Selasa, 05 April 2011

oh mama oh adikq

Membaca cerita-cerita di
rumahseks.blogspot.com ini
mengingatkan diriku pada 19 tahun
yang lalu saat pertama kalinya aku
merasakan nikmatnya seks. Saat itu
usiaku 11 tahun dan masih duduk di kelas 6 SD. Dan orang-orang
pertama yang menjadi pemuas
nafsuku adalah Mama dan adikku
sendiri. Sudah sejak berumur 7 atau 8 tahun
aku mempunyai keingintahuan dan
hasrat yang kuat akan seks. Secara
sembunyi-sembunyi aku sering
membaca majalah dewasa milik
orang tuaku. Biasanya hal itu kulakukan saat sebelum berangkat
sekolah dan orang tuaku tidak di
rumah. Saat membaca majalah
tersebut aku juga beronani untuk
memuaskan hasratku. Pada saat usiaku 10 tahun, hasratku
akan pemuasan seks semakin besar,
maklum saat itu adalah masa puber.
Frekuensiku melakukan onani juga
semakin sering, dalam sehari bisa
sampai 4 kali. Dan setiap hari minimal 1 kali pasti aku lakukan. Pada suatu sore ketika aku duduk di
kelas 6 SD, saat itu tidak ada seorang
pun di rumah. Papa sedang bertugas
keluar kota, sedangkan Mama dan
adikku sedang mengikuti suatu
kegiatan sejak pagi. Aku gunakan kesempatan tersebut untuk
menonton blue film milik orang
tuaku. Sejak pagi sudah 3 film aku
putar dan sudah 4 kali aku
melakukan onani. Namun hasratku
masih juga begitu besar. Ada adegan yang sangat aku sukai
dan aku sering berkhayal bahwa
aku menjadi pemeran pria dalam film
itu. Adegan itu adalah saat seorang
pria sedang berbaring sementara
wanita pertama duduk di atas penis sang pria sambil menggoyangkan
pinggulnya dan wanita kedua duduk
tepat di atas mukanya sementara
sang pria dengan lahapnya menjilati
vagina wanita kedua tersebut. Aku segera menurunkan celanaku
bersiap melakukan onani sambil
menyaksikan adegan favoritku. Di
tengah-tengah kegiatanku dan film
sedang hot-hotnya, tiba-tiba
terdengar suara pintu pagar dibuka. Saat itu menunjukkan pukul 20.00,
ternyata Mama dan adikku sudah
pulang. Segera aku kenakan
celanaku kembali dan mengeluarkan
video dari playernya kemudian
meletakkannya kembali di tempatnya. Lalu baru aku
membukakan pintu untuk mereka. "Eh Wan, tolong bantu masukkan
barang-barang dong", Mama
memintaku membantunya membawa
barang-barang.
"Iya Ma. Shin, di sana ngapain aja?
Koq sepertinya capek banget sih?", aku menyapa adikku Shinta.
"Wah, banyak. Pagi setelah aerobik
terus jalan lintas alam. Sampai di atas
udah siang. Terus sorenya baru
turun. Pokoknya capek deh.",
Shinta menjelaskannya dengan bersemangat. Setelah itu mereka mandi dan makan
malam. Sementara aku duduk di
ruang keluarga sambil menonton
acara TV. Setelah mereka selesai
makan malam, adikku langsung
menuju ke kamarnya di atas. Mama ikut bergabung denganku
menonton TV. "Wan, ada acara bagus apa aja?",
Mama bertanya padaku.
"Cuma ini yang mendingan, yang
lainnya jelek", aku memberi tahu
bahwa hanya acara yang sedang
kutonton yang cukup bagus. Saat itu acaranya adalah film action.
Setelah itu ada pembicaraan kecil
antara aku dan Mama. Karena lelah,
Mama menonton sambil tiduran di
atas karpet. Tidak lama sesudah itu
Mama rupanya terlelap. Aku tetap menonton. Pada suatu saat, dalam
film tersebut ada jalan cerita dimana
teman wanita sang jagoan
tertangkap dan diperkosa oleh boss
penjahat. Spontan saja penisku
mengembang. Aku tetap meneruskan menonton. Ketika film sedang seru-serunya,
tanpa sengaja aku menatap Mama
yang sedang tertidur dengan posisi
telentang dan kaki yang terbentang.
Baju tidurnya (daster) tersingkap,
sehingga sedikit celana dalamnya terlihat. Tubuhku langsung bergetar
karena nafsuku yang tiba-tiba
meledak. Tidak pernah terpikir
olehku melakukan persetubuhan
dengan Mamaku sendiri. Tapi
pemandangan ini sungguh menggiurkan. Pada usia 29 tahun,
Mama masih terlihat sangat menarik.
Dengan kulit kuning, tinggi badan
161 cm, berat badan 60 kg, buah
dada 36B ditambah bentuk
pinggulnya yang aduhai, ternyata selama ini aku tidak menyadari
bahwa sebenarnya Mama sangat
menggairahkan. Selama ini aku benar-benar tidak
pernah punya pikiran aneh terhadap
Mama. Sekarang sepertinya baru
aku tersadar. Nafsu mendorongku
untuk menjamah Mama, namun
sejenak aku ragu. Bagaimana kalau sampai Mama terbangun. Namun
dorongan nafsu memaksaku.
Akhirnya aku memberanikan diri
setelah sebelumnya aku mengecilkan
volume TV agar tidak
membangunkan Mama. Aku bergerak mendekati Mama dan
mengambil posisi dari arah kaki
kanannya. Untuk memastikan agar
Mama tidak sampai terbangun,
kugerak-gerakkan tangan Mama
dan ternyata memang tidak ada reaksi. Rupanya karena lelah seharian, ia
jadi tertidur dengan sangat lelap.
Dasternya yang tersingkap, kucoba
singkap lebih tinggi lagi sampai perut
dan tidak ada kesulitan. Tapi itu
belum cukup, aku singkap dasternya lebih tinggi lagi dengan terlebih
dahulu aku pindahkan posisi kedua
tangannya ke atas. Sekarang kedua
buah dadanya dapat terlihat dengan
jelas, karena ternyata Mama tidak
mengenakan bra. Langsung aku sentuh buah dada kanannya dengan
telapak tangan terbuka dan dengan
perlahan aku remas. Setelah puas
meremasnya, aku hisap bagian
putingnya lalu seluruh bagian buah
dadanya. Tiba-tiba Mama mendesah. Aku
kaget dan merasa takut kalau-kalau
sampai Mama terbangun. Tetapi
setelah kutunggu beberapa saat
tidak ada reaksi lain darinya. Untuk
memastikannya lagi aku meremas buah dada Mama lebih keras dan
tetap tidak ada reaksi. Walau masih
penasaran dengan bagian dadanya,
namun aku takut jika tidak punya
cukup waktu. Sekarang sasaran aku
arahkan ke vaginanya. Mama mengenakan CD tipis berwarna
kuning sehingga masih terlihat bulu
kemaluannya. Aku raba dan aku ciumi vagina
Mama, tapi aku tidak puas karena
masih terhalang CD-nya. Jadi
kuputuskan untuk menurunkan CD-
nya sampai seluruh vaginanya
terlihat. Namun hal itu tidak dapat kulakukan karena posisi kakinya
yang terbentang menyulitkanku
untuk menurunkannya. Jadi
terpaksa aku rapatkan kakinya
sehingga aku bisa menurunkan CD-
nya sampai lutut. Tapi akibatnya aku jadi tidak bisa mengeksplorasi vagina
Mama dengan leluasa karena
kakinya kini merapat. Apakah aku
harus melepas semuanya? Tentu
akan lebih leluasa, tapi jika Mama
sampai terbangun akan berbahaya karena aku tidak akan bisa dengan
cepat memakaikannya kembali. Berhubung nafsuku sudah
memburu, maka aku putuskan
untuk melepaskannya semua. Lalu
aku rentangkan kakinya. Sekarang
vagina Mama dapat terlihat dengan
jelas. Tidak tahan lagi, langsung aku cium dan jilati vaginanya. Lebih jauh
lagi, dengan kedua tangan kubuka
bibir-bibir vaginanya dan aku jilati
bagian dalamnya. Aku benar-benar
semakin bernafsu, ingin rasanya aku
telan vagina Mama. Tidak lama setelah aku jilati, vaginanya menjadi
basah. Setelah puas mencium dan
menjilati bagian vaginanya, penisku
sudah tidak tahan untuk dimasukkan
ke dalam vagina Mama. Aku
kemudian berdiri untuk melepas celanaku. Lalu aku duduk lagi di
antara kedua kaki Mama dan aku
bentangkan kakinya lebih lebar. Dengan mengambil posisi duduk dan
kedua kakiku dibentangkan untuk
menahan kedua kaki Mama, aku
arahkan penisku ke lubang
vaginanya. Tangan kananku
membantu membuka lubang vagina Mama sementara aku dorong
penisku perlahan. Aku rasakan
penisku memasuki daerah yang
basah, hangat dan menjepit.
Tubuhku gemetar hebat karena
nafsu yang mendesak. Setelah beberapa saat akhirnya seluruh
penisku sudah berhasil masuk ke
dalam vagina Mama dengan tidak
terlalu sulit, mungkin karena Mama
sudah melahirkan dua orang anak. Mulailah kugoyangkan pinggulku
maju mundur secara perlahan.
Kurasakan kenikmatan dan sensasi
yang luar biasa. Aku memutuskan
untuk memuaskan nafsuku, apa pun
yang terjadi. Semakin lama gerakanku semakin cepat. Dengan
semakin bernafsu, aku peluk tubuh
Mama dan mengulum dadanya,
sementara penisku terus bergerak
cepat menggosok vagina Mama. Aku
sudah tidak peduli lagi apakah Mama akan terbangun atau tidak, biar pun
terbangun aku akan terus
menggoyangnya sampai aku puas. Sungguh nikmat. Bahkan lebih
nikmat daripada fantasiku selama ini.
Setelah aku berjuang keras selama 6
menit, akhirnya aku sudah tidak
tahan lagi hingga aku benamkan
penisku dalam-dalam ke vagina Mama. Aku rasakan spermaku
mengalir bersamaan dengan sensasi
yang luar biasa. Seakan melayang
sampai-sampai terasa sakit kepala.
Aku biarkan penisku beberapa saat
di dalam tubuh Mamaku. Setelah cukup rileks, aku cabut
penisku. Aku puas. Aku tidak
menyesal. Aku kenakan kembali
celanaku. Sebelum aku kenakan
kembali CD-Mama, aku puaskan diri
dengan meremas-remas vagina Mama. Setelah itu aku rapikan
kembali daster Mama. Aku matikan
TV dan naik menuju kamarku di
atas. Aku langsung rebahan di atas
kasurku. Walau aku merasa lelah tapi
aku tidak bisa tidur membayangkan pengalaman ternikmat yang baru
saja aku rasakan. Pengalaman
seorang anak SD yang baru saja
melakukan hubungan seks dengan
Mamanya sendiri. Membayangkan hal tersebut saja
membuat nafsuku bangkit kembali.
Aku berpikir untuk kembali
melakukannya dengan Mama. Aku
berjalan keluar kamar menuju ruang
keluarga. Namun di depan kamar Shinta adikku, entah apa yang
mengubah pikiranku. Aku berpikir,
kalau Mama saja tidur sedemikian
lelapnya maka tentu Shinta juga
demikian. Apalagi selama ini Shinta
kalau sudah tidur sulit sekali untuk dibangunkan. Perlahan aku buka kamarnya dan
aku lihat Shinta tertidur dengan
menggunakan selimut. Aku masuk
ke kamarnya dan aku tutup lagi
pintunya. Seperti yang sudah aku
lakukan dengan Mama, aku juga sudah bertekad akan menyetubuhi
Shinta adikku sendiri. Walaupun ia
bangun aku juga tidak akan peduli. Lalu aku singkap selimutnya dan aku
lepaskan dasternya serta tidak CD-
nya. Sekarang Shinta sudah benar-
benar bugil. Karena Shinta belum
memiliki buah dada, sasaranku
langsung ke vaginanya. Vaginanya sungguh mulus karena belum
ditumbuhi rambut. Aku rentangkan
kakinya lalu aku cium dan jilati
vaginanya. Sekali-kali aku gigit
perlahan. Lalu aku buka lebar-lebar
bibir vaginanya dengan jariku dan kujilati bagian dalamnya. Setelah puas menciumi vaginanya,
aku bersiap untuk menghunjamkan
penisku ke dalam vagina Shinta
yang masih mulus. Aku rentangkan
kakinya dan aku tempatkan
melingkar di pinggangku. Aku ingin mengambil posisi yang
memungkinkanku dapat
menyetubuhi Shinta dengan leluasa. Lalu kuarahkan penisku ke lubang
vaginanya sementara kedua
tanganku membantu membuka bibir
vaginanya. Aku dorong perlahan
namun ternyata tidak semudah aku
melakukannya dengan Mama. Vagina Shinta begitu sempit, karena
ia masih kecil (saat itu ia baru berusia
9 tahun) dan tentu saja masih
perawan. Tapi itu bukan halangan
bagiku. Aku terus mendorong
penisku dan bagian kepala penisku akhirnya berhasil masuk. Namun
untuk lebih jauh sangat sulit. Nafsuku sudah memuncak tapi masih
belum bisa masuk juga hingga
membuatku kesal. Karena aku sudah
bertekad, maka aku paksakan untuk
mendorongnya hingga aku berhasil.
Namun tiba-tiba saja Shinta merintih. Aku diam sejenak dan ternyata
Shinta tidak bereaksi lebih jauh.
Walaupun aku tidak peduli apakah
Shinta akan tahu atau tidak, tetap
saja akan lebih baik kalau Shinta
tidak mengetahuinya. Kemudian aku mulai menggoyang
pinggulku, tetapi gerakanku tidak
bisa selancar saat melakukannya
dengan Mama, karena vagina Mama
basah dan tidak terlalu sempit,
sedangkan milik Shinta kering dan sempit. Aku terus menggesekan
penisku di dalam tubuh Shinta
semakin lama semakin cepat sambil
memeluk tubuhnya. Ada perbedaan
kenikmatan tersendiri antara vagina
Mama dan Shinta. Karena vagina Shinta lebih sempit maka hanya
dalam waktu 3 menit aku sudah
mencapai orgasme. Kubiarkan spermaku mengalir di
dalam vagina Shinta. Aku tidak perlu
khawatir karena aku tahu Shinta
belum bisa hamil. Aku tekan penisku
dalam-dalam dan aku peluk Shinta
dengan erat. Setelah puas aku kenakan lagi pakaian Shinta baru
aku kenakan pakaianku sendiri. Aku
berjingkat kembali ke kamarku dan
tertidur sampai keesokan paginya. Pada pagi harinya aku agak
khawatir jika ketahuan. Tapi sampai
aku berangkat sekolah tidak ada
yang mencurigakan dari sikap Mama
maupun Shinta. Sejak saat itu aku
selalu terbayang kenikmatan yang aku alami pada malam itu. Aku ingin
mengulanginya. Dengan Mama
kemungkinannya bisa dilakukan jika
Papa tidak di rumah. Jadi akan lebih
besar kesempatannya jika
melakukannya dengan Shinta saja. Walaupun pada saat melakukannya,
aku tidak peduli jika diketahui tetapi
tetap akan lebih aman jika mereka
tidak mengetahuinya. Maka hampir
setiap malam, aku selalu bergerilya
ke kamar Shinta. Namun aku hanya berhasil sampai tahap melucuti
pakaiannya. Setiap kali penisku mulai
masuk, Shinta selalu terbangun. Empat bulan sejak pengalaman
pertama, aku belum pernah lagi
melakukan sex. Pada bulan kelima,
aku masuk SMP dan pada pelajaran
biologi aku mengenal suatu bahan
kimia praktikum yang digunakan untuk membius. Saat itu aku
langsung berpikir bahwa aku bisa
menggunakannya bersetubuh
dengan Shinta lagi. Setelah pelajaran biologi, aku
mengambil sebotol obat bius untuk
dibawa ke rumah. Pada malam hari
setelah semuanya tertidur, aku
masuk ke kamar Shinta. Sebuah
sapu tangan yang telah dilumuri obat bius aku tempatkan di hidung
Shinta. Setelah beberapa saat, aku
angkat sapu tangan tersebut dan
mulai melucuti pakaian Shinta. Dan
setelah aku melucuti seluruh
pakaianku, aku naik ke ranjang Shinta dan duduk di antara kedua
kakinya. Aku mengambil posisi favoritku
dengan menempatkan kedua
kakinya melingkari pinggangku.
Aku masukkan penisku ke
vaginanya dengan perlahan sampai
keseluruhan penisku masuk. Goyangan pinggulku mulai
menggoyang tubuh Shinta. Aku
memeluk tubuhnya dengan erat dan
penisku bergerak keluar masuk
dengan cepat. Karena aku yakin
Shinta tidak akan terbangun maka aku bisa mengubah posisi sesukaku.
Seperti sebelumnya, saat pada
puncaknya aku biarkan spermaku
tertumpah di dalam vaginanya. Sejak saat itu hampir setiap hari aku
menyetubuhi adikku, Shinta.
Sesekali jika Papa sedang di luar
kota, aku juga menyetubuhi Mama.
Alangkah beruntungnya aku.
Dengan ilmu pengetahuan, suatu hambatan ternyata dapat diselesaikan
dengan mudah. TAMAT

anakq tersayang

adik iparq asti

Cerita ini merupakan kejadian yang
memalukan sekaligus menyenangkan
tentang perselingkuhanku dengan
adik iparku Asti. 'Halo', kataku menyambut telepon. 'Oh, kakak!!, Mbak Yuke mana kak',
suara diseberang menyahut. 'Asti??, kapan balik ke Jakarta,
mbakmu lagi piket, telepon aja ke
HP-nya deh, sahutku sambil
bertanya. 'Gak usah deh kak,
sampaiin aja kalo aku pertengahan
juni mo balik, aku kangen banget deh' jawabnya lagi. 'Oke, deh ntar aku sampaikan, take
care ya' jawabku datar dan menutup
telepon. Kemudian ingatanku melayang
beberapa tahun lalu, dimana saat itu
dia banyak problem,.. cowok, drug,
bahkan sempat pula berurusan
dengan pihak berwajib karena
tertangkap tangan atas kepemilikan Narkoba. Atas saranku Asti, adik
kandung Yuke ke Jakarta dan
sekarang telah bekerja di Singapura
untuk memulai sesuatu yang baru. Asti 30 th, seperti juga saudaranya
berwajah cantik, kulitnya bersih,
mata lebar, hidung mancung, rambut
berombak di ujung dengan postur
tubuh proporsional. Karena obsesi
untuk mandiri dan sifatnya yang keras kepala itulah dia terperosok
dalam problem berkepanjangan. Asti
sebelumnya tinggal di Surabaya,
disana dia bekerja sebagai penyanyi.
Dari pekerjaannya itulah (yang
sebenernya tidak kami sukai) Asti sempat ditahan polisi 1 malam karena
narkoba, sebelum kami datang-
dipanggil untuk memberi
keterangan. Sejak peristiwa ditahannya Asti 3
tahun lalu, Asti sering telepon aku
dan bercerita tentang keadaannya,
teman lelakinya dan biasanya cukup
lama, minimal 30 menit. Asti lebih
dekat denganku dan sering 'curhat' daripada kakaknya. Dalam setiap
pembicaraan, Yuke selalu memberi
tanda agar aku 'merayu' Asti untuk
pindah ke Jakarta dan mencari
pekerjaan di sini. Yuke tau
kedekatan kami itu, bahkan mendorong untuk dapat
mengontrolnya melalui aku, karena
sejak kecil Asti memang susah nurut
dan bandel. Awalnya aku hanya
menganggapnya sebagai tanggung
jawab seorang kakak terhadap adik, sebelum terjadi 'sesuatu' yang tidak
semestinya kami lakukan. Awal maret 2000, Asti telepon
memintaku untuk menjemputnya di
stasiun Gambir, Yuke sangat gembira
dengan berita itu dan segera
mempersiapkan kamar untuknya. 13
maret 2000 aku jemput asti sendiri, karena anak bungsuku sakit, dan
kami duga demam berdarah. Asti
datang sendirian, padahal
rencananya bersama Hendry
'cowoknya' yang keturunan. 'Kok, sendirian kak??' mana
ponakan2ku, tanya asti saat aku
sambut barang2 bawaannya. 'Andi lagi sakit, kayanya demam
berdarah deh, terpaksa diisolasi dari
sodaranya' jawabku ngeloyor
menuju mobil. Sambil merokok dan
berlari kecil Asti mengikuti aku,
'Kesian yah, aku kangen ama mereka' katanya. 'Kak, tau nggak knapa aku kesini??
tanyanya di mobil. 'Yah, loe mau refreshing, loe udah
sadar dan mau kerja yang sesuai
ama ijazahmu, khan?' jawabku
sekenanya. 'Yang lain donk' komentarnya
manja. 'Apa yaa, paling putus atau mo lari
dari cowokmu, hahahaha' aku
tertawa geli karena pinggangku
digelitiknya. 'Sekarang bulan apa kak?' 'Maret' jawabku sambil terus nyetir 'Bulan maret ada apa ya??' Asti
mengerling, tangannya meremas
tanganku saat di persneling.. 'Asti,.. Apaan sih', kataku berusaha
menepis tangannya yang kemudian
bergerak mau gelitiki aku lagi.
Tanganku ditangkapnya, digenggam
kemudian dicium sambil bertanya
manja 'Kakak sayang Asti nggak sih?' 'Asti.. aku kakakmu, aku sayang
kamu seperti Yuke menyayangimu'
kataku jengah dan menarik tangan . 'Kak,.. aku sayang dan mengagumi
Kak rizky, lebih dari itu.., aku sayang
ama kakak, karena bisa ngertiin aku,
pahami aku, bisa ngemanjain aku
dan..tau nggak, aku bisa orgasme
kalo lagi teleponan ama kakak'..katanya sambil meraih
tanganku lagi. 'Asti.. aku gak mau ngerusak
semuanya dengan perbuatan
bodohmu', jawabku marah namun
sebenernya menahan gejolak. Asti
terdiam dan melepas tanganku.
Itulah 30 menit pembicaraan kami di perjalanan menuju ke rumah. Sampai di rumah Yuke
menyambutku dengan ciuman sambil
bilang mo ke RS karna andi anak ke
tiga ku panas udah lebih dari 2 hari.
Aku segera ke kamar melihat
keadaannya, sementara Asti dan Yuke menuju ke kamar di lantai 2
yang telah disiapkan. 'Maa, cepetan yah' aku beri isyarat
agar Yuke segera bersiap. 'Asti, mandi terus istirahat dulu yaa,
ntar ngobrolnya deh' kata Yuke ama
Asti..OK boss sahut Asti. Singkatnya Andi harus segera
dirawat di RS saat itu juga. 'Andi maunya ditemenin ama mama
aja yaa? pinta anakku lirih.. 'Iya sayang, mama akan temenin
anak tersayang mama deh' Yuke
menghibur. 'Janji ya maa..' Setelah Andi tidur aku rundingan
ama Yuke, keputusannya adalah aku
akan nungguin Andi malem dan
langsung berangkat kerja dari RS. 'Paa, sekarang jemput asti ya.. ajak
dia kesini, sekalian bawain aku
beberapa pakaian, aku pengen
ngobrol disini'. 'Oke sayang', jawabku setelah
merasa semua beres. Sesampainya di rumah, aku siapkan
beberapa pakaian yang pantas,
termasuk pakaian dalemYuke. Aku
naik ke lantai 2 (kamar Asti) mo
ambil tas, kuketuk pintu dan
memanggilnya.. Tapi gak ada sahutan, aku berasa gak enak dan
telepon istriku 'Kalo gak dikunci masuk aja deh paa,
soalnya semua tas ada disana' 'Tungguin si Bengal itu bangun,
biarin dulu dia istirahat ntar kalo
bangunin sekitar jam 12-an. Aku manusia biasa, seorang lelaki
mana yang tidak tergoda dengan
keadaan ini ; gadis cantik tertidur
pulas, tanpa selimut. Sangat
menggairahkan dengan rambut
setengah basah tidur terlentang hanya dengan CD kecil terikat di
pinggul dan sepasang bukit indah
bebas tanpa penutup, ada
kesempatan lagi. Aku terpaku untuk
sesaat.. bathinku sedang berperang..
dan.. akhirnya aku menyerah. Kuhampiri Asti (yang sedang
tertidur??), aku ambil selimut yang
terjatuh di lantai dan menutupi tubuh
indah itu, tapi asti sepertinya gak
mau di selimuti. Gerakan tangannya
menolak diselimuti. Aku kembali terdiam.., kuberanikan diri
menyentuh tangannya,.. gemetar
aku rasakan saat itu,.. Asti masih
terlelap bahkan mengeluarkan suara
mendengkur. Nafsu sudah
menguasai bathinku juga ragaku, penisku sangat2 tegang.. Asti lebih
cantik, lebih putih lebih tinggi dari
Yuke.. dengan jari tengahku,
kutelusuri tangannya hingga
ketiak..Asti menggeliat dan
menyamping seakan memberiku ruang untuk duduk di sebelahnya. Benar-benar kesempatan telah
berpihak padaku,.. kuulangi
sentuhan jariku, aku belai
rambutnya yang lembab dan
berombak, aku cium keningnya, aku
belai wajahnya sambil memanggilnya pelahan,.. "Asti.., bangun
sayang..mbakmu suruh kamu ke
RS..", (dengar atau gak aku gak
peduli) kuulangi kata-kata itu sambil
terus membelai.., Asti malah
melingkarkan tangannya kepinggangku. Tanpa kusadari
tanganku telah membelai kedua
bukitnya, mempermainkan
putingnya, sambil mengecup
perlahan bibirnya. Asti membuka
matanya dan mendesah perlahan .. kakk, aku sayang kakak, aku ingin
kakak sayang aku lebih dari seorang
adik .. sebulan lebih aku
meninggalkannya .. aku benci dia..
ternyata dia telah berkeluarga, dan
sampai saat ini belum kutemukan figur yang aku cari, kak.. sayangi
asti.. tangannya menuntun tanganku
kedaerah yang paling intimnya yang
telah lembab, ketika jariku sedikit
menekannya.. Ditariknya tubuhku
sehingga menindih tubuhnya.. Sepertinya Asti in the mood. Dalam
keadaan masih berpakaian, aku
peluk asti dan menindihnya, kami
bergerak seirama seakan sedang
bersenggama.. Tiba-tiba telepon berteriak nyaring,
seakan menyadarkan agar tidak
berbuat lebih lanjut. 'Pahh, udah bangun si Bengal tuh,..
Siram air aja kalo gak bisa, cepetan
nih udah jam berapa sekarang?
gerah nih, jangan lupa dasterku'. OK, jawabku dengan nafas masih
memburu menahan nafsu. Permainan
kami terhenti dengan un happy
ending.. 14 maret, Di tempat kerja setelah
mendapat ucapan selamat dan
ciuman pipi dari rekan2 atas ulang
tahunku, aku masih nggak abis
pikir.. why it happen?? jahat amat
aku,.. disaat usia bertambah tua, anak sedang sakit.. aku malah
mengumbar nafsu.. IPARKU lagi..
Udahlah I wont do that again, biar
Asti yang nunggu Andi .. pikirku. Jam 14.30 sepulang kerja, aku
mampir ke Pizza Hut beliin makanan
kesukaan Andi sebelum ke RS. Saat
dikamar Asti menyambutku dengan
ciuman mesra di bibir.. met ulang
tahun sayang.., Gila nih anak pikirku.. 'Yuke', aku memanggil
istriku.. Yuke keluar kamar mandi,
langsung memelukku, 'Met ulang
tahun pah.. hadiahnya ntar aja
nunggu Andi sembuh, katanya main
mata nakal. Sekitar jam 19.30 aku mo balik, pulang ganti baju. 'Pah, ntar
aja pulangnya, jam 21 an aja soalnya
Andi gak mau kalo gak ditungguin
mama, papa dirumah aja deh..' biar
mama yang tungguin Andi. 'Yah..gimana nih, ntar kamu
ditemenin Asti ya, papa mo pulang
urusin si rio ama intan'. 'Tadi Asti
bilang tadi mo ktemuan ama
temennya, mungkin dia mo keluar
malem ini, pulang bareng ama papah aja ya, ntar kasi kunci cadangan
rumah di laci lemari ya' jawab Yuke.
Gawat..tapi ada rasa senang juga
terbersit di pikiranku. Malaikat
bathinku menyayangkan kenapa
Yuke begitu percaya pada hubungan kami, sedang syaitan di
jiwa-ragaku bersorak kegirangan
sampai penisku berkedut. Singkatnya kami tinggalkan Yuke
yang menjaga Andi. di perjalanan
Asti bilang ingin memberiku sesuatu
untuk melampiaskan apa yang
terpendam di sanubarinya dan
membohongi kakaknya sendiri. Seperti biasa Rio dan intan udah
berada di kamarnya jam 21. (Yuke
sangat disiplin dalam mendidik anak).
Aku periksa tas mereka nge-cek PR.
Setelah mencium pipi mereka, aku
turun dan mandi, (Asti udah ke kamarnya). Jam 23 after I call Yuke 2
say good night, terdengar ketukan
pintu, saat kubuka asti menerobos
masuk dengan pakaian tidur cream. 'Kak, .. Asti mau tidur ama kakak,
pengen dipelukin dan dimanjain.. Saat itu yang pertama bereaksi
adalah si Ucok di dalam sarung dan
berteriak mengacung.. MERDEKA.. Dapat dibayangkan 2 orang
berlainan jenis dalam 1 kamar yang
dingin.. Asti memelukku.. aku balas
memeluknya erat. Sangat lama kami
berpelukan.. Dalam posisi berdiri,
kami berpelukan seakan berdansa..
setelah puas, aku gendong asti ke
pembaringan.., kurebahkan dia, kutanggalkan pakaian tidurnya, Asti
hanya menggunakan G string.,.. Asti
pasrah, menikmati, badannya yang
polos.. Asti memandangku saat aku
buka sarung, satu2nya penutup
bagian tubuhku.. Kurebahkan diriku disamping tubuhnya, aku cium dan
rasakan tiap jengkal tubuhnya,
bukitnya yang putih begitu indah
mencuat, kontras dengan tanganku
yang hitam.. Kak.. Aku sering
mimpikan ini.. kak.. puaskan aku.., sayangi aku.. Kuremas bukit indahnya sambil
menciumi putingnya,.. Asti
menggelinjang hebat.. tangannya
meraih penisku.. Dikocoknya
perlahan.., kumasukkan tanganku,
ke dalam CD G string hitam asti, Asti mengangkat pinggulnya
membantuku melepas satu2nya
penutup tubuhnya. Lembab dan
basah vagina asti oleh lendir hasrat,
kutekan ujung jariku sedikit masuk,
otomatis pinggulnya mengangkat dan berusaha agar jariku masuk
lebih dalam.. beberapa lama aktifitas
itu aku lakukan. Asti pengen hisap
punya kakak.. pintanya. Aku segera berdiri dengan penis
masih teracung tegak, Asti bangkit
mengulumnya.. woww hisapannya
ruarr biasa, penisku seakan berada
dalam vaginanya.., segera aku atur
posisi 69 untuk menikmati lendir gairah yang udah disediakan, setelah
beberapa menit Asti menggelinjang
sambil berteriak, 'kak.. Asti pengen
keluar, Kak ..gerakannya tambah
liar. Kuhentikan jilatanku dan
kuposisikan penisku penetrasi ke vaginanya yang benar-benar basah.
Clepp, mudah sekali penisku
menerobos masuk, aku berusaha
mempertahankan very
slow..kurasakan benar dinding-
dinding vagina Asti, saat kutemukan g spotnya, (sedikit dibawah
permukaan dalam di bawah clitnya)
kuarahkan agar tetap menyentuh
that area.. Asti benar2 tak dapat
menguasai diri, dijepitnya
pinggangku dengan kaki dan ditahannya pada posisi yang
dikekehendaki.. Kakk.. kurasakan
denyutan dahsyat otot vagina Asti,
sangat kencang, lebih kencang dari
denyutan Yuke.., God.. i'm
cumming.. teriaknya. Saat kedutannya mengendor, kupercepat
gerakanku, aku ingin menuntaskan
semuanya.. beberapa genjotan
sampai terasa telah hamper sampai,
aku tarik penisku dan tumpahkan
semua di luar.. Asti agak kecewa.. namun aku tak segila itu untuk
mempunyai seorang anak lagi. Begitulah pengalamanku dengan
adik iparku, Setelah Andi pulang,
aku selalu berusaha mencari
kesempatan untuk bersenggama
dengannya, Asti sempat tinggal
selama 6 bulan sebelum ada panggilan kerja di Singapura. Juni nanti Asti akan kembali,.. aku
takut.. tapi juga rindu bertemu
dengannya.. TAMAT

adikq

Cerita ini melibatkan saya dan adik
kandung saya. Nama saya Andy,
saat ini saya pria berumur 26 tahun.
Sedangkan adik saya bernama
Rindy, berumur 23 tahun. Cerita ini
berawal ketika saya berumur 10 tahun, dimana saya mulai menyukai
cerita-cerita yang berhubungan
dengan seks. Pada umur tersebut saya juga sudah
terbiasa melakukan masturbasi. Pada
suatu ketika, saya melihat berita di
sebuah surat kabar tentang
hubungan seks antara kakak-
beradik. Saya telah sudah sering membaca tentang berbagai cerita
seks, tetapi baru kali ini antara
saudara sendiri. Ini merupakan cerita
yang sangat menarik. Setiap
mengingat cerita tersebut, saya
menjadi semakin tertarik. Karena cerita tersebut, sepertinya dapat
diwujudkan. Pada saat itu, saya menempati
ruangan tidur yang sama dengan
adikku, Rindy. Hanya saja
menempati ranjang yang berbeda,
namun jaraknya hanya sekitar 2
meter. Suatu malam sekitar pukul 00.30, saya terbangun sementara
tampaknya semua orang di rumah ini
sudah tertidur. Aku lihat Rindy juga tertidur pulas.
Selimutnya tersingkap sebagian pada
bagian paha. Sementara kedua
kakinya membentang, sehingga
celana dalamnya terlihat. Hal ini
membuat saya menjadi bernafsu, apalagi jika mengingat cerita tentang
hubungan seks kakak-beradik. Perlahan saya turun dari tempat
tidur, dan mendekati ranjang Rindy.
Saya ingin memastikan bahwa ia
tertidur pulas, dengan menggelitik
telapak kakinya. Dan ternyata ia
tertidur pulas. Tak tahan lagi, saya sentuhkan jari-jari saya ke cd Rindy
yang menutupi vaginanya. Semakin
lama sentuhan yang saya berikan
semakin keras menekan, dan rindy
tetap tertidur. Merasa kurang puas, saya mencoba
menyentuh langsung vagina Rindy
dengan memasukkan tangan saya ke
dalam cd-nya melalaui bagian perut.
Tangan saya bergetar cukup
keras.Saya tidak perduli, dan akhirnya saya dapat menggapai
vagina Rindy secara langsung. Saya
remas-remas. Dan jari-jari saya
merasakan celah. Setelah beberapa
saat, merasa kurang puas, saya
keluarkan tangan saya dan bermaksud membuka cd yang
dikenakan Rindy. Dengan kedua
tangan, perlahan saya turunkan cd-
nya. Ketika sebagian vagina mulai
terlihat, usaha untuk menurunkan
lebih jauh agak sulit.Dengan usaha lebih tekun akhirnya, saya berhasil
menurunkan cd Rindy sampai
seluruh bagian vagina terlihat. Tak tahan lagi, saya ciumi vagina
Rindy. Kemudian saya mencoba
mencari lubang yang sering saya
dengar, tempat melakukan hubungan seks. Saya
pikir ada di bagian depan, ternyata
pikiran saya selama ini salah. ternyata
posisi yang sebenarnya ada di bagian
bawah. Kembali saya ciumi dan jilati
vagina rindy sampai pada bagian
lubang. Saya sudah benar-benar tidak tahan lagi.
Saya lepaskan celana saya, dan
perlahan naik ke ranjang Rindy.
Sementara tangan kanan menahan
tubuh, tangan kiri mengarahkan
penis ke lubang vagina. Tampaknya tidak mungkin. Saya mencoba
memasukkan dari depan, padahal
lubang ada di bawah. Sementara saya berusaha, tiba-tiba
tubuh Rindy bergerak. Karena takut
ketahuan, saya cepat-cepat bangun
dan merapihkan kembali cd Rindy.
Mengenakan celana saya dan
kembali ke ranjang. Dan kembali
tidur. ***** Pengalaman pada malam tersebut,
terkenang selalu. Bahkan pada saat
belajar di sekolah. Membuat saya
selalu menunggu datangnya malam, saat
dimana semua orang tertidur. Selama
beberapa malam saya melakukan
usaha serupa, tapi selalu gagal ketika takut Rindy
terbangun. Sampai suatu malam ketika saya
benar-benar sangat bernafsu. Saya
sudah melepaskan cd Rindy dan
saya sudah tidak mengenakan celana
dan baju. Benar-benar bugil. Saya
sudah bulatkan tekad untuk melakukannya malam ini. Perlahan
saya menaiki ranjang Rindy. Kedua
kaki Rindy, saya rentangkan lebar-
lebar. Saya ciumi vagina Rindy
sepuas hati. Ketika bosan, saya mulai
arahkan penis saya ke vagina Rindy. Ternyata tidak semudah yang
dibayangkan. Sulit sekali
mengarahkan penis ke vagina.
Ketika penis saya mulai memasuki
vagina, saya semakin terangsang.
Apapun yang terjadi saya harus berhasil malam ini. Saya dorong
penis saya semakin memasuki vagina
Rindy. Pada suatu saat terasa agak
sulit, namun saya terus memaksa.
Sampai seluruh penis saya masuk ke
dalam vagina Rindy. Semua usaha saya tersebut,
membuat Rindy terbangun. Mungkin
saya pikir membuat rasa sakit pada
Rindy. Ia bingung dengan apa yang terjadi. Ia
merintih dan mulai memprotes apa
yang saya lakukan. Namun saya
berkata kepada Rindy, 'Sst..., jangan
berisik dan dimarahin mami. Kalo
malam-malam berisik nanti dijewer lho'. Mendengar komentar saya
tersebut, ternyata Rindy langsung
diam - hanya kadang-kadang
merintih menahan sakit. Saya terus menggoyang pinggan
saya, mendorong penis masuk dan
keluar dari vagina Rindy. Karena
baru pertama kali, permainan saya
hanya berlangsung tidak sampai 2
menit. Saya istirahat sebentar. Dan Rindy pun karena lelah, juga kembali
tertidur. Setelah beberapa saat, penis
saya mulai bangkit lagi. Kembali aku
peluk Rindy, dan aku arahkan penis
saya ke vagina Rindy. Kembali
vagina Rindy digesek oleh penis saya. Untuk permainan kedua, saya
bisa bertahan sampai 3 menit -
sampai akhirnya saya kelelahan lagi.
Malam itu saya melakukan sampai 3
kali. Setelah itu saya rapihkan
pakaian rindy dan juga pakaian saya. Dan kembali tidur di ranjang
masing-masing. Sejak malam itu, hampir setiap malam
saya melakukan hubungan seks
dengan Rindy. Pada awalnya Rindy
hanya menerima apa yang saya lakukan,
tetapi setelah setahun tampaknya
Rindy mulai menyukainya. Karena
ketika saya tertidur, Rindy datang ke ranjang
saya dan memegang penis saya.
Selama 4 tahun, saya menyetubuhi
Rindy dengan leluasa. Tapi ketika ia
menginjak 11 tahun, saya tidak bisa
leluasa seperti dulu, karena salah- salah bisa saja dapat mengakibatkan
Rindy hamil. Ketika saya berumur 12 tahun (Rindy
9 tahun), kami sering mencari
kesempatan selain pada malam hari.
Ketika hari libur, dimana papi ke
kantor dan mami ke pasar. Tapi
yang paling kami sukai ketika hari libur, papi dan mami pergi
mengunjungi saudara atau ada
undangan. Karena bisa seharian kami
memuaskan diri melakukan
hubungan seks. Bahkan seharian itu,
kami sama-sama tidak mengenakan pakaian. Ketika leluasa, kami melakukan seks
di kamar kami (tapi sejak saya umur
12 tahun, kamar kami terpisah),
kamar mami-papi, di ruang tamu,
ruang keluarga atau bahkan di
kebun belakang yang tertutup. Mungkin yang paling
menggairahkan adalah ketika kami
bercinta di kebun belakang. Di atas
rumput jepang yang hijau rapih.
Dengan atap langit, ditiup angin
alami. Bahkan kami pernah melakukannya di saat hujan deras. Sampai saat ini kami tetap
melakukannya secara kontinyu.
Walau kami masing-masing
mempunyai pacar, tetapi hubungan
kami tetap berlangsung. Jika di
rumah tidak ada kesempatan kami biasanya melakukannya di sebuah
hotel. Rupanya hubungan antara
saya dan Rindy, ada orang lain yang
mengetahui, yaitu Melly, salah
seorang adik saya. Pada saat itu saya
berumur 24 tahun, Rindy 21 tahun dan Melly 19 tahun. Kejadiannya ketika saat kedua orang
tua kami mengunjungi saudara di
luar kota selama 3 hari. Di rumah
saya dan kedua adik saya. Seperti
biasa setiap ada kesempatan saya
dan Rindy mempunyai keinginan untuk bercinta. Saat itu Melly hari
Sabtu pukul 8.30 dan Melly masih
tertidur. Saya dan Rindy saling
berpelukan di ruang keluarga. Saya
ciumi payudaranya, perut dan
lehernya secara begantian. Sementara itu tangan saya
melakukan gerilya di balik cd yang
dikenakan Rindy, menelusuri
gunung dan lembah di balik cd. Setelah beberapa lama melakukan
pemanasan, saya mulai melepas
daster dan cd yang dikenakan
Rindy. Ia terlentang dalam posisi
tanpa busana. Sementara saya
membuka seluruh pakaian saya, Rindy merentangkan kakinya lebar-
lebar dan menggosok-gosok
vaginanya dengan tangannya. Saya
segera peluk rindy dengan penuh
nafsu, kami saling berpeluk erat dan
meraba. Penis, saya gesek-gesekan pada bagian luar vagina Rindy. Dada
saya menekan keras pada payudara.
Bibir kami saling memagut, dan lidah
kami saling merasakan. Ketika cukup lelah kami bergulat,
saya mulai arahkan penis saya yang
berukuran 15 cm dan diameter 1,25
inch. Perlahan memasuki liang
vagina Rindy. Tiba-tiba saja kaki
Rindy melingkar dan menekan di pinggang saya. Dimulai dengan
perlahan, saya menggerakan penis
masuk dan keluar. Bunyi becek
yang kami hasilkan membuat saya
menjadi lebih bernafsu. Saya lebih
percepat lagi gerakan masuk dan keluar. Hal ini membuat Rindy
tambah bernafsu juga, sehingga ia
mendesah dengan suara yang tidak
bisa dibilang kecil. Kami saling
berpelukan, kedua tangan kami
masing-masing saling melingkar, menekan punggung. Kaki Rindy
melingkar di pinggang saya.
Sementara saya mengambil posisi
bertumpu pada lutut yang menekuk.
Setiap hentakan pinggul saya
mendorong, selain menghasilkan bunyi becek juga menghasilnya
bunyi hentakan karena paha saya
dan bokong Rindy beradu. Namun saya berusaha menahan
nafsu, karena saya tidak ingin
orgasme lebih dulu sebelum rindy.
Saya coba konsentrasi. Sementara
bunyi desahan dan erangan rindy
sudah mulai bermacam dan semakin keras. Ketika saya harus
berkonsentrasi dan Rindy sudah
hampir mencapai orgasme, saya
menyadari ternyata dua meter dari
posisi saya dan Rindy telah berdiri
Melly. Tentu ia tahu apa yang sedang kami lakukan. Tentu saja, saya kaget dan membuat
konsentrasi saya pecah. Penis saya
melemah, dan membuat gerakan
masuk dan keluar terganggu. Hal ini
membuat tanda tanya bagi Rindy
yang sudah hampir mencapai orgasme. Rindy memperhatikan
pandangan saya, dan ia baru
menyadari bahwa ada yang
memperhatikan aktifitas kami. Namun
karena Rindy sedang pada puncak
nafsunya, ia hanya berkata, 'Biarin aja, ayo dong terusin. Ngga tahan
nih', sambil berusaha
membangunkan kembali penis saya. Mendengar ucapan Rindy, membuat
saya kembali konsentrasi dan
membangunkan kembali penis.
Aktifitas kembali normal, saya terus
menggoyang Rindy. Ketika Rindy
benar-benar hapir orgasme, tiba-tiba saja ia mendorong tubuh saya
sehingga saya terduduk. Sementara
penis saya tetap di dalam vagina
Rindy, ia juga mengambil posisi
duduk dan tetap memeluk saya.
Seperti kegilaan, Rindy mengangkat dan menjatuhkan tubuhnya di atas
penis saya. Setelah beberapa detik,
saya merasakan sesuatu yang panas
mengalir menyelimuti penis saya.
Rupanya Rindy sudah orgasme.
Saya baringkan kembali tubuh Rindy, dan saya guncang tubuhnya
lebih keras. Tubuhnya bergetar
hebat karena hentakan yang saya
berikan. Setelah satu menit, saya
mulai merasa akan keluar. Saya
benamkan penis saya dalam-dalam ke vagina Rindy. 'Mmmm ...', suara
Rindy bersamaan dengan saat
sperma saya membanjiri vaginanya.
Saya tidak khawatir, karena Rindy
sudah minum pil. Kami berpelukan
beberapa saat. Ketika permainan selesai, ternyata
Melly masih tetap di tempat pada saat
saya melihat dia. Ia masih
memandangi kami. Ketika Rindy
melihat dan menyapanya, tiba-tiba
saja Melly lari ke kamarnya. ***** Aku dan Rindy membawa pakaian
kami masing-masing dan menuju
kamar mandi untuk bersih-bersih. Di
kamar mandi pun, kami masih
sempat saling memberi sentuhan.
Selesai mandi, Rindy masuk ke kamarnya dan saya masuk ke kamar
saya. Baru beberapa saat tiduran di kamar,
saya merasa ada seseorang yang
membangunkan saya. Ketika saya
lihat ternyata Melly. Ia bertanya, 'Kak
Andy, kenapa sih koq dengan Kak
Rindy ?. Saya sebenarnya tahu persis apa yang dimaksud. Untuk
memastikan saya bertanya, 'Apa
maksud Melly ?'. 'Kenapa koq Kak
Andy melakukan hubungan seks
dengan Kak Rindy. Dia kan adik
kandung sendiri. Koq tega sih.', Melly menjawab. Saya agak bingung untuk menjawab
apa. 'Mel, Kak Andy sayang ke Kak
Rindy dan begitu sebaliknya. Karena
itu Kak Andy dan Rindy melakukan
hal itu. Karena sama-sama suka. Kalo
Kak Rindy ngga suka mana mungkin lah bakal terjadi kaya tadi. Iya kan.'. 'Tapi kan ... tapi kan ...', Melly
terdiam. 'Mel, Melly ngga mau kan ada
keributan di rumah. Jangan bilang
mami papi ya. Andy yakin, Melly
mengerti apa yang dilakukan Andy
dengan Kak Rindy. Dan itu sudah
berlangsung lebih dari 12 tahun.', saya mencoba menenangkan
suasana. 'Apa, 12 tahun ?', Melly tampak
kaget dengan penjelasan saya. 'Jadi
Kak Andy sudah melakukannya
sejak kecil. Dan papi-mami ngga
tahu.', enath mengapa hal ini
membuat tampang Melly seperti orang bingung. 'Kalo boleh Mel tahu, bercinta itu
rasanya kaya apa sih ? Katanya kalo
gituan yang untung cuma cowok.
Tapi koq banyak cewek yang suka
juga.', tiba-tiba saja Melly
menanyakan suatu yang membuat saya cukup kaget. Di sisi lain, entah mengapa tiba-tiba
saja pertanyaan tersebut membuat
penis saya mengeras. Dari segi pisik,
Melly memang lebih menggairahkan
dibandingkan Rindy. Melly pada usia
19 tahun memiliki tinggi 164 cm dengan payudara yang menantang
dan tubuh yang padat berisi.
Ditambah pertanyaan 'Bagaimana
rasanya', membuat saya
berkeinginan bercinta dengan Melly.
'Susah untuk diceritakan, bagaimana kalo langsung dicoba ?, saya
memberanikan diri untuk
menyatakan langsung. Melly hanya
terdiam dan hanya tersenyum. Entah apa yang terjadi dengan saya,
langsung Melly saya peluk. Saya
berikan ciuman di leher dengan
penuh nafsu. Walaupun saya agak
canggung begitu pula dengan Melly,
tapi karena nafsu membuat segalanya berjalan lancar. Saya raba
seluruh bagian tubuh yang sensitif.
Saat itu saya tidak ingin berlama-
lama. Segera saya buka seluruh
pakaian yang dikenakan Melly. Ia
malu-malu menutup payudaranya dengan kedua tangan dan
menyilangkan kakinya untuk
menutup vaginanya. Ternyata Melly
benar-benar menggairahkan dalam
posisi tanpa busana. Saya pun
melepas seluruh pakaian saya. Saya dekati Melly, saya usap
keningnya, dan tangan saya turun
perlahan ke tangannya. Saya
genggam tanggannya, berusaha
melepaskan tanggannya yang
menutupi payudaranya. Walau pada awalnya melawan, namun akhirnya
melepaskan juga. Saya ciumi
payudaranya yang kanan,
sementara yang kiri saya remas-
remas. Saya nikmati payudaranya
dari dasar bukit sampai ke puncaknya. Saya setengah duduk
pada perut Melly. Dengan kedua
tangan saya meremas payudara
kanan dan kirinya. 'Hmm, Kak Andy sakit ih.', Melly
berkomentar. 'Kalo gitu berhenti ya ?', saya tahu
walaupun merasakan sedikit sakit
Melly jug abisa menikmatinya.
'Jangan... jangan dong ...', tiba-tiba
saja Melly setengah berteriak. Dan
saat ia sadar dengan teriakannya mukanya memerah. Saya teruskan menikmati tubuh
Melly. Lidah saya bergerak dari celah
antara kedua payudara turun
menjelajah perut. Dan turun lagi
mengarungi hutan yang menutupi
vagina Melly. Saya ciumi rambut yang menutupi vaginanya, sambil
sesekali saya tarik dengan bibir dan
lidah saya. Tanpa sadar, Melly
melemaskan kedua kakinya
membuat saya dengan mudah
merentangkan kakinya lebar-lebar. Saya segera mengambil posisi di
antara kedua kakinya. Kedua tangan
saya mencoba membuka celah
vagina Melly sampai lubang
vaginanya terlihat. Segera saya cium
dan jilati vagina Melly dengan penuh nafsu. Sesekali saya menggigit
bagian luar vagina Melly. Saya tahu
ini membuat melly kegelian sehingga
sesekali mendorong kepala saya. Setelah lidah saya pusa bermain,
penis saya sudah tidak sabar. Saya
ambil posisi duduk dengan kedua
kaki saya direntangkan. Dan kedua
kaki Melly saya letakkan di atas paha
saya. Penis saya sudah di mulut vagina Melly. Untuk menenangkan,
saya mengatakan, 'Mel, untuk
pertama mungkin sakit tetapi
sesudahnya ngga koq. Tahan ya ?',
dan Melly hanya terdiam. Kepala penis saya masukkan,
perlahan namun pasti penis saya
bergerak masuk. Samapi saat saya
merasa ada yang menahan untuk
maju lebih jauh. Saya tahu pasti itu
selaput dara Melly. Tentu ia masih perawan. Waktu pertama dengan
Rindy mungkin saya tidak mengerti,
tapi pengalaman dengan pacar saya
membuat saya tahu. Saya terus
mendorong secara perlahan. Rasa
sakit mulai mengganggu Melly, sesekali ia menggangkat tubuhnya
dengan punggungnya. Tapi suatu
kali karena sakit, ia menggerakan
tubuhnya cukup keras. Hal ini
membuat pinggulnya mendorong ke
arah penis saya. Dan ... selaput dara Melly telah saya tembus. Ia
merasakan sakit. Untuk sementara,
saya diamkan sampai Melly tenang. Ketika ia sudah tenang, saya
masukan penis saya lebih jauh lagi.
Sampai akhirnya seluruhnya masuk.
Perlahan saya tari keluar dan dorong
lagi ke dalam. Kalau saya perhatikan,
setiap penis saya masuk dan keluar, ada bagian vagian Melly yang
terdorong dan keluar. Itu karena
vagina Melly masih sangat sempit.
Sungguh sangat erotis melihatnya.
Saya lihat Melly menyukainya,
walaupun masih terlihat ekspresi rasa sakit di wajahnya. Sambil menggerakan penis saya
keluar masuk vagina Melly, saya
lumat payudaranya. Gerakan saya
semakin bersemangat. Dorongan
dan tarikan saya semakin cepat,
mungkin karena sempitnya vagina Melly membuat saya lebih cepat
orgasme. Tapi saya tidak berani
menyebarkan sperma saya di dalam
vagian Melly seperti saya lakukan
pada Rindy. Ketika hampir saatnya,
saya segera cabut dan saya gosok- gosokan pada bagian luar vaginanya
sampai akhirnya meluap dan
membanjiri permukaan vagina dan
rambut-rambutnya. Saya sadar bahwa Melly belum
merasa puas, segera saya masukan
jari tengah saya ke dalam vaginanya.
Saya gosok-gosokan sambil kepala
saya rebahan di payudaranya.
Setelah dua menit tubuh Melly seperti mengejang. Ia seperti meledak-ledak
dan ia terdiam melepaskan
kekejangan di ototnya. Jari saya benar-benar basah dibanjiri
cairan dari dalam vaginanya. Saya
oleskan ke penis saya, ke
pangkalnya ke kepalanya dan
lubang penis saya. Hal ini
membangkitkan kembali penis saya. Saya berniat memasukkan kembali
penis saya ke vagina Melly. Tiba-tiba saya dengar suara Rindy,
'Ehh jangan, kamu kan ngga tahu
jadwalnya Melly. Nanti bahaya'.
Setelah itu ia melepaskan seluruh
pakaiannya dan menyiapkan
tubuhnya untuk saya. Sekali lagi saya bercinta dengan Rindy. Kali ini
pertempuran berlangsung benar-
benar lama. Setelah sama-sama
sampai pada puncaknya saya
terjatuh dan terlelap di atas tubuh
Rindy, sementara penis saya masih di dalam vaginanya. Saat saya sadar, ternyata Melly juga
tertidur di samping saya dan Rindy.
Sore itu aktifitas kami hanya
bercinta, mandi, makan dan bercinta.
Hari itu saya bercinta dengan Rindy
sebanyak 3 kali dan dengan Melly 4 kali. Sampai pukul 23.00, dan
terbangun pada hari Minggu pukul
9.30. Sejak saat itu, selain dengan Rindy
saya juga bercinta dengan Melly.
Keduanya adik kandung saya. Kami
saling menyayangi. Kami masing-
masing mempunyai kehidupan di
luar rumah, seperti adanya yang lain. Tapi juga punya kehidupan di dalam
rumah yang tersendiri. Jadi pada saat ini saya, mempunyai
aktifitas seks dengan tiga orang,
yaitu Rindy, Melly dan pacar saya. Melly mempunyai seorang teman
akrab, teman sekolah. Namanya Lili,
orangnya cantik, sexy dan
menggairahkan. Mereka saling
bercerita tentang rahasia mereka
masing-masing. Hanya antara mereka. Suatu ketika, saat saya
sedang bercinta dengan Melly, ia
menceritakan bahwa ia telah
menceritakan aktifitas seks antara say
dan Melly atau Rindy kepada Lili.
Tapi ia menjamin bahwa, Lili akan menyimpan rahasia. Selain itu pada saat yang bersamaan,
Melly juga mengatakan bahwa Lili
punya rahasia. Yaitu Lili sering
diminta ayahnya untuk melakukan
hubugan seks. Cerita itu membuat
saya semakin bernafsu menyetubuhi Melly. Dan Melly tampaknya tahu hal
tersebut. TAMAT

pulau bali pulau bercinta

Hello semua pembaca Rumah Seks.
Ini untuk pertama kalinya aku
menuliskan pengalaman pribadiku
berhubungan seks dengan seorang
gadis, jadi maaf yah kalau bahasanya
agak kacau. Panggil saja aku Rot, dan teman 'mainku' adalah si Inna,
yang ternyata jauh lebih
berpengalaman. Perkenalanku
dengan Inna bukan melalui sesuatu
perkenalan yang wajar melainkan
lewat chatting. Yah, sepertinya sudah biasa tapi inilah yang kualami. Aku
saat ini masih kuliah di sebuah PTN di
Bali dan Inna kuliah di sebuah PTS di
bilangan Pondok Labu Jakarta. Lewat chatt dan email, kami saling
mengenal kemudian berlanjut
telepon-teleponan. Awalnya dia
yang telepon, bukan aku karena
bagaimanapun aku anak kost yang
tidak begitu mampu menghabiskan uang untuk sekedar telepon.
Belakangan aku tahu, si Inna bisa
sering meneleponku karena dia
bekerja juga di wartel yang
memungkinkan untuk itu. Kemudian
begitu sering kami kontak lewat telepon itu tak terasa keakraban
muncul diantara kami. Salah satu syarat menyelesaikan studi
di kampusku, aku harus menempuh
apa yang namanya study comparasi
atau study perbandingan ke
berbagai universitas lain. Salah satu
tempat fakultas kami mengadakan SC adalah beberapa perguruan
tinggi yang ada di Jakarta. Klop
rasanya karena aku akan punya
kesempatan bertemu dengan si Inna. Beberapa hari di Jakarta, aku
bersama rombongan mwngunjungi
berbagai universitas yanga ada di
Jakarta. Sebenarnya sih kalau dipikir
nggak jauh beda, tapi namanya
kurikulum kadang merepotkan. Dan tak lupa agendaku mampir ke tempat
Inna itu kupergunakan pada hari
terakhir kunjunganku karena kami
diberi kebebasan untuk
menghabiskan waktu luang itu.
Kesan pertamaku, anaknya manis, walau agak gemuk. Bersamanya,
kami keliling ke berbagai tempat di
Jakarta yang menarik dikunjungi
seperti Senayan dan tempat lainnya.
Memang sih, sudah biasa karena di
Bali pun tempat hiburan tak kurang hebohnya dibanding di Jakarta. Malam itu, yang kebetulan malam
minggu. Inna mengajakku ke
Senayan sekadar untuk melepas
kepenatan. Setelah capek keliling-
keliling, kami putuskan untuk
istirahat sambil berbincang hal-hal yang kami sebelumnya telah
bicarakan di chatting. Tak terasa
waktu bergerak demikian cepat dan
malam telah begitu larut. Aku merasa
tidak enak karena bagaimanapun si
Inna harus pulang kemalaman dan aku tak tahu bagaimana
mengantarnya, wong ke Jakarta saja
baru sekali ini kok. Tapi tampaknya
si Inna santai saja dan perbincangan
kami sampai pada hal-hal yang
sensual, dan sebuah pengakuannya kemudian membuatku sedikit
terkejut dan tersenyum-senyum
sendiri. Ketika kutanya
keperawanannya, dengan santai dia
menjawab tidak. Ternyata dia sudah
tidak perawan lagi dan hilangnya justru karena rasa ingin taunya soal
seks. Waduh, bego banget aku
rasanya. Sampai seumurku begini
jangankan berhubungan seks,
pacaran saja nggak jelas
arahnya.Agak grogi rasanya, karena kemudian kuminta kepadanya untuk
melayaniku. Dengan kata lain
mengajaknya bercinta. He.. he.. he..
dasar bego, aku nggak ngerti
bagaimana memulainya dan itu
membuatnya tertawa. "Kamu emang nggak pengalaman
yah," katanya sambil ketawa
menggodaku.
"Kok bisa sich, umurmu sudah 24,
masa yang begituan nggak pernah?"
tambahnya seperti menyindirku. "Ya, aku emang nggak pengalaman."
Sampai lama jawaban iya itu tidak
muncul darinya sampai akhirnya dia
bilang, "Rott.. jangan sekarang deh.
Aku nggak mood nich. Nanti deh
semingu lagi aku mau refresing ke Bali. Di sana aja yah kita begituan.."
katanya lembut. "Dan aku mau kita
melakukannya di tepi pantai yang
indah di Bali sana. Kamu pasti tahu
tempat yang menarik kan?"
tambahnya. Dan malam itu kami tidak melakukan apapun, kecuali
pada akhirnya aku memberanikan
diri menciumnya di satu tempat yang
agak sepi. Malam itu kemudian
berlalu dengan tanpa terasa, tapi di
kepalaku sudah dipenuhi wajah si Inna dan bagaimana memainkan
seks, seks dan seks. Sampai berhari-hari, setelah aku
kembali ke Bali pikiranku masih
uring-uringan, karena merasa bodoh
dan bego. Masa anak cewek aja
berani begitu aku nggak. Sebagai
pelarian, berkali-kali aku ke kamar mandi. Bukannya mandi atau boker,
tapi Onani. Hi.. hi.. hi., kubayangkan
sedang bercinta dengan Inna dan
mencoba berbagai gaya yang
pernah kutonton di VCD Porno.
Hampir setiap hari kubayangkan tubuhnya itu. Tinggi 160 cm, agak
gemuk walau tidak gemuk-gemuk
banget, dengan ukuran BH yang
(kata dia) berukuran 36B. Montok
Banget. Sampai satu ketika telepon di kost-
ku berdering dan itu ternyata dari si
Inna yang mengabarkan akan
datang ke Bali. Ohh bahagianya
aku.. bahwa hasratku akan
kesampaian. Keesokan harinya ia datang dengan senyum manisnya
itu. Kemudian aku bersamanya
mencari hotel yang agak murah di
Daerah Diponegoro Denpasar.
Disana kami masih ngobrol
mengenang obrolan yang dulu-dulu di Jakarta sampai kubilang tentang
ajakannya dulu ke pantai. Ia hanya
senyum dan mengangguk. "Horree..
kesampaian juga nih," pikirku. Dan
selama di sana kami kemana-mana
selalu berdua, makan, dan juga jalan-jalan. Malam itu kami memenuhi janji yang
kami ucapkan dulu, kami ke pantai
Seminyak yang memang kalau
malam sepi sekali. Kami jalan-jalan,
menyusuri pantai itu dengan
bergandengan tangan dan berpelukan rapat. Tiba di satu lokasi
yang landai ia mengajakku berhenti
dan menyuruhku diam di sana. Aku
hanya menurut apa maunya, dan ia
berjalan ke arah tepi pantai dan di
pantai itu, ia berdiri dan perlahan- lahan melepas bajunya yang ketat,
ini memang hasratnya yang ingin
flying naked on the beach ia menarik
tanganku perlahan dan
mendekapku. Aku jadi merasa bego,
karena aku rasanya diajari olehnya. Aku melumat bibirnya perlahan dan
melumatnya. Perlahan tanganku pun
beraksi meremas buah dadanya.
Hmm, kenyal banget.. dan tanpa
sadar pakaianku diperetelinya satu
persatu. Alamak, kami berdua bugil di pantai Seminyak yang sepi itu. Dia
memainkan tangannya di
kemaluanku, rasanya enak banget,
ia meremas-remas, mengocok-
ngocoknya dan menuntunnya ke
liang senggamanya. Huah.. enak banget rasanya. Kepala kemaluanku
masuk perlahan-lahan dan penuh.
Inna senyum-senyum saja ketika
aku perlahan memainkan batang
kejantananku di dalam liang
senggamanya tapi tiba-tiba aku ingin keluar, payah baru juga nempel dan
aku ejakulasi dini di sana. Aku agak malu, tapi gimana lagi, itu
yang pertama buatku. Inna
bukannya marah, malah tersenyum,
"Payah loe Rot, jauh-jauh ke sini
masa elu lemes gini," katanya. Aku
cuek aja. Kami masih terlentang bugil di pantai itu. Dibilang begitu, darah
lelakiku mendidih. Enak aja kupikir,
akan kubuktikan aku mampu.
Perlahan kembali aku meremas
dadanya, memuntirnya perlahan dan
mulutku mendekati mulutnya. Kami berciuman lembut, sampai kemudian
berubah jadi beringas. Inna kembali
memainkan kejantananku, pelan-
pelan dan aku (yang masih bego ini)
mengecup dan melumat semua buah
dadanya, kiri kanan bergantian, sampai akhirnya mengeras kembali,
tanganku yang tadinya pasif kini
perlahan mulai bergerak liar, aku
meraba liang kewanitaannya yang
ditumbuhi bulu yang lebat itu.
Kemaluanku kembali dilumatnya dan kini semakin mengeras. Posisi kami
secara alamiah berganti ala 69. Aku
melumat liang senggamanya dan ia
mengisap kejantananku dengan
kerasnya. Aku bisa begini karena
keseringan nonton BF. He..he..he.. sampai aku benar-benar tidak tahan
ingin segera memasukkan
kejantananku ke liang
senggamanya. "Inn.." bisikku padanya, "Aku
masukin yah," dan Inna dengan
santai membuka lebar pahanya
hingga dengan mudahnya aku
memasukkan kejantananku ke liang
senggamanya. Ini kedua kalinya aku memasukkan kejantananku ke liang
senggama perempuan, ke
kewanitaan Inna. "Inn, kita terusin sampai pagi yah,"
pintaku.
Inna tidak menyahut, hanya
mendesis, "Aahh.. ohh.." Mana
suaranya keras lagi. "Wow.. Inna
merubah posisi, dia minta di atas. Dan ia mulai berada di atasku dan
aku meremas-remas buah dadanya
yang mengeras. "Oh yes Rott!" Otot
kewanitaannya tegang dan kendor.
"Anak ini pintar mengatur ototnya,"
pikirku. Dengan santainya ia naik- turun di atas perutku sambil sesekali
memuntir-muntir pinggulnya. "Waa..
enak banget, rasanya seperti diurut-
urut dengan kekuatan yang lembut
dan nikmaatt.." Lama sekali sampai
akhirnya gerakannya mulai tak teratur, ia tersengal-sengal. Dan aku
pun tidak bergerak banyak. Hanya
diam, dan sedikit menggoyang-
goyangkan pinggulnya, tanganku
terus merabanya. Sampai tak terasa
kemudian aku merasa ada getaran hebat, memburu ke ujung
kemaluanku. Aku yakin aku
sebentar lagi mulai klimaks. "Ahh..
enak banget rasanya, licin dan
memeknya berdenyut-denyut."
Kembali aku minta merubah posisi, walau rasanya sudah di ubun-ubun,
kupaksakan terus, aku kembali di
atas dan aku bergerak naik-turun,
menekan kejantananku dalam-
dalam. Inna yang sejak tadi senyum-
senyum kini berubah mengerang dan mendesah, "Aahh.. ohh.. enak
banget," kukeluar-masukkan
kejantananku dengan leluasa. Dan
kali ini aku kuat! itu yang penting.
Sampai setengah jam kami bercinta,
dan melawan udara dingin pantai yang menembus tulang. Akhirnya
aku benar-benar lemas, tidak bisa
ditahan lagi, "Inn.. aku mau
keluarr.." teriakku dan bersamaan
kami mencapai puncaknya. "Ohh
puass rasanya.." dan Inna tersenyum manis, "Rot, loe kuat juga yahh..
hehehe.. ampe hampir kalah gue.." Malam itu kami akhiri dengan
bercinta lagi, dan menjelang subuh
kami kembali ke hotel. Oh, ternyata
benar-benar nikmat bercinta dengan
wanita, hingga kini aku sulit untuk
melupakan kenikmatan saat aku bercinta dengan Inna. TAMAT