunin sekitar jam 12-an. Aku manusia biasa, seorang lelaki
mana yang tidak tergoda dengan
keadaan ini ; gadis cantik tertidur
pulas, tanpa selimut. Sangat
menggairahkan dengan rambut
setengah basah tidur terlentang hanya dengan CD kecil terikat di
pinggul dan sepasang bukit indah
bebas tanpa penutup, ada
kesempatan lagi. Aku terpaku untuk
sesaat.. bathinku sedang berperang..
dan.. akhirnya aku menyerah. Kuhampiri Asti (yang sedang
tertidur??), aku ambil selimut yang
terjatuh di lantai dan menutupi tubuh
indah itu, tapi asti sepertinya gak
mau di selimuti. Gerakan tangannya
menolak diselimuti. Aku kembali terdiam.., kuberanikan diri
menyentuh tangannya,.. gemetar
aku rasakan saat itu,.. Asti masih
terlelap bahkan mengeluarkan suara
mendengkur. Nafsu sudah
menguasai bathinku juga ragaku, penisku sangat2 tegang.. Asti lebih
cantik, lebih putih lebih tinggi dari
Yuke.. dengan jari tengahku,
kutelusuri tangannya hingga
ketiak..Asti menggeliat dan
menyamping seakan memberiku ruang untuk duduk di sebelahnya. Benar-benar kesempatan telah
berpihak padaku,.. kuulangi
sentuhan jariku, aku belai
rambutnya yang lembab dan
berombak, aku cium keningnya, aku
belai wajahnya sambil memanggilnya pelahan,.. "Asti.., bangun
sayang..mbakmu suruh kamu ke
RS..", (dengar atau gak aku gak
peduli) kuulangi kata-kata itu sambil
terus membelai.., Asti malah
melingkarkan tangannya kepinggangku. Tanpa kusadari
tanganku telah membelai kedua
bukitnya, mempermainkan
putingnya, sambil mengecup
perlahan bibirnya. Asti membuka
matanya dan mendesah perlahan .. kakk, aku sayang kakak, aku ingin
kakak sayang aku lebih dari seorang
adik .. sebulan lebih aku
meninggalkannya .. aku benci dia..
ternyata dia telah berkeluarga, dan
sampai saat ini belum kutemukan figur yang aku cari, kak.. sayangi
asti.. tangannya menuntun tanganku
kedaerah yang paling intimnya yang
telah lembab, ketika jariku sedikit
menekannya.. Ditariknya tubuhku
sehingga menindih tubuhnya.. Sepertinya Asti in the mood. Dalam
keadaan masih berpakaian, aku
peluk asti dan menindihnya, kami
bergerak seirama seakan sedang
bersenggama.. Tiba-tiba telepon berteriak nyaring,
seakan menyadarkan agar tidak
berbuat lebih lanjut. 'Pahh, udah bangun si Bengal tuh,..
Siram air aja kalo gak bisa, cepetan
nih udah jam berapa sekarang?
gerah nih, jangan lupa dasterku'. OK, jawabku dengan nafas masih
memburu menahan nafsu. Permainan
kami terhenti dengan un happy
ending.. 14 maret, Di tempat kerja setelah
mendapat ucapan selamat dan
ciuman pipi dari rekan2 atas ulang
tahunku, aku masih nggak abis
pikir.. why it happen?? jahat amat
aku,.. disaat usia bertambah tua, anak sedang sakit.. aku malah
mengumbar nafsu.. IPARKU lagi..
Udahlah I wont do that again, biar
Asti yang nunggu Andi .. pikirku. Jam 14.30 sepulang kerja, aku
mampir ke Pizza Hut beliin makanan
kesukaan Andi sebelum ke RS. Saat
dikamar Asti menyambutku dengan
ciuman mesra di bibir.. met ulang
tahun sayang.., Gila nih anak pikirku.. 'Yuke', aku memanggil
istriku.. Yuke keluar kamar mandi,
langsung memelukku, 'Met ulang
tahun pah.. hadiahnya ntar aja
nunggu Andi sembuh, katanya main
mata nakal. Sekitar jam 19.30 aku mo balik, pulang ganti baju. 'Pah, ntar
aja pulangnya, jam 21 an aja soalnya
Andi gak mau kalo gak ditungguin
mama, papa dirumah aja deh..' biar
mama yang tungguin Andi. 'Yah..gimana nih, ntar kamu
ditemenin Asti ya, papa mo pulang
urusin si rio ama intan'. 'Tadi Asti
bilang tadi mo ktemuan ama
temennya, mungkin dia mo keluar
malem ini, pulang bareng ama papah aja ya, ntar kasi kunci cadangan
rumah di laci lemari ya' jawab Yuke.
Gawat..tapi ada rasa senang juga
terbersit di pikiranku. Malaikat
bathinku menyayangkan kenapa
Yuke begitu percaya pada hubungan kami, sedang syaitan di
jiwa-ragaku bersorak kegirangan
sampai penisku berkedut. Singkatnya kami tinggalkan Yuke
yang menjaga Andi. di perjalanan
Asti bilang ingin memberiku sesuatu
untuk melampiaskan apa yang
terpendam di sanubarinya dan
membohongi kakaknya sendiri. Seperti biasa Rio dan intan udah
berada di kamarnya jam 21. (Yuke
sangat disiplin dalam mendidik anak).
Aku periksa tas mereka nge-cek PR.
Setelah mencium pipi mereka, aku
turun dan mandi, (Asti udah ke kamarnya). Jam 23 after I call Yuke 2
say good night, terdengar ketukan
pintu, saat kubuka asti menerobos
masuk dengan pakaian tidur cream. 'Kak, .. Asti mau tidur ama kakak,
pengen dipelukin dan dimanjain.. Saat itu yang pertama bereaksi
adalah si Ucok di dalam sarung dan
berteriak mengacung.. MERDEKA.. Dapat dibayangkan 2 orang
berlainan jenis dalam 1 kamar yang
dingin.. Asti memelukku.. aku balas
memeluknya erat. Sangat lama kami
berpelukan.. Dalam posisi berdiri,
kami berpelukan seakan berdansa..
setelah puas, aku gendong asti ke
pembaringan.., kurebahkan dia, kutanggalkan pakaian tidurnya, Asti
hanya menggunakan G string.,.. Asti
pasrah, menikmati, badannya yang
polos.. Asti memandangku saat aku
buka sarung, satu2nya penutup
bagian tubuhku.. Kurebahkan diriku disamping tubuhnya, aku cium dan
rasakan tiap jengkal tubuhnya,
bukitnya yang putih begitu indah
mencuat, kontras dengan tanganku
yang hitam.. Kak.. Aku sering
mimpikan ini.. kak.. puaskan aku.., sayangi aku.. Kuremas bukit indahnya sambil
menciumi putingnya,.. Asti
menggelinjang hebat.. tangannya
meraih penisku.. Dikocoknya
perlahan.., kumasukkan tanganku,
ke dalam CD G string hitam asti, Asti mengangkat pinggulnya
membantuku melepas satu2nya
penutup tubuhnya. Lembab dan
basah vagina asti oleh lendir hasrat,
kutekan ujung jariku sedikit masuk,
otomatis pinggulnya mengangkat dan berusaha agar jariku masuk
lebih dalam.. beberapa lama aktifitas
itu aku lakukan. Asti pengen hisap
punya kakak.. pintanya. Aku segera berdiri dengan penis
masih teracung tegak, Asti bangkit
mengulumnya.. woww hisapannya
ruarr biasa, penisku seakan berada
dalam vaginanya.., segera aku atur
posisi 69 untuk menikmati lendir gairah yang udah disediakan, setelah
beberapa menit Asti menggelinjang
sambil berteriak, 'kak.. Asti pengen
keluar, Kak ..gerakannya tambah
liar. Kuhentikan jilatanku dan
kuposisikan penisku penetrasi ke vaginanya yang benar-benar basah.
Clepp, mudah sekali penisku
menerobos masuk, aku berusaha
mempertahankan very
slow..kurasakan benar dinding-
dinding vagina Asti, saat kutemukan g spotnya, (sedikit dibawah
permukaan dalam di bawah clitnya)
kuarahkan agar tetap menyentuh
that area.. Asti benar2 tak dapat
menguasai diri, dijepitnya
pinggangku dengan kaki dan ditahannya pada posisi yang
dikekehendaki.. Kakk.. kurasakan
denyutan dahsyat otot vagina Asti,
sangat kencang, lebih kencang dari
denyutan Yuke.., God.. i'm
cumming.. teriaknya. Saat kedutannya mengendor, kupercepat
gerakanku, aku ingin menuntaskan
semuanya.. beberapa genjotan
sampai terasa telah hamper sampai,
aku tarik penisku dan tumpahkan
semua di luar.. Asti agak kecewa.. namun aku tak segila itu untuk
mempunyai seorang anak lagi. Begitulah pengalamanku dengan
adik iparku, Setelah Andi pulang,
aku selalu berusaha mencari
kesempatan untuk bersenggama
dengannya, Asti sempat tinggal
selama 6 bulan sebelum ada panggilan kerja di Singapura. Juni nanti Asti akan kembali,.. aku
takut.. tapi juga rindu bertemu
dengannya.. TAMAT
memalukan sekaligus menyenangkan
tentang perselingkuhanku dengan
adik iparku Asti. 'Halo', kataku menyambut telepon. 'Oh, kakak!!, Mbak Yuke mana kak',
suara diseberang menyahut. 'Asti??, kapan balik ke Jakarta,
mbakmu lagi piket, telepon aja ke
HP-nya deh, sahutku sambil
bertanya. 'Gak usah deh kak,
sampaiin aja kalo aku pertengahan
juni mo balik, aku kangen banget deh' jawabnya lagi. 'Oke, deh ntar aku sampaikan, take
care ya' jawabku datar dan menutup
telepon. Kemudian ingatanku melayang
beberapa tahun lalu, dimana saat itu
dia banyak problem,.. cowok, drug,
bahkan sempat pula berurusan
dengan pihak berwajib karena
tertangkap tangan atas kepemilikan Narkoba. Atas saranku Asti, adik
kandung Yuke ke Jakarta dan
sekarang telah bekerja di Singapura
untuk memulai sesuatu yang baru. Asti 30 th, seperti juga saudaranya
berwajah cantik, kulitnya bersih,
mata lebar, hidung mancung, rambut
berombak di ujung dengan postur
tubuh proporsional. Karena obsesi
untuk mandiri dan sifatnya yang keras kepala itulah dia terperosok
dalam problem berkepanjangan. Asti
sebelumnya tinggal di Surabaya,
disana dia bekerja sebagai penyanyi.
Dari pekerjaannya itulah (yang
sebenernya tidak kami sukai) Asti sempat ditahan polisi 1 malam karena
narkoba, sebelum kami datang-
dipanggil untuk memberi
keterangan. Sejak peristiwa ditahannya Asti 3
tahun lalu, Asti sering telepon aku
dan bercerita tentang keadaannya,
teman lelakinya dan biasanya cukup
lama, minimal 30 menit. Asti lebih
dekat denganku dan sering 'curhat' daripada kakaknya. Dalam setiap
pembicaraan, Yuke selalu memberi
tanda agar aku 'merayu' Asti untuk
pindah ke Jakarta dan mencari
pekerjaan di sini. Yuke tau
kedekatan kami itu, bahkan mendorong untuk dapat
mengontrolnya melalui aku, karena
sejak kecil Asti memang susah nurut
dan bandel. Awalnya aku hanya
menganggapnya sebagai tanggung
jawab seorang kakak terhadap adik, sebelum terjadi 'sesuatu' yang tidak
semestinya kami lakukan. Awal maret 2000, Asti telepon
memintaku untuk menjemputnya di
stasiun Gambir, Yuke sangat gembira
dengan berita itu dan segera
mempersiapkan kamar untuknya. 13
maret 2000 aku jemput asti sendiri, karena anak bungsuku sakit, dan
kami duga demam berdarah. Asti
datang sendirian, padahal
rencananya bersama Hendry
'cowoknya' yang keturunan. 'Kok, sendirian kak??' mana
ponakan2ku, tanya asti saat aku
sambut barang2 bawaannya. 'Andi lagi sakit, kayanya demam
berdarah deh, terpaksa diisolasi dari
sodaranya' jawabku ngeloyor
menuju mobil. Sambil merokok dan
berlari kecil Asti mengikuti aku,
'Kesian yah, aku kangen ama mereka' katanya. 'Kak, tau nggak knapa aku kesini??
tanyanya di mobil. 'Yah, loe mau refreshing, loe udah
sadar dan mau kerja yang sesuai
ama ijazahmu, khan?' jawabku
sekenanya. 'Yang lain donk' komentarnya
manja. 'Apa yaa, paling putus atau mo lari
dari cowokmu, hahahaha' aku
tertawa geli karena pinggangku
digelitiknya. 'Sekarang bulan apa kak?' 'Maret' jawabku sambil terus nyetir 'Bulan maret ada apa ya??' Asti
mengerling, tangannya meremas
tanganku saat di persneling.. 'Asti,.. Apaan sih', kataku berusaha
menepis tangannya yang kemudian
bergerak mau gelitiki aku lagi.
Tanganku ditangkapnya, digenggam
kemudian dicium sambil bertanya
manja 'Kakak sayang Asti nggak sih?' 'Asti.. aku kakakmu, aku sayang
kamu seperti Yuke menyayangimu'
kataku jengah dan menarik tangan . 'Kak,.. aku sayang dan mengagumi
Kak rizky, lebih dari itu.., aku sayang
ama kakak, karena bisa ngertiin aku,
pahami aku, bisa ngemanjain aku
dan..tau nggak, aku bisa orgasme
kalo lagi teleponan ama kakak'..katanya sambil meraih
tanganku lagi. 'Asti.. aku gak mau ngerusak
semuanya dengan perbuatan
bodohmu', jawabku marah namun
sebenernya menahan gejolak. Asti
terdiam dan melepas tanganku.
Itulah 30 menit pembicaraan kami di perjalanan menuju ke rumah. Sampai di rumah Yuke
menyambutku dengan ciuman sambil
bilang mo ke RS karna andi anak ke
tiga ku panas udah lebih dari 2 hari.
Aku segera ke kamar melihat
keadaannya, sementara Asti dan Yuke menuju ke kamar di lantai 2
yang telah disiapkan. 'Maa, cepetan yah' aku beri isyarat
agar Yuke segera bersiap. 'Asti, mandi terus istirahat dulu yaa,
ntar ngobrolnya deh' kata Yuke ama
Asti..OK boss sahut Asti. Singkatnya Andi harus segera
dirawat di RS saat itu juga. 'Andi maunya ditemenin ama mama
aja yaa? pinta anakku lirih.. 'Iya sayang, mama akan temenin
anak tersayang mama deh' Yuke
menghibur. 'Janji ya maa..' Setelah Andi tidur aku rundingan
ama Yuke, keputusannya adalah aku
akan nungguin Andi malem dan
langsung berangkat kerja dari RS. 'Paa, sekarang jemput asti ya.. ajak
dia kesini, sekalian bawain aku
beberapa pakaian, aku pengen
ngobrol disini'. 'Oke sayang', jawabku setelah
merasa semua beres. Sesampainya di rumah, aku siapkan
beberapa pakaian yang pantas,
termasuk pakaian dalemYuke. Aku
naik ke lantai 2 (kamar Asti) mo
ambil tas, kuketuk pintu dan
memanggilnya.. Tapi gak ada sahutan, aku berasa gak enak dan
telepon istriku 'Kalo gak dikunci masuk aja deh paa,
soalnya semua tas ada disana' 'Tungguin si Bengal itu bangun,
biarin dulu dia istirahat ntar kalo
bangunin sekitar jam 12-an. Aku manusia biasa, seorang lelaki
mana yang tidak tergoda dengan
keadaan ini ; gadis cantik tertidur
pulas, tanpa selimut. Sangat
menggairahkan dengan rambut
setengah basah tidur terlentang hanya dengan CD kecil terikat di
pinggul dan sepasang bukit indah
bebas tanpa penutup, ada
kesempatan lagi. Aku terpaku untuk
sesaat.. bathinku sedang berperang..
dan.. akhirnya aku menyerah. Kuhampiri Asti (yang sedang
tertidur??), aku ambil selimut yang
terjatuh di lantai dan menutupi tubuh
indah itu, tapi asti sepertinya gak
mau di selimuti. Gerakan tangannya
menolak diselimuti. Aku kembali terdiam.., kuberanikan diri
menyentuh tangannya,.. gemetar
aku rasakan saat itu,.. Asti masih
terlelap bahkan mengeluarkan suara
mendengkur. Nafsu sudah
menguasai bathinku juga ragaku, penisku sangat2 tegang.. Asti lebih
cantik, lebih putih lebih tinggi dari
Yuke.. dengan jari tengahku,
kutelusuri tangannya hingga
ketiak..Asti menggeliat dan
menyamping seakan memberiku ruang untuk duduk di sebelahnya. Benar-benar kesempatan telah
berpihak padaku,.. kuulangi
sentuhan jariku, aku belai
rambutnya yang lembab dan
berombak, aku cium keningnya, aku
belai wajahnya sambil memanggilnya pelahan,.. "Asti.., bangun
sayang..mbakmu suruh kamu ke
RS..", (dengar atau gak aku gak
peduli) kuulangi kata-kata itu sambil
terus membelai.., Asti malah
melingkarkan tangannya kepinggangku. Tanpa kusadari
tanganku telah membelai kedua
bukitnya, mempermainkan
putingnya, sambil mengecup
perlahan bibirnya. Asti membuka
matanya dan mendesah perlahan .. kakk, aku sayang kakak, aku ingin
kakak sayang aku lebih dari seorang
adik .. sebulan lebih aku
meninggalkannya .. aku benci dia..
ternyata dia telah berkeluarga, dan
sampai saat ini belum kutemukan figur yang aku cari, kak.. sayangi
asti.. tangannya menuntun tanganku
kedaerah yang paling intimnya yang
telah lembab, ketika jariku sedikit
menekannya.. Ditariknya tubuhku
sehingga menindih tubuhnya.. Sepertinya Asti in the mood. Dalam
keadaan masih berpakaian, aku
peluk asti dan menindihnya, kami
bergerak seirama seakan sedang
bersenggama.. Tiba-tiba telepon berteriak nyaring,
seakan menyadarkan agar tidak
berbuat lebih lanjut. 'Pahh, udah bangun si Bengal tuh,..
Siram air aja kalo gak bisa, cepetan
nih udah jam berapa sekarang?
gerah nih, jangan lupa dasterku'. OK, jawabku dengan nafas masih
memburu menahan nafsu. Permainan
kami terhenti dengan un happy
ending.. 14 maret, Di tempat kerja setelah
mendapat ucapan selamat dan
ciuman pipi dari rekan2 atas ulang
tahunku, aku masih nggak abis
pikir.. why it happen?? jahat amat
aku,.. disaat usia bertambah tua, anak sedang sakit.. aku malah
mengumbar nafsu.. IPARKU lagi..
Udahlah I wont do that again, biar
Asti yang nunggu Andi .. pikirku. Jam 14.30 sepulang kerja, aku
mampir ke Pizza Hut beliin makanan
kesukaan Andi sebelum ke RS. Saat
dikamar Asti menyambutku dengan
ciuman mesra di bibir.. met ulang
tahun sayang.., Gila nih anak pikirku.. 'Yuke', aku memanggil
istriku.. Yuke keluar kamar mandi,
langsung memelukku, 'Met ulang
tahun pah.. hadiahnya ntar aja
nunggu Andi sembuh, katanya main
mata nakal. Sekitar jam 19.30 aku mo balik, pulang ganti baju. 'Pah, ntar
aja pulangnya, jam 21 an aja soalnya
Andi gak mau kalo gak ditungguin
mama, papa dirumah aja deh..' biar
mama yang tungguin Andi. 'Yah..gimana nih, ntar kamu
ditemenin Asti ya, papa mo pulang
urusin si rio ama intan'. 'Tadi Asti
bilang tadi mo ktemuan ama
temennya, mungkin dia mo keluar
malem ini, pulang bareng ama papah aja ya, ntar kasi kunci cadangan
rumah di laci lemari ya' jawab Yuke.
Gawat..tapi ada rasa senang juga
terbersit di pikiranku. Malaikat
bathinku menyayangkan kenapa
Yuke begitu percaya pada hubungan kami, sedang syaitan di
jiwa-ragaku bersorak kegirangan
sampai penisku berkedut. Singkatnya kami tinggalkan Yuke
yang menjaga Andi. di perjalanan
Asti bilang ingin memberiku sesuatu
untuk melampiaskan apa yang
terpendam di sanubarinya dan
membohongi kakaknya sendiri. Seperti biasa Rio dan intan udah
berada di kamarnya jam 21. (Yuke
sangat disiplin dalam mendidik anak).
Aku periksa tas mereka nge-cek PR.
Setelah mencium pipi mereka, aku
turun dan mandi, (Asti udah ke kamarnya). Jam 23 after I call Yuke 2
say good night, terdengar ketukan
pintu, saat kubuka asti menerobos
masuk dengan pakaian tidur cream. 'Kak, .. Asti mau tidur ama kakak,
pengen dipelukin dan dimanjain.. Saat itu yang pertama bereaksi
adalah si Ucok di dalam sarung dan
berteriak mengacung.. MERDEKA.. Dapat dibayangkan 2 orang
berlainan jenis dalam 1 kamar yang
dingin.. Asti memelukku.. aku balas
memeluknya erat. Sangat lama kami
berpelukan.. Dalam posisi berdiri,
kami berpelukan seakan berdansa..
setelah puas, aku gendong asti ke
pembaringan.., kurebahkan dia, kutanggalkan pakaian tidurnya, Asti
hanya menggunakan G string.,.. Asti
pasrah, menikmati, badannya yang
polos.. Asti memandangku saat aku
buka sarung, satu2nya penutup
bagian tubuhku.. Kurebahkan diriku disamping tubuhnya, aku cium dan
rasakan tiap jengkal tubuhnya,
bukitnya yang putih begitu indah
mencuat, kontras dengan tanganku
yang hitam.. Kak.. Aku sering
mimpikan ini.. kak.. puaskan aku.., sayangi aku.. Kuremas bukit indahnya sambil
menciumi putingnya,.. Asti
menggelinjang hebat.. tangannya
meraih penisku.. Dikocoknya
perlahan.., kumasukkan tanganku,
ke dalam CD G string hitam asti, Asti mengangkat pinggulnya
membantuku melepas satu2nya
penutup tubuhnya. Lembab dan
basah vagina asti oleh lendir hasrat,
kutekan ujung jariku sedikit masuk,
otomatis pinggulnya mengangkat dan berusaha agar jariku masuk
lebih dalam.. beberapa lama aktifitas
itu aku lakukan. Asti pengen hisap
punya kakak.. pintanya. Aku segera berdiri dengan penis
masih teracung tegak, Asti bangkit
mengulumnya.. woww hisapannya
ruarr biasa, penisku seakan berada
dalam vaginanya.., segera aku atur
posisi 69 untuk menikmati lendir gairah yang udah disediakan, setelah
beberapa menit Asti menggelinjang
sambil berteriak, 'kak.. Asti pengen
keluar, Kak ..gerakannya tambah
liar. Kuhentikan jilatanku dan
kuposisikan penisku penetrasi ke vaginanya yang benar-benar basah.
Clepp, mudah sekali penisku
menerobos masuk, aku berusaha
mempertahankan very
slow..kurasakan benar dinding-
dinding vagina Asti, saat kutemukan g spotnya, (sedikit dibawah
permukaan dalam di bawah clitnya)
kuarahkan agar tetap menyentuh
that area.. Asti benar2 tak dapat
menguasai diri, dijepitnya
pinggangku dengan kaki dan ditahannya pada posisi yang
dikekehendaki.. Kakk.. kurasakan
denyutan dahsyat otot vagina Asti,
sangat kencang, lebih kencang dari
denyutan Yuke.., God.. i'm
cumming.. teriaknya. Saat kedutannya mengendor, kupercepat
gerakanku, aku ingin menuntaskan
semuanya.. beberapa genjotan
sampai terasa telah hamper sampai,
aku tarik penisku dan tumpahkan
semua di luar.. Asti agak kecewa.. namun aku tak segila itu untuk
mempunyai seorang anak lagi. Begitulah pengalamanku dengan
adik iparku, Setelah Andi pulang,
aku selalu berusaha mencari
kesempatan untuk bersenggama
dengannya, Asti sempat tinggal
selama 6 bulan sebelum ada panggilan kerja di Singapura. Juni nanti Asti akan kembali,.. aku
takut.. tapi juga rindu bertemu
dengannya.. TAMAT
adikq
Cerita ini melibatkan saya dan adik
kandung saya. Nama saya Andy,
saat ini saya pria berumur 26 tahun.
Sedangkan adik saya bernama
Rindy, berumur 23 tahun. Cerita ini
berawal ketika saya berumur 10 tahun, dimana saya mulai menyukai
cerita-cerita yang berhubungan
dengan seks. Pada umur tersebut saya juga sudah
terbiasa melakukan masturbasi. Pada
suatu ketika, saya melihat berita di
sebuah surat kabar tentang
hubungan seks antara kakak-
beradik. Saya telah sudah sering membaca tentang berbagai cerita
seks, tetapi baru kali ini antara
saudara sendiri. Ini merupakan cerita
yang sangat menarik. Setiap
mengingat cerita tersebut, saya
menjadi semakin tertarik. Karena cerita tersebut, sepertinya dapat
diwujudkan. Pada saat itu, saya menempati
ruangan tidur yang sama dengan
adikku, Rindy. Hanya saja
menempati ranjang yang berbeda,
namun jaraknya hanya sekitar 2
meter. Suatu malam sekitar pukul 00.30, saya terbangun sementara
tampaknya semua orang di rumah ini
sudah tertidur. Aku lihat Rindy juga tertidur pulas.
Selimutnya tersingkap sebagian pada
bagian paha. Sementara kedua
kakinya membentang, sehingga
celana dalamnya terlihat. Hal ini
membuat saya menjadi bernafsu, apalagi jika mengingat cerita tentang
hubungan seks kakak-beradik. Perlahan saya turun dari tempat
tidur, dan mendekati ranjang Rindy.
Saya ingin memastikan bahwa ia
tertidur pulas, dengan menggelitik
telapak kakinya. Dan ternyata ia
tertidur pulas. Tak tahan lagi, saya sentuhkan jari-jari saya ke cd Rindy
yang menutupi vaginanya. Semakin
lama sentuhan yang saya berikan
semakin keras menekan, dan rindy
tetap tertidur. Merasa kurang puas, saya mencoba
menyentuh langsung vagina Rindy
dengan memasukkan tangan saya ke
dalam cd-nya melalaui bagian perut.
Tangan saya bergetar cukup
keras.Saya tidak perduli, dan akhirnya saya dapat menggapai
vagina Rindy secara langsung. Saya
remas-remas. Dan jari-jari saya
merasakan celah. Setelah beberapa
saat, merasa kurang puas, saya
keluarkan tangan saya dan bermaksud membuka cd yang
dikenakan Rindy. Dengan kedua
tangan, perlahan saya turunkan cd-
nya. Ketika sebagian vagina mulai
terlihat, usaha untuk menurunkan
lebih jauh agak sulit.Dengan usaha lebih tekun akhirnya, saya berhasil
menurunkan cd Rindy sampai
seluruh bagian vagina terlihat. Tak tahan lagi, saya ciumi vagina
Rindy. Kemudian saya mencoba
mencari lubang yang sering saya
dengar, tempat melakukan hubungan seks. Saya
pikir ada di bagian depan, ternyata
pikiran saya selama ini salah. ternyata
posisi yang sebenarnya ada di bagian
bawah. Kembali saya ciumi dan jilati
vagina rindy sampai pada bagian
lubang. Saya sudah benar-benar tidak tahan lagi.
Saya lepaskan celana saya, dan
perlahan naik ke ranjang Rindy.
Sementara tangan kanan menahan
tubuh, tangan kiri mengarahkan
penis ke lubang vagina. Tampaknya tidak mungkin. Saya mencoba
memasukkan dari depan, padahal
lubang ada di bawah. Sementara saya berusaha, tiba-tiba
tubuh Rindy bergerak. Karena takut
ketahuan, saya cepat-cepat bangun
dan merapihkan kembali cd Rindy.
Mengenakan celana saya dan
kembali ke ranjang. Dan kembali
tidur. ***** Pengalaman pada malam tersebut,
terkenang selalu. Bahkan pada saat
belajar di sekolah. Membuat saya
selalu menunggu datangnya malam, saat
dimana semua orang tertidur. Selama
beberapa malam saya melakukan
usaha serupa, tapi selalu gagal ketika takut Rindy
terbangun. Sampai suatu malam ketika saya
benar-benar sangat bernafsu. Saya
sudah melepaskan cd Rindy dan
saya sudah tidak mengenakan celana
dan baju. Benar-benar bugil. Saya
sudah bulatkan tekad untuk melakukannya malam ini. Perlahan
saya menaiki ranjang Rindy. Kedua
kaki Rindy, saya rentangkan lebar-
lebar. Saya ciumi vagina Rindy
sepuas hati. Ketika bosan, saya mulai
arahkan penis saya ke vagina Rindy. Ternyata tidak semudah yang
dibayangkan. Sulit sekali
mengarahkan penis ke vagina.
Ketika penis saya mulai memasuki
vagina, saya semakin terangsang.
Apapun yang terjadi saya harus berhasil malam ini. Saya dorong
penis saya semakin memasuki vagina
Rindy. Pada suatu saat terasa agak
sulit, namun saya terus memaksa.
Sampai seluruh penis saya masuk ke
dalam vagina Rindy. Semua usaha saya tersebut,
membuat Rindy terbangun. Mungkin
saya pikir membuat rasa sakit pada
Rindy. Ia bingung dengan apa yang terjadi. Ia
merintih dan mulai memprotes apa
yang saya lakukan. Namun saya
berkata kepada Rindy, 'Sst..., jangan
berisik dan dimarahin mami. Kalo
malam-malam berisik nanti dijewer lho'. Mendengar komentar saya
tersebut, ternyata Rindy langsung
diam - hanya kadang-kadang
merintih menahan sakit. Saya terus menggoyang pinggan
saya, mendorong penis masuk dan
keluar dari vagina Rindy. Karena
baru pertama kali, permainan saya
hanya berlangsung tidak sampai 2
menit. Saya istirahat sebentar. Dan Rindy pun karena lelah, juga kembali
tertidur. Setelah beberapa saat, penis
saya mulai bangkit lagi. Kembali aku
peluk Rindy, dan aku arahkan penis
saya ke vagina Rindy. Kembali
vagina Rindy digesek oleh penis saya. Untuk permainan kedua, saya
bisa bertahan sampai 3 menit -
sampai akhirnya saya kelelahan lagi.
Malam itu saya melakukan sampai 3
kali. Setelah itu saya rapihkan
pakaian rindy dan juga pakaian saya. Dan kembali tidur di ranjang
masing-masing. Sejak malam itu, hampir setiap malam
saya melakukan hubungan seks
dengan Rindy. Pada awalnya Rindy
hanya menerima apa yang saya lakukan,
tetapi setelah setahun tampaknya
Rindy mulai menyukainya. Karena
ketika saya tertidur, Rindy datang ke ranjang
saya dan memegang penis saya.
Selama 4 tahun, saya menyetubuhi
Rindy dengan leluasa. Tapi ketika ia
menginjak 11 tahun, saya tidak bisa
leluasa seperti dulu, karena salah- salah bisa saja dapat mengakibatkan
Rindy hamil. Ketika saya berumur 12 tahun (Rindy
9 tahun), kami sering mencari
kesempatan selain pada malam hari.
Ketika hari libur, dimana papi ke
kantor dan mami ke pasar. Tapi
yang paling kami sukai ketika hari libur, papi dan mami pergi
mengunjungi saudara atau ada
undangan. Karena bisa seharian kami
memuaskan diri melakukan
hubungan seks. Bahkan seharian itu,
kami sama-sama tidak mengenakan pakaian. Ketika leluasa, kami melakukan seks
di kamar kami (tapi sejak saya umur
12 tahun, kamar kami terpisah),
kamar mami-papi, di ruang tamu,
ruang keluarga atau bahkan di
kebun belakang yang tertutup. Mungkin yang paling
menggairahkan adalah ketika kami
bercinta di kebun belakang. Di atas
rumput jepang yang hijau rapih.
Dengan atap langit, ditiup angin
alami. Bahkan kami pernah melakukannya di saat hujan deras. Sampai saat ini kami tetap
melakukannya secara kontinyu.
Walau kami masing-masing
mempunyai pacar, tetapi hubungan
kami tetap berlangsung. Jika di
rumah tidak ada kesempatan kami biasanya melakukannya di sebuah
hotel. Rupanya hubungan antara
saya dan Rindy, ada orang lain yang
mengetahui, yaitu Melly, salah
seorang adik saya. Pada saat itu saya
berumur 24 tahun, Rindy 21 tahun dan Melly 19 tahun. Kejadiannya ketika saat kedua orang
tua kami mengunjungi saudara di
luar kota selama 3 hari. Di rumah
saya dan kedua adik saya. Seperti
biasa setiap ada kesempatan saya
dan Rindy mempunyai keinginan untuk bercinta. Saat itu Melly hari
Sabtu pukul 8.30 dan Melly masih
tertidur. Saya dan Rindy saling
berpelukan di ruang keluarga. Saya
ciumi payudaranya, perut dan
lehernya secara begantian. Sementara itu tangan saya
melakukan gerilya di balik cd yang
dikenakan Rindy, menelusuri
gunung dan lembah di balik cd. Setelah beberapa lama melakukan
pemanasan, saya mulai melepas
daster dan cd yang dikenakan
Rindy. Ia terlentang dalam posisi
tanpa busana. Sementara saya
membuka seluruh pakaian saya, Rindy merentangkan kakinya lebar-
lebar dan menggosok-gosok
vaginanya dengan tangannya. Saya
segera peluk rindy dengan penuh
nafsu, kami saling berpeluk erat dan
meraba. Penis, saya gesek-gesekan pada bagian luar vagina Rindy. Dada
saya menekan keras pada payudara.
Bibir kami saling memagut, dan lidah
kami saling merasakan. Ketika cukup lelah kami bergulat,
saya mulai arahkan penis saya yang
berukuran 15 cm dan diameter 1,25
inch. Perlahan memasuki liang
vagina Rindy. Tiba-tiba saja kaki
Rindy melingkar dan menekan di pinggang saya. Dimulai dengan
perlahan, saya menggerakan penis
masuk dan keluar. Bunyi becek
yang kami hasilkan membuat saya
menjadi lebih bernafsu. Saya lebih
percepat lagi gerakan masuk dan keluar. Hal ini membuat Rindy
tambah bernafsu juga, sehingga ia
mendesah dengan suara yang tidak
bisa dibilang kecil. Kami saling
berpelukan, kedua tangan kami
masing-masing saling melingkar, menekan punggung. Kaki Rindy
melingkar di pinggang saya.
Sementara saya mengambil posisi
bertumpu pada lutut yang menekuk.
Setiap hentakan pinggul saya
mendorong, selain menghasilkan bunyi becek juga menghasilnya
bunyi hentakan karena paha saya
dan bokong Rindy beradu. Namun saya berusaha menahan
nafsu, karena saya tidak ingin
orgasme lebih dulu sebelum rindy.
Saya coba konsentrasi. Sementara
bunyi desahan dan erangan rindy
sudah mulai bermacam dan semakin keras. Ketika saya harus
berkonsentrasi dan Rindy sudah
hampir mencapai orgasme, saya
menyadari ternyata dua meter dari
posisi saya dan Rindy telah berdiri
Melly. Tentu ia tahu apa yang sedang kami lakukan. Tentu saja, saya kaget dan membuat
konsentrasi saya pecah. Penis saya
melemah, dan membuat gerakan
masuk dan keluar terganggu. Hal ini
membuat tanda tanya bagi Rindy
yang sudah hampir mencapai orgasme. Rindy memperhatikan
pandangan saya, dan ia baru
menyadari bahwa ada yang
memperhatikan aktifitas kami. Namun
karena Rindy sedang pada puncak
nafsunya, ia hanya berkata, 'Biarin aja, ayo dong terusin. Ngga tahan
nih', sambil berusaha
membangunkan kembali penis saya. Mendengar ucapan Rindy, membuat
saya kembali konsentrasi dan
membangunkan kembali penis.
Aktifitas kembali normal, saya terus
menggoyang Rindy. Ketika Rindy
benar-benar hapir orgasme, tiba-tiba saja ia mendorong tubuh saya
sehingga saya terduduk. Sementara
penis saya tetap di dalam vagina
Rindy, ia juga mengambil posisi
duduk dan tetap memeluk saya.
Seperti kegilaan, Rindy mengangkat dan menjatuhkan tubuhnya di atas
penis saya. Setelah beberapa detik,
saya merasakan sesuatu yang panas
mengalir menyelimuti penis saya.
Rupanya Rindy sudah orgasme.
Saya baringkan kembali tubuh Rindy, dan saya guncang tubuhnya
lebih keras. Tubuhnya bergetar
hebat karena hentakan yang saya
berikan. Setelah satu menit, saya
mulai merasa akan keluar. Saya
benamkan penis saya dalam-dalam ke vagina Rindy. 'Mmmm ...', suara
Rindy bersamaan dengan saat
sperma saya membanjiri vaginanya.
Saya tidak khawatir, karena Rindy
sudah minum pil. Kami berpelukan
beberapa saat. Ketika permainan selesai, ternyata
Melly masih tetap di tempat pada saat
saya melihat dia. Ia masih
memandangi kami. Ketika Rindy
melihat dan menyapanya, tiba-tiba
saja Melly lari ke kamarnya. ***** Aku dan Rindy membawa pakaian
kami masing-masing dan menuju
kamar mandi untuk bersih-bersih. Di
kamar mandi pun, kami masih
sempat saling memberi sentuhan.
Selesai mandi, Rindy masuk ke kamarnya dan saya masuk ke kamar
saya. Baru beberapa saat tiduran di kamar,
saya merasa ada seseorang yang
membangunkan saya. Ketika saya
lihat ternyata Melly. Ia bertanya, 'Kak
Andy, kenapa sih koq dengan Kak
Rindy ?. Saya sebenarnya tahu persis apa yang dimaksud. Untuk
memastikan saya bertanya, 'Apa
maksud Melly ?'. 'Kenapa koq Kak
Andy melakukan hubungan seks
dengan Kak Rindy. Dia kan adik
kandung sendiri. Koq tega sih.', Melly menjawab. Saya agak bingung untuk menjawab
apa. 'Mel, Kak Andy sayang ke Kak
Rindy dan begitu sebaliknya. Karena
itu Kak Andy dan Rindy melakukan
hal itu. Karena sama-sama suka. Kalo
Kak Rindy ngga suka mana mungkin lah bakal terjadi kaya tadi. Iya kan.'. 'Tapi kan ... tapi kan ...', Melly
terdiam. 'Mel, Melly ngga mau kan ada
keributan di rumah. Jangan bilang
mami papi ya. Andy yakin, Melly
mengerti apa yang dilakukan Andy
dengan Kak Rindy. Dan itu sudah
berlangsung lebih dari 12 tahun.', saya mencoba menenangkan
suasana. 'Apa, 12 tahun ?', Melly tampak
kaget dengan penjelasan saya. 'Jadi
Kak Andy sudah melakukannya
sejak kecil. Dan papi-mami ngga
tahu.', enath mengapa hal ini
membuat tampang Melly seperti orang bingung. 'Kalo boleh Mel tahu, bercinta itu
rasanya kaya apa sih ? Katanya kalo
gituan yang untung cuma cowok.
Tapi koq banyak cewek yang suka
juga.', tiba-tiba saja Melly
menanyakan suatu yang membuat saya cukup kaget. Di sisi lain, entah mengapa tiba-tiba
saja pertanyaan tersebut membuat
penis saya mengeras. Dari segi pisik,
Melly memang lebih menggairahkan
dibandingkan Rindy. Melly pada usia
19 tahun memiliki tinggi 164 cm dengan payudara yang menantang
dan tubuh yang padat berisi.
Ditambah pertanyaan 'Bagaimana
rasanya', membuat saya
berkeinginan bercinta dengan Melly.
'Susah untuk diceritakan, bagaimana kalo langsung dicoba ?, saya
memberanikan diri untuk
menyatakan langsung. Melly hanya
terdiam dan hanya tersenyum. Entah apa yang terjadi dengan saya,
langsung Melly saya peluk. Saya
berikan ciuman di leher dengan
penuh nafsu. Walaupun saya agak
canggung begitu pula dengan Melly,
tapi karena nafsu membuat segalanya berjalan lancar. Saya raba
seluruh bagian tubuh yang sensitif.
Saat itu saya tidak ingin berlama-
lama. Segera saya buka seluruh
pakaian yang dikenakan Melly. Ia
malu-malu menutup payudaranya dengan kedua tangan dan
menyilangkan kakinya untuk
menutup vaginanya. Ternyata Melly
benar-benar menggairahkan dalam
posisi tanpa busana. Saya pun
melepas seluruh pakaian saya. Saya dekati Melly, saya usap
keningnya, dan tangan saya turun
perlahan ke tangannya. Saya
genggam tanggannya, berusaha
melepaskan tanggannya yang
menutupi payudaranya. Walau pada awalnya melawan, namun akhirnya
melepaskan juga. Saya ciumi
payudaranya yang kanan,
sementara yang kiri saya remas-
remas. Saya nikmati payudaranya
dari dasar bukit sampai ke puncaknya. Saya setengah duduk
pada perut Melly. Dengan kedua
tangan saya meremas payudara
kanan dan kirinya. 'Hmm, Kak Andy sakit ih.', Melly
berkomentar. 'Kalo gitu berhenti ya ?', saya tahu
walaupun merasakan sedikit sakit
Melly jug abisa menikmatinya.
'Jangan... jangan dong ...', tiba-tiba
saja Melly setengah berteriak. Dan
saat ia sadar dengan teriakannya mukanya memerah. Saya teruskan menikmati tubuh
Melly. Lidah saya bergerak dari celah
antara kedua payudara turun
menjelajah perut. Dan turun lagi
mengarungi hutan yang menutupi
vagina Melly. Saya ciumi rambut yang menutupi vaginanya, sambil
sesekali saya tarik dengan bibir dan
lidah saya. Tanpa sadar, Melly
melemaskan kedua kakinya
membuat saya dengan mudah
merentangkan kakinya lebar-lebar. Saya segera mengambil posisi di
antara kedua kakinya. Kedua tangan
saya mencoba membuka celah
vagina Melly sampai lubang
vaginanya terlihat. Segera saya cium
dan jilati vagina Melly dengan penuh nafsu. Sesekali saya menggigit
bagian luar vagina Melly. Saya tahu
ini membuat melly kegelian sehingga
sesekali mendorong kepala saya. Setelah lidah saya pusa bermain,
penis saya sudah tidak sabar. Saya
ambil posisi duduk dengan kedua
kaki saya direntangkan. Dan kedua
kaki Melly saya letakkan di atas paha
saya. Penis saya sudah di mulut vagina Melly. Untuk menenangkan,
saya mengatakan, 'Mel, untuk
pertama mungkin sakit tetapi
sesudahnya ngga koq. Tahan ya ?',
dan Melly hanya terdiam. Kepala penis saya masukkan,
perlahan namun pasti penis saya
bergerak masuk. Samapi saat saya
merasa ada yang menahan untuk
maju lebih jauh. Saya tahu pasti itu
selaput dara Melly. Tentu ia masih perawan. Waktu pertama dengan
Rindy mungkin saya tidak mengerti,
tapi pengalaman dengan pacar saya
membuat saya tahu. Saya terus
mendorong secara perlahan. Rasa
sakit mulai mengganggu Melly, sesekali ia menggangkat tubuhnya
dengan punggungnya. Tapi suatu
kali karena sakit, ia menggerakan
tubuhnya cukup keras. Hal ini
membuat pinggulnya mendorong ke
arah penis saya. Dan ... selaput dara Melly telah saya tembus. Ia
merasakan sakit. Untuk sementara,
saya diamkan sampai Melly tenang. Ketika ia sudah tenang, saya
masukan penis saya lebih jauh lagi.
Sampai akhirnya seluruhnya masuk.
Perlahan saya tari keluar dan dorong
lagi ke dalam. Kalau saya perhatikan,
setiap penis saya masuk dan keluar, ada bagian vagian Melly yang
terdorong dan keluar. Itu karena
vagina Melly masih sangat sempit.
Sungguh sangat erotis melihatnya.
Saya lihat Melly menyukainya,
walaupun masih terlihat ekspresi rasa sakit di wajahnya. Sambil menggerakan penis saya
keluar masuk vagina Melly, saya
lumat payudaranya. Gerakan saya
semakin bersemangat. Dorongan
dan tarikan saya semakin cepat,
mungkin karena sempitnya vagina Melly membuat saya lebih cepat
orgasme. Tapi saya tidak berani
menyebarkan sperma saya di dalam
vagian Melly seperti saya lakukan
pada Rindy. Ketika hampir saatnya,
saya segera cabut dan saya gosok- gosokan pada bagian luar vaginanya
sampai akhirnya meluap dan
membanjiri permukaan vagina dan
rambut-rambutnya. Saya sadar bahwa Melly belum
merasa puas, segera saya masukan
jari tengah saya ke dalam vaginanya.
Saya gosok-gosokan sambil kepala
saya rebahan di payudaranya.
Setelah dua menit tubuh Melly seperti mengejang. Ia seperti meledak-ledak
dan ia terdiam melepaskan
kekejangan di ototnya. Jari saya benar-benar basah dibanjiri
cairan dari dalam vaginanya. Saya
oleskan ke penis saya, ke
pangkalnya ke kepalanya dan
lubang penis saya. Hal ini
membangkitkan kembali penis saya. Saya berniat memasukkan kembali
penis saya ke vagina Melly. Tiba-tiba saya dengar suara Rindy,
'Ehh jangan, kamu kan ngga tahu
jadwalnya Melly. Nanti bahaya'.
Setelah itu ia melepaskan seluruh
pakaiannya dan menyiapkan
tubuhnya untuk saya. Sekali lagi saya bercinta dengan Rindy. Kali ini
pertempuran berlangsung benar-
benar lama. Setelah sama-sama
sampai pada puncaknya saya
terjatuh dan terlelap di atas tubuh
Rindy, sementara penis saya masih di dalam vaginanya. Saat saya sadar, ternyata Melly juga
tertidur di samping saya dan Rindy.
Sore itu aktifitas kami hanya
bercinta, mandi, makan dan bercinta.
Hari itu saya bercinta dengan Rindy
sebanyak 3 kali dan dengan Melly 4 kali. Sampai pukul 23.00, dan
terbangun pada hari Minggu pukul
9.30. Sejak saat itu, selain dengan Rindy
saya juga bercinta dengan Melly.
Keduanya adik kandung saya. Kami
saling menyayangi. Kami masing-
masing mempunyai kehidupan di
luar rumah, seperti adanya yang lain. Tapi juga punya kehidupan di dalam
rumah yang tersendiri. Jadi pada saat ini saya, mempunyai
aktifitas seks dengan tiga orang,
yaitu Rindy, Melly dan pacar saya. Melly mempunyai seorang teman
akrab, teman sekolah. Namanya Lili,
orangnya cantik, sexy dan
menggairahkan. Mereka saling
bercerita tentang rahasia mereka
masing-masing. Hanya antara mereka. Suatu ketika, saat saya
sedang bercinta dengan Melly, ia
menceritakan bahwa ia telah
menceritakan aktifitas seks antara say
dan Melly atau Rindy kepada Lili.
Tapi ia menjamin bahwa, Lili akan menyimpan rahasia. Selain itu pada saat yang bersamaan,
Melly juga mengatakan bahwa Lili
punya rahasia. Yaitu Lili sering
diminta ayahnya untuk melakukan
hubugan seks. Cerita itu membuat
saya semakin bernafsu menyetubuhi Melly. Dan Melly tampaknya tahu hal
tersebut. TAMAT
kandung saya. Nama saya Andy,
saat ini saya pria berumur 26 tahun.
Sedangkan adik saya bernama
Rindy, berumur 23 tahun. Cerita ini
berawal ketika saya berumur 10 tahun, dimana saya mulai menyukai
cerita-cerita yang berhubungan
dengan seks. Pada umur tersebut saya juga sudah
terbiasa melakukan masturbasi. Pada
suatu ketika, saya melihat berita di
sebuah surat kabar tentang
hubungan seks antara kakak-
beradik. Saya telah sudah sering membaca tentang berbagai cerita
seks, tetapi baru kali ini antara
saudara sendiri. Ini merupakan cerita
yang sangat menarik. Setiap
mengingat cerita tersebut, saya
menjadi semakin tertarik. Karena cerita tersebut, sepertinya dapat
diwujudkan. Pada saat itu, saya menempati
ruangan tidur yang sama dengan
adikku, Rindy. Hanya saja
menempati ranjang yang berbeda,
namun jaraknya hanya sekitar 2
meter. Suatu malam sekitar pukul 00.30, saya terbangun sementara
tampaknya semua orang di rumah ini
sudah tertidur. Aku lihat Rindy juga tertidur pulas.
Selimutnya tersingkap sebagian pada
bagian paha. Sementara kedua
kakinya membentang, sehingga
celana dalamnya terlihat. Hal ini
membuat saya menjadi bernafsu, apalagi jika mengingat cerita tentang
hubungan seks kakak-beradik. Perlahan saya turun dari tempat
tidur, dan mendekati ranjang Rindy.
Saya ingin memastikan bahwa ia
tertidur pulas, dengan menggelitik
telapak kakinya. Dan ternyata ia
tertidur pulas. Tak tahan lagi, saya sentuhkan jari-jari saya ke cd Rindy
yang menutupi vaginanya. Semakin
lama sentuhan yang saya berikan
semakin keras menekan, dan rindy
tetap tertidur. Merasa kurang puas, saya mencoba
menyentuh langsung vagina Rindy
dengan memasukkan tangan saya ke
dalam cd-nya melalaui bagian perut.
Tangan saya bergetar cukup
keras.Saya tidak perduli, dan akhirnya saya dapat menggapai
vagina Rindy secara langsung. Saya
remas-remas. Dan jari-jari saya
merasakan celah. Setelah beberapa
saat, merasa kurang puas, saya
keluarkan tangan saya dan bermaksud membuka cd yang
dikenakan Rindy. Dengan kedua
tangan, perlahan saya turunkan cd-
nya. Ketika sebagian vagina mulai
terlihat, usaha untuk menurunkan
lebih jauh agak sulit.Dengan usaha lebih tekun akhirnya, saya berhasil
menurunkan cd Rindy sampai
seluruh bagian vagina terlihat. Tak tahan lagi, saya ciumi vagina
Rindy. Kemudian saya mencoba
mencari lubang yang sering saya
dengar, tempat melakukan hubungan seks. Saya
pikir ada di bagian depan, ternyata
pikiran saya selama ini salah. ternyata
posisi yang sebenarnya ada di bagian
bawah. Kembali saya ciumi dan jilati
vagina rindy sampai pada bagian
lubang. Saya sudah benar-benar tidak tahan lagi.
Saya lepaskan celana saya, dan
perlahan naik ke ranjang Rindy.
Sementara tangan kanan menahan
tubuh, tangan kiri mengarahkan
penis ke lubang vagina. Tampaknya tidak mungkin. Saya mencoba
memasukkan dari depan, padahal
lubang ada di bawah. Sementara saya berusaha, tiba-tiba
tubuh Rindy bergerak. Karena takut
ketahuan, saya cepat-cepat bangun
dan merapihkan kembali cd Rindy.
Mengenakan celana saya dan
kembali ke ranjang. Dan kembali
tidur. ***** Pengalaman pada malam tersebut,
terkenang selalu. Bahkan pada saat
belajar di sekolah. Membuat saya
selalu menunggu datangnya malam, saat
dimana semua orang tertidur. Selama
beberapa malam saya melakukan
usaha serupa, tapi selalu gagal ketika takut Rindy
terbangun. Sampai suatu malam ketika saya
benar-benar sangat bernafsu. Saya
sudah melepaskan cd Rindy dan
saya sudah tidak mengenakan celana
dan baju. Benar-benar bugil. Saya
sudah bulatkan tekad untuk melakukannya malam ini. Perlahan
saya menaiki ranjang Rindy. Kedua
kaki Rindy, saya rentangkan lebar-
lebar. Saya ciumi vagina Rindy
sepuas hati. Ketika bosan, saya mulai
arahkan penis saya ke vagina Rindy. Ternyata tidak semudah yang
dibayangkan. Sulit sekali
mengarahkan penis ke vagina.
Ketika penis saya mulai memasuki
vagina, saya semakin terangsang.
Apapun yang terjadi saya harus berhasil malam ini. Saya dorong
penis saya semakin memasuki vagina
Rindy. Pada suatu saat terasa agak
sulit, namun saya terus memaksa.
Sampai seluruh penis saya masuk ke
dalam vagina Rindy. Semua usaha saya tersebut,
membuat Rindy terbangun. Mungkin
saya pikir membuat rasa sakit pada
Rindy. Ia bingung dengan apa yang terjadi. Ia
merintih dan mulai memprotes apa
yang saya lakukan. Namun saya
berkata kepada Rindy, 'Sst..., jangan
berisik dan dimarahin mami. Kalo
malam-malam berisik nanti dijewer lho'. Mendengar komentar saya
tersebut, ternyata Rindy langsung
diam - hanya kadang-kadang
merintih menahan sakit. Saya terus menggoyang pinggan
saya, mendorong penis masuk dan
keluar dari vagina Rindy. Karena
baru pertama kali, permainan saya
hanya berlangsung tidak sampai 2
menit. Saya istirahat sebentar. Dan Rindy pun karena lelah, juga kembali
tertidur. Setelah beberapa saat, penis
saya mulai bangkit lagi. Kembali aku
peluk Rindy, dan aku arahkan penis
saya ke vagina Rindy. Kembali
vagina Rindy digesek oleh penis saya. Untuk permainan kedua, saya
bisa bertahan sampai 3 menit -
sampai akhirnya saya kelelahan lagi.
Malam itu saya melakukan sampai 3
kali. Setelah itu saya rapihkan
pakaian rindy dan juga pakaian saya. Dan kembali tidur di ranjang
masing-masing. Sejak malam itu, hampir setiap malam
saya melakukan hubungan seks
dengan Rindy. Pada awalnya Rindy
hanya menerima apa yang saya lakukan,
tetapi setelah setahun tampaknya
Rindy mulai menyukainya. Karena
ketika saya tertidur, Rindy datang ke ranjang
saya dan memegang penis saya.
Selama 4 tahun, saya menyetubuhi
Rindy dengan leluasa. Tapi ketika ia
menginjak 11 tahun, saya tidak bisa
leluasa seperti dulu, karena salah- salah bisa saja dapat mengakibatkan
Rindy hamil. Ketika saya berumur 12 tahun (Rindy
9 tahun), kami sering mencari
kesempatan selain pada malam hari.
Ketika hari libur, dimana papi ke
kantor dan mami ke pasar. Tapi
yang paling kami sukai ketika hari libur, papi dan mami pergi
mengunjungi saudara atau ada
undangan. Karena bisa seharian kami
memuaskan diri melakukan
hubungan seks. Bahkan seharian itu,
kami sama-sama tidak mengenakan pakaian. Ketika leluasa, kami melakukan seks
di kamar kami (tapi sejak saya umur
12 tahun, kamar kami terpisah),
kamar mami-papi, di ruang tamu,
ruang keluarga atau bahkan di
kebun belakang yang tertutup. Mungkin yang paling
menggairahkan adalah ketika kami
bercinta di kebun belakang. Di atas
rumput jepang yang hijau rapih.
Dengan atap langit, ditiup angin
alami. Bahkan kami pernah melakukannya di saat hujan deras. Sampai saat ini kami tetap
melakukannya secara kontinyu.
Walau kami masing-masing
mempunyai pacar, tetapi hubungan
kami tetap berlangsung. Jika di
rumah tidak ada kesempatan kami biasanya melakukannya di sebuah
hotel. Rupanya hubungan antara
saya dan Rindy, ada orang lain yang
mengetahui, yaitu Melly, salah
seorang adik saya. Pada saat itu saya
berumur 24 tahun, Rindy 21 tahun dan Melly 19 tahun. Kejadiannya ketika saat kedua orang
tua kami mengunjungi saudara di
luar kota selama 3 hari. Di rumah
saya dan kedua adik saya. Seperti
biasa setiap ada kesempatan saya
dan Rindy mempunyai keinginan untuk bercinta. Saat itu Melly hari
Sabtu pukul 8.30 dan Melly masih
tertidur. Saya dan Rindy saling
berpelukan di ruang keluarga. Saya
ciumi payudaranya, perut dan
lehernya secara begantian. Sementara itu tangan saya
melakukan gerilya di balik cd yang
dikenakan Rindy, menelusuri
gunung dan lembah di balik cd. Setelah beberapa lama melakukan
pemanasan, saya mulai melepas
daster dan cd yang dikenakan
Rindy. Ia terlentang dalam posisi
tanpa busana. Sementara saya
membuka seluruh pakaian saya, Rindy merentangkan kakinya lebar-
lebar dan menggosok-gosok
vaginanya dengan tangannya. Saya
segera peluk rindy dengan penuh
nafsu, kami saling berpeluk erat dan
meraba. Penis, saya gesek-gesekan pada bagian luar vagina Rindy. Dada
saya menekan keras pada payudara.
Bibir kami saling memagut, dan lidah
kami saling merasakan. Ketika cukup lelah kami bergulat,
saya mulai arahkan penis saya yang
berukuran 15 cm dan diameter 1,25
inch. Perlahan memasuki liang
vagina Rindy. Tiba-tiba saja kaki
Rindy melingkar dan menekan di pinggang saya. Dimulai dengan
perlahan, saya menggerakan penis
masuk dan keluar. Bunyi becek
yang kami hasilkan membuat saya
menjadi lebih bernafsu. Saya lebih
percepat lagi gerakan masuk dan keluar. Hal ini membuat Rindy
tambah bernafsu juga, sehingga ia
mendesah dengan suara yang tidak
bisa dibilang kecil. Kami saling
berpelukan, kedua tangan kami
masing-masing saling melingkar, menekan punggung. Kaki Rindy
melingkar di pinggang saya.
Sementara saya mengambil posisi
bertumpu pada lutut yang menekuk.
Setiap hentakan pinggul saya
mendorong, selain menghasilkan bunyi becek juga menghasilnya
bunyi hentakan karena paha saya
dan bokong Rindy beradu. Namun saya berusaha menahan
nafsu, karena saya tidak ingin
orgasme lebih dulu sebelum rindy.
Saya coba konsentrasi. Sementara
bunyi desahan dan erangan rindy
sudah mulai bermacam dan semakin keras. Ketika saya harus
berkonsentrasi dan Rindy sudah
hampir mencapai orgasme, saya
menyadari ternyata dua meter dari
posisi saya dan Rindy telah berdiri
Melly. Tentu ia tahu apa yang sedang kami lakukan. Tentu saja, saya kaget dan membuat
konsentrasi saya pecah. Penis saya
melemah, dan membuat gerakan
masuk dan keluar terganggu. Hal ini
membuat tanda tanya bagi Rindy
yang sudah hampir mencapai orgasme. Rindy memperhatikan
pandangan saya, dan ia baru
menyadari bahwa ada yang
memperhatikan aktifitas kami. Namun
karena Rindy sedang pada puncak
nafsunya, ia hanya berkata, 'Biarin aja, ayo dong terusin. Ngga tahan
nih', sambil berusaha
membangunkan kembali penis saya. Mendengar ucapan Rindy, membuat
saya kembali konsentrasi dan
membangunkan kembali penis.
Aktifitas kembali normal, saya terus
menggoyang Rindy. Ketika Rindy
benar-benar hapir orgasme, tiba-tiba saja ia mendorong tubuh saya
sehingga saya terduduk. Sementara
penis saya tetap di dalam vagina
Rindy, ia juga mengambil posisi
duduk dan tetap memeluk saya.
Seperti kegilaan, Rindy mengangkat dan menjatuhkan tubuhnya di atas
penis saya. Setelah beberapa detik,
saya merasakan sesuatu yang panas
mengalir menyelimuti penis saya.
Rupanya Rindy sudah orgasme.
Saya baringkan kembali tubuh Rindy, dan saya guncang tubuhnya
lebih keras. Tubuhnya bergetar
hebat karena hentakan yang saya
berikan. Setelah satu menit, saya
mulai merasa akan keluar. Saya
benamkan penis saya dalam-dalam ke vagina Rindy. 'Mmmm ...', suara
Rindy bersamaan dengan saat
sperma saya membanjiri vaginanya.
Saya tidak khawatir, karena Rindy
sudah minum pil. Kami berpelukan
beberapa saat. Ketika permainan selesai, ternyata
Melly masih tetap di tempat pada saat
saya melihat dia. Ia masih
memandangi kami. Ketika Rindy
melihat dan menyapanya, tiba-tiba
saja Melly lari ke kamarnya. ***** Aku dan Rindy membawa pakaian
kami masing-masing dan menuju
kamar mandi untuk bersih-bersih. Di
kamar mandi pun, kami masih
sempat saling memberi sentuhan.
Selesai mandi, Rindy masuk ke kamarnya dan saya masuk ke kamar
saya. Baru beberapa saat tiduran di kamar,
saya merasa ada seseorang yang
membangunkan saya. Ketika saya
lihat ternyata Melly. Ia bertanya, 'Kak
Andy, kenapa sih koq dengan Kak
Rindy ?. Saya sebenarnya tahu persis apa yang dimaksud. Untuk
memastikan saya bertanya, 'Apa
maksud Melly ?'. 'Kenapa koq Kak
Andy melakukan hubungan seks
dengan Kak Rindy. Dia kan adik
kandung sendiri. Koq tega sih.', Melly menjawab. Saya agak bingung untuk menjawab
apa. 'Mel, Kak Andy sayang ke Kak
Rindy dan begitu sebaliknya. Karena
itu Kak Andy dan Rindy melakukan
hal itu. Karena sama-sama suka. Kalo
Kak Rindy ngga suka mana mungkin lah bakal terjadi kaya tadi. Iya kan.'. 'Tapi kan ... tapi kan ...', Melly
terdiam. 'Mel, Melly ngga mau kan ada
keributan di rumah. Jangan bilang
mami papi ya. Andy yakin, Melly
mengerti apa yang dilakukan Andy
dengan Kak Rindy. Dan itu sudah
berlangsung lebih dari 12 tahun.', saya mencoba menenangkan
suasana. 'Apa, 12 tahun ?', Melly tampak
kaget dengan penjelasan saya. 'Jadi
Kak Andy sudah melakukannya
sejak kecil. Dan papi-mami ngga
tahu.', enath mengapa hal ini
membuat tampang Melly seperti orang bingung. 'Kalo boleh Mel tahu, bercinta itu
rasanya kaya apa sih ? Katanya kalo
gituan yang untung cuma cowok.
Tapi koq banyak cewek yang suka
juga.', tiba-tiba saja Melly
menanyakan suatu yang membuat saya cukup kaget. Di sisi lain, entah mengapa tiba-tiba
saja pertanyaan tersebut membuat
penis saya mengeras. Dari segi pisik,
Melly memang lebih menggairahkan
dibandingkan Rindy. Melly pada usia
19 tahun memiliki tinggi 164 cm dengan payudara yang menantang
dan tubuh yang padat berisi.
Ditambah pertanyaan 'Bagaimana
rasanya', membuat saya
berkeinginan bercinta dengan Melly.
'Susah untuk diceritakan, bagaimana kalo langsung dicoba ?, saya
memberanikan diri untuk
menyatakan langsung. Melly hanya
terdiam dan hanya tersenyum. Entah apa yang terjadi dengan saya,
langsung Melly saya peluk. Saya
berikan ciuman di leher dengan
penuh nafsu. Walaupun saya agak
canggung begitu pula dengan Melly,
tapi karena nafsu membuat segalanya berjalan lancar. Saya raba
seluruh bagian tubuh yang sensitif.
Saat itu saya tidak ingin berlama-
lama. Segera saya buka seluruh
pakaian yang dikenakan Melly. Ia
malu-malu menutup payudaranya dengan kedua tangan dan
menyilangkan kakinya untuk
menutup vaginanya. Ternyata Melly
benar-benar menggairahkan dalam
posisi tanpa busana. Saya pun
melepas seluruh pakaian saya. Saya dekati Melly, saya usap
keningnya, dan tangan saya turun
perlahan ke tangannya. Saya
genggam tanggannya, berusaha
melepaskan tanggannya yang
menutupi payudaranya. Walau pada awalnya melawan, namun akhirnya
melepaskan juga. Saya ciumi
payudaranya yang kanan,
sementara yang kiri saya remas-
remas. Saya nikmati payudaranya
dari dasar bukit sampai ke puncaknya. Saya setengah duduk
pada perut Melly. Dengan kedua
tangan saya meremas payudara
kanan dan kirinya. 'Hmm, Kak Andy sakit ih.', Melly
berkomentar. 'Kalo gitu berhenti ya ?', saya tahu
walaupun merasakan sedikit sakit
Melly jug abisa menikmatinya.
'Jangan... jangan dong ...', tiba-tiba
saja Melly setengah berteriak. Dan
saat ia sadar dengan teriakannya mukanya memerah. Saya teruskan menikmati tubuh
Melly. Lidah saya bergerak dari celah
antara kedua payudara turun
menjelajah perut. Dan turun lagi
mengarungi hutan yang menutupi
vagina Melly. Saya ciumi rambut yang menutupi vaginanya, sambil
sesekali saya tarik dengan bibir dan
lidah saya. Tanpa sadar, Melly
melemaskan kedua kakinya
membuat saya dengan mudah
merentangkan kakinya lebar-lebar. Saya segera mengambil posisi di
antara kedua kakinya. Kedua tangan
saya mencoba membuka celah
vagina Melly sampai lubang
vaginanya terlihat. Segera saya cium
dan jilati vagina Melly dengan penuh nafsu. Sesekali saya menggigit
bagian luar vagina Melly. Saya tahu
ini membuat melly kegelian sehingga
sesekali mendorong kepala saya. Setelah lidah saya pusa bermain,
penis saya sudah tidak sabar. Saya
ambil posisi duduk dengan kedua
kaki saya direntangkan. Dan kedua
kaki Melly saya letakkan di atas paha
saya. Penis saya sudah di mulut vagina Melly. Untuk menenangkan,
saya mengatakan, 'Mel, untuk
pertama mungkin sakit tetapi
sesudahnya ngga koq. Tahan ya ?',
dan Melly hanya terdiam. Kepala penis saya masukkan,
perlahan namun pasti penis saya
bergerak masuk. Samapi saat saya
merasa ada yang menahan untuk
maju lebih jauh. Saya tahu pasti itu
selaput dara Melly. Tentu ia masih perawan. Waktu pertama dengan
Rindy mungkin saya tidak mengerti,
tapi pengalaman dengan pacar saya
membuat saya tahu. Saya terus
mendorong secara perlahan. Rasa
sakit mulai mengganggu Melly, sesekali ia menggangkat tubuhnya
dengan punggungnya. Tapi suatu
kali karena sakit, ia menggerakan
tubuhnya cukup keras. Hal ini
membuat pinggulnya mendorong ke
arah penis saya. Dan ... selaput dara Melly telah saya tembus. Ia
merasakan sakit. Untuk sementara,
saya diamkan sampai Melly tenang. Ketika ia sudah tenang, saya
masukan penis saya lebih jauh lagi.
Sampai akhirnya seluruhnya masuk.
Perlahan saya tari keluar dan dorong
lagi ke dalam. Kalau saya perhatikan,
setiap penis saya masuk dan keluar, ada bagian vagian Melly yang
terdorong dan keluar. Itu karena
vagina Melly masih sangat sempit.
Sungguh sangat erotis melihatnya.
Saya lihat Melly menyukainya,
walaupun masih terlihat ekspresi rasa sakit di wajahnya. Sambil menggerakan penis saya
keluar masuk vagina Melly, saya
lumat payudaranya. Gerakan saya
semakin bersemangat. Dorongan
dan tarikan saya semakin cepat,
mungkin karena sempitnya vagina Melly membuat saya lebih cepat
orgasme. Tapi saya tidak berani
menyebarkan sperma saya di dalam
vagian Melly seperti saya lakukan
pada Rindy. Ketika hampir saatnya,
saya segera cabut dan saya gosok- gosokan pada bagian luar vaginanya
sampai akhirnya meluap dan
membanjiri permukaan vagina dan
rambut-rambutnya. Saya sadar bahwa Melly belum
merasa puas, segera saya masukan
jari tengah saya ke dalam vaginanya.
Saya gosok-gosokan sambil kepala
saya rebahan di payudaranya.
Setelah dua menit tubuh Melly seperti mengejang. Ia seperti meledak-ledak
dan ia terdiam melepaskan
kekejangan di ototnya. Jari saya benar-benar basah dibanjiri
cairan dari dalam vaginanya. Saya
oleskan ke penis saya, ke
pangkalnya ke kepalanya dan
lubang penis saya. Hal ini
membangkitkan kembali penis saya. Saya berniat memasukkan kembali
penis saya ke vagina Melly. Tiba-tiba saya dengar suara Rindy,
'Ehh jangan, kamu kan ngga tahu
jadwalnya Melly. Nanti bahaya'.
Setelah itu ia melepaskan seluruh
pakaiannya dan menyiapkan
tubuhnya untuk saya. Sekali lagi saya bercinta dengan Rindy. Kali ini
pertempuran berlangsung benar-
benar lama. Setelah sama-sama
sampai pada puncaknya saya
terjatuh dan terlelap di atas tubuh
Rindy, sementara penis saya masih di dalam vaginanya. Saat saya sadar, ternyata Melly juga
tertidur di samping saya dan Rindy.
Sore itu aktifitas kami hanya
bercinta, mandi, makan dan bercinta.
Hari itu saya bercinta dengan Rindy
sebanyak 3 kali dan dengan Melly 4 kali. Sampai pukul 23.00, dan
terbangun pada hari Minggu pukul
9.30. Sejak saat itu, selain dengan Rindy
saya juga bercinta dengan Melly.
Keduanya adik kandung saya. Kami
saling menyayangi. Kami masing-
masing mempunyai kehidupan di
luar rumah, seperti adanya yang lain. Tapi juga punya kehidupan di dalam
rumah yang tersendiri. Jadi pada saat ini saya, mempunyai
aktifitas seks dengan tiga orang,
yaitu Rindy, Melly dan pacar saya. Melly mempunyai seorang teman
akrab, teman sekolah. Namanya Lili,
orangnya cantik, sexy dan
menggairahkan. Mereka saling
bercerita tentang rahasia mereka
masing-masing. Hanya antara mereka. Suatu ketika, saat saya
sedang bercinta dengan Melly, ia
menceritakan bahwa ia telah
menceritakan aktifitas seks antara say
dan Melly atau Rindy kepada Lili.
Tapi ia menjamin bahwa, Lili akan menyimpan rahasia. Selain itu pada saat yang bersamaan,
Melly juga mengatakan bahwa Lili
punya rahasia. Yaitu Lili sering
diminta ayahnya untuk melakukan
hubugan seks. Cerita itu membuat
saya semakin bernafsu menyetubuhi Melly. Dan Melly tampaknya tahu hal
tersebut. TAMAT
Langganan:
Komentar (Atom)