Kamis, 07 April 2011

mbak lala istri sepupuku

Bekerja sebagai auditor di
perusahaan swasta memang sangat
melelahkan. Tenaga, pikiran,
semuanya terkuras. Apalagi kalau
ada masalah keuangan yang rumit
dan harus segera diselesaikan. Mau tidak mau, aku harus mencurahkan
perhatian ekstra. Akibat dari tekanan
pekerjaan yang demikian itu
membuatku akrab dengan
gemerlapnya dunia malam terutama
jika weekend. Biasanya bareng teman sekantor aku berkaraoke
untuk melepaskan beban. Kadang di
'Manhattan', kadang di 'White
House', dan selanjutnya, benar-
benar malam untuk menumpahkan
"beban". Maklum, aku sudah berkeluarga dan punya seorang
anak, tetapi mereka kutinggalkan di
kampung karena istriku punya
usaha dagang di sana. Tapi lama kelamaan semua itu
membuatku bosan. Ya..di Jakarta ini,
walaupun aku merantau, ternyata
aku punya banyak saudara dan
karena kesibukan (alasan klise) aku
tidak sempat berkomunikasi dengan mereka. Akhirnya kuputuskan
untuk menelepon Mas Adit,
sepupuku. Kami pun bercanda ria,
karena lama sekali kami tidak
kontak. Mas Adit bekerja di salah
satu perusahaan minyak asing, dan saat itu dia kasih tau kalau minggu
depan ditugaskan perusahaannya ke
tengah laut, mengantar logistik
sekaligus membantu perbaikan salah
satu peralatan rig yang rusak. Dan
dia memintaku untuk menemani keluarganya kalau aku tidak
keberatan. Sebenernya aku males
banget, karena rumah Mas Adit
cukup jauh dari tempat kostku Aku
di bilangan Ciledug, sedangkan Mas
Adit di Bekasi. Tapi entah mengapa aku mengiyakan saja
permintaannya, karena kupikir-pikir
sekalian silaturahmi. Maklum, lama
sekali tidak jumpa. Hari Jumat minggu berikutnya aku
ditelepon Mas Adit untuk memastikan
bahwa aku jadi menginap di
rumahnya. Sebab kata Mas Adit
istrinya, Mbak Lala, senang kalau
aku mau datang. Hitung-hitung buat teman ngobrol dan teman main
anak-anaknya. Mereka berdua
sudah punya anak laki-laki dua
orang. Yang sulung kelas 4 SD, dan
yang bungsu kelas 1 SD. Usia Mas
Adit 40 tahun dan Mbak Lala 38 tahun. Aku sendiri 30 tahun. Jadi
tidak beda jauh amat dengan
mereka. Apalagi kata Mbak Lala, aku
sudah lama sekali tidak berkunjung
ke rumahnya. Terutama semenjak
aku bekerja di Jakarta ini Ya, tiga tahun lebih aku tidak berjumpa
mereka. Paling-paling cuma lewat
telepon. Setelah makan siang, aku telepon
Mbak Lala, janjian pulang bareng
Kami janjian di stasiun, karena Mbak
Lala biasa pulang naik kereta. "kalau
naik bis macet banget. Lagian sampe
rumahnya terlalu malem", begitu alasan Mbak Lala. Dan jam 17.00 aku
bertemu Mbak Lala di stasiun. Tak
lama, kereta yang ditunggu pun
datang. Cukup penuh, tapi aku dan
Mbak masih bisa berdiri dengan
nyaman. Kamipun asyik bercerita, seolah tidak mempedulikan kiri
kanan. Tapi hal itu ternyata tidak
berlangsung lama Lepas stasiun J,
kereta benar-benar penuh. Mau
tidak mau posisiku bergeser dan
berhadapan dengan Mbak Lala.
Inilah yang kutakutkan..! Beberapa kali, karena goyangan kereta, dada
montok Mbak Lala menyentuh
dadaku. Ahh..darahku rasanya
berdesir, dan mukaku berubah agak
pias. Rupanya Mbak Lala melihat
perubahanku dan –ini konyolnya- dia mengubah posisi dengan
membelakangiku. Alamaakk..
siksaanku bertambah..! Karena
sempitnya ruangan, si "itong"-ku
menyentuh pantatnya yang bulat
manggairahkan. Aku hanya bisa berdoa semoga "itong" tidak
bangun. Kamipun tetap mengobrol
dan bercerita untuk membunuh
waktu. Tapi, namanya laki-laki
normal apalgi ditambah gesekan-
gesekan yang ritmis, mau tidak mau bangun juga "itong"-ku. Makin lama
makin keras, dan aku yakin Mbak
Lala bisa merasakannya di balik rok
mininya itu. Pikiran ngeresku pun muncul,
seandainya aku bisa meremas dada
dan pinggulnya yang montok itu..
oh.. betapa nikmatnya. Akhirnya
sampai juga kami di Bekasi, dan aku
bersyukur karena siksaanku berakhir. Kami kemudian naik
angkot, dan sepanjang jalan Mbak
Lala diam saja. Sampai dirumah, kami
beristirahat, mandi (sendiri-sendiri,
loh..) dan kemudian makan malam
bersama keponakanku. Selesai makan malam, kami bersantai, dan
tak lama kedua keponakanku pun
pamit tidur. "Ndrew, Mbak mau bicara sebentar",
katanya, tegas sekali.
"Iya mbak.. kenapa", sahutku
bertanya. Aku berdebar, karena
yakin bahwa Mbak akan
memarahiku akibat ketidaksengajaanku di kereta tadi.
"Terus terang aja ya. Mbak tau kok
perubahan kamu di kereta. Kamu
ngaceng kan?" katanya, dengan
nada tertahan seperti menahan rasa
jengkel. "Mbak tidak suka kalau ada laki-laki
yang begitu ke perempuan. Itu
namanya pelecehan. Tau kamu?!"
"MMm.. maaf, mbak..", ujarku
terbata-bata.
"Saya tidak sengaja. Soalnya kondisi kereta kan penuh banget. Lagian,
nempelnya terlalu lama.. ya.. aku
tidak tahan"
"Terserah apa kata kamu, yang jelas
jangan sampai terulang lagi. Banyak
cara untuk mengalihkan pikiran ngeres kamu itu. Paham?!" bentak
Mbak Lisa.
"Iya, Mbak. Saya paham. Saya janji
tidak ngulangin lagi"
"Ya sudah. Sana, kalau kamu mau
main PS. Mbak mau tidur-tiduran dulu. kalau pengen nonton filem
masuk aja kamar Mbak." Sahutnya.
Rupanya, tensinya sudah mulai
menurun. Akhirnya aku main PS di ruang
tengah. Karena bosan, aku ketok
pintu kamarnya. Pengen nonton
film. Rupanya Mbak Lala sedang
baca novel sambil tiduran. Dia
memakai daster panjang. Aku sempat mencuri pandang ke seluruh
tubuhnya. Kuakui, walapun punya
anak dua, tubuh Mbak Lala betul-
betul terpelihara. Maklumlah,
modalnya ada. Akupun segera
menyetel VCD dan berbaring di karpet, sementara Mbak Lala asyik
dengan novelnya. Entah karena lelah atau sejuknya
ruangan, atau karena apa akupun
tertidur. Kurang lebih 2 jam, dan aku
terbangun. Film telah selesai, Mbak
Lala juga sudah tidur. Terdengar
dengkuran halusnya. Wah, pasti dia capek banget, pikirku. Saat aku beranjak dari tiduranku,
hendak pindah kamar, aku
terkesiap. Posisi tidur Mbak Lala
yang agak telungkup ke kiri dengan
kaki kana terangkat keatas benar-
benar membuat jantungku berdebar. Bagaimana tidak? Di depanku
terpampang paha mulus, karena
dasternya sedikti tersingkap. Mbak
Lala berkulti putih kemerahan, dan
warna itu makin membuatku tak
karuan. Hatiku tambah berdebar, nafasku mulai memburu.. birahiku
pun timbul.. Perlahan, kubelai paha itu.. lembut..
kusingkap daster itu samapi pangkal
pahanya.. dan.. AHH.. "itong"-ku
mengeras seketika. Mbak Lala
ternyata memakai CD mini warna
merah.. OHH GOD.. apa yang harus kulakukan.. Aku hanya menelan
ludah melihat pantatnya yang
tampak menggunung, dan CD itu
nyaris seperti G-String. Aku bener-
bener terangsang melihat
pemandangan indah itu, tapi aku sendiri merasa tidak enak hati,
karena Mbak Lala istri sepupuku
sendiri, yang mana sebetulnya harus
aku temani dan aku lindungi dikala
suaminya sedang tidak dirumah. Namun godaan syahwat memang
mengalahkan segalanya. Tak tahan,
kusingkap pelan-pelan celana
dalamnya, dan tampaklah gundukan
memeknya berwarna kemerahan.
Aku bingung.. harus kuapakan.. karena aku masih ada rasa was-was,
takut, kasihan.. tapi sekali lagi
godaan birahi memang
dahsyat.Akhirnya pelan-pelan kujilati
memek itu dengan rasa was-was
takut Mbak Lala bangun. Sllrrpp.. mmffhh.. sllrrpp.. ternyata
memeknya lezat juga, ditambah
pubic hair Mbak Lala yang sedikit,
sehingga hidungku tidak geli bahkan
leluasa menikmati aroma memeknya. Entah setan apa yang menguasai
diriku, tahu-tahu aku sudah
mencopot seluruh celanaku. Setelah
"itong"-ku kubasahi dengan
ludahku, segera kubenamkan ke
memek Mbak Lala. Agak susah juga, karena posisinya itu. Dan aku hasrus
ekstra hati-hati supaya dia tidak
terbangun. Akhirnya "itongku"-ku
berhasil masuk. HH.. hangat
rasanya.. sempit.. tapi licin.. seperti
piston di dalam silinder. Entah licin karena Mbak Lala mulai horny, atau
karena ludah bekas jilatanku..
entahlah. Yang pasti, kugenjot dia..
naik turun pelan lembut.. tapi
ternyata nggak sampai lima menit.
Aku begitu terpukau dengan keindahan pinggul dan pantatnya,
kehalusan kulitnya, sehingga
pertahananku jebol. Crroott..
ccrroott.. sseerr.. ssrreett..
kumuntahkan maniku di dalam
memek Mbak Lala. Aku merasakan pantatnya sedikit tersentak. Setelah
habis maniku, pelan-pelan dengan
dag-dig-dug kucabut penisku. "Mmmhh.. kok dicabut tititnya.."
suara Mbak Lala parau karena masih
ngantuk.
"Gantian dong..aku juga pengen.."
Aku kaget bukan main. Jantungku
tambah keras berdegup. "Wah.. celaka..", pikirku.
"Ketahuan, nich.." Benar saja! Mbak
Lala mambalikkan badannya.
Seketika dia begitu terkejut dan
secara refleks menampar pipiku.
Rupanya dia baru sadar bahwa yang habis menyetubuhinya bukan Mas
Adit, melainkan aku, sepupunya.
"Kurang ajar kamu, Ndrew",
makinya.
"KELUAR KAMU..!" Aku segera keluar dan masuk kamar
tidur tamu. Di dalam kamar aku
bener-bener gelisah.. takut.. malu..
apalagi kalau Mbak Lala sampai lapor
polisi dengan tuduhan pemerkosaan.
Wah.. terbayang jelas di benakku acara Buser.. malunya aku. Aku mencoba menenangkan diri
dengan membaca majalah, buku,
apa saja yang bisa membuatku
mengantuk. Dan entah berapa lama
aku membaca, aku pun akhirnya
terlelap. Seolah mimpi, aku merasa "itong"-ku seperti lagi keenakan.
Serasa ada yang membelai. Nafas
hangat dan lembut menerpa
selangkanganku. Perlahan kubuka
mata.. dan.. "Mbak Lala..jangan", pintaku sambil
aku menarik tubuhku.
"Ndrew.." sahut Mbak Lala, setengah
terkejut.
"Maaf ya, kalau tadi aku marah-
marah. Aku bener-bener kaget liat kamu tidak pake celana, ngaceng
lagi."
"Terus, Mbak maunya apa?" taku
bertanya kepadaku. Aneh sekali, tadi
dia marah-marah, sekarang kok..
jadi begini.. "Terus terang, Ndrew.. habis marah-
marah tadi, Mbak bersihin memek
dari sperma kamu dan disiram air
dingin supaya Mbak tidak ikutan
horny. Tapi.. Mbak kebayang-
bayang titit kamu. Soalnya Mbak belum pernah ngeliat kayak punya
kamu. Imut, tapi di meki Mbak
kerasa tuh." Sahutnya sambil
tersenyum. Dan tanpa menunggu jawabanku,
dikulumnya penisku seketika
sehingga aku tersentak dibuatnya.
Mbak Lala begitu rakus melumat
penisku yang ukurannya biasa-biasa
saja. Bahkan aku merasakan penisku mentok sampai ke
kerongkongannya. Secara refleks,
Mbak naik ke bed, menyingkapkan
dasternya di mukaku. Posisii kami
saat ini 69. Dan, Ya Tuhan, Mbak Lala
sudah melepas CD nya. Aku melihat memeknya makin membengkak
merah. Labia mayoranya agak
menggelambir, seolah menantangku
untuk dijilat dan dihisap. Tak kusia-
siakan, segera kuserbu dengan
bibirku.. "SSshh.. ahh.. Ndrew.. iya.. gitu..
he-eh.. Mmmffhh.. sshh.. aahh"
Mbak Lala merintih menahan nikmat.
Akupun menikmati memeknya yang
ternyata bener-bener becek. Aku
suka sekali dengan cairannya. "Itilnya.. dong.. Ndrew.. mm..
IYAA.. AAHH.. KENA AKU..
AMPUUNN NDREEWW.."
Mbak Lala makin keras merintih dan
melenguh. Goyangan pinggulnya
makin liar dan tak beraturan. Memeknya makin memerah dan
makin becek. Sesekali jariku
kumasukkan ke dalamnya sambil
terus menghisap clitorisnya. Tapi
rupanya kelihaian lidah dan jariku
masih kalah dengan kelihaian lidah Mbak Lala. Buktinya aku merasa ada
yang mendesak penisku, seolah mau
menyembur. "Mbak.. mau keluar nih.." kataku.
Tapi Mbak Lala tidak mempedulikan
ucapanku dan makin ganas
mengulum batang penisku. Aku
makin tidak tahan dan.. crrootts..
srssrreett.. ssrett.. spermaku muncrat di muutu Mbak Lala. Dengan
rakusnya Mbak Lala mengusapkan
spermaku ke wajahnya dan menelan
sisanya. "Ndrewww.. kamu ngaceng terus
ya.. Mbak belum kebagian nih.."
pintanya.
Aku hanya bisa mmeringis menahan
geli, karena Mbak Lala melanjutkan
mengisap penisku. Anehnya, penisku seperti menuruti kemauan
Mbak Lala. Jika tadi langsung lemas,
ternyata kali ini penisku dengan
mudahnya bangun lagi. Mungkin
karena pengaruh lendir memek
Mbak Lala sebab pada saat yang sama aku sibuk menikmati itil dan
cairan memeknya, aku jadi mudah
terangsang lagi. Tiba-tiba Mbak Lala bangun dan
melepaskan dasternya.
"Copot bajumu semua, Ndrew"
perintahnya.
Aku menuruti perintahnya dan
terperangah melihat pemandangan indah di depanku. Buah dada itu
membusung tegak. Kuperkirakan
ukurannya 36B. Puting dan
ariolanya bersih, merah kecoklatan,
sewarna kulitnya. Puting itu benar-
benar tegak ke atas seolah menantang kelelakianku untuk
mengulumnya. Segera Mbak Lala
berlutut di atasku, dan tangannya
membimbing penisku ke lubang
memeknya yang panas dan basah.
Bless.. sshh.. "Aduhh.. Ndrew.. tititmu keras
banget yah.." rintihnya.
"kok bisa kayak kayu sih..?"
Mbak Lala dengan buasnya
menaikturunkan pantatnya, sesekali
diselingi gerkan maju mundur. Bunyi gemerecek akibat memeknya yang
basah makin keras. Tak kusia-siakan,
kulahap habis kedua putingnya
yang menantang, rakus. Mbak Lala
makin keras goyangnya, dan aku
merasakan tubuh dan memeknya makin panas, nafasnya makin
memburu. Makin lama gerakan
pinggul Mbak Lala makin cepat,
cairan memeknya membanjir,
nafasnya memburu dan sesaat
kurasakan tubuhnya mengejang.. bergetar hebat.. nafasnynya
tertahan. "MMFF.. SSHSHH.. AAIIHH..
OUUGGHH.. NDREEWW.. MBAK
KELUAARR.. AAHHSSHH.."
Mbak Lala menjerit dan mengerang
seiring dengan puncak kenikmatan
yang telah diraihnya. Memeknya terasa sangat panas dan gerakan
pinggulnya demikian liar sehingga
aku merasakan penisku seperti
dipelintir. Dan akhirnya Mbak Lala
roboh di atas dadaku dengan
ekspresi wajah penuh kepuasan. Aku tersenyum penuh kemenangan
sebab aku masih mampu bertahan.. Tak disangka, setelah istirahat
sejenak, Mbak Lala berdiri dan
duduk di pinggir spring bed. Kedua
kakinya mengangkang,
punggungnya agak ditarik ke
belakang dan kedua tangannya menyangga tubuhnya.
"Ndrew, ayo cepet masukin lagi. Itil
Mbak kok rasanya kenceng lagi.."
pintanya setengah memaksa.
Apa boleh buat, kuturuti
kemauannya itu. Perlahan penisku kugosok-gosokkan ke bibir memek
dan itilnya. Memek Mbak Lala mulai
memerah lagi, itilnya langsung
menegang, dan lendirnya tampak
mambasahi dinding memeknya.
"SShh.. mm.. Ndrew.. kamu jail banget siicchh.. oohh.." rintihnya.
"Masukin aja, yang.. jangan siksa
aku, pleeaassee.." rengeknya. Mendengar dia merintih dan
merengek, aku makin bertafsu.
Perlahan kumasukkan penisku yang
memang masih tegak ke memeknya
yang ternyata sangat becek dan
terasa panas akibat masih memendam gelora birahi. Kugoyang maju
mundur perlahan, sesekali dengan
gerakan mencangkul dan memutar.
Mbak Lala mulai gelisah, nafasnya
makin memburu, tubuhnya makin
gemetaran. Tak lupa jari tengahku memainkan dan menggosok
clitorisnya yang ternyata benar-
benar sekeras dan sebesar kacang.
Iseng-iseng kucabut penisku dari
liang surganya, dan tampaklah
lubang itu menganga kemerahan.. basah sekali.. Gerakan jariku di itilnya makin
kupercepat, Mbak Lala makin tidak
karuan gerakannya. Kakinya mulai
kejang dan gemetaran, demikian
pula sekujur tubuhnya mulai
bergetar dan mengejang bergantian. Lubang memek itu makin becek,
terlihat lendirnya meleleh dengan
derasnya, dan segera saja kusambar
dengan lidahku.. direguk habis
semua lendir yang meleleh. Tentu
saja tindakanku ini mengagetkan Mbak Lala, terasa dari pinggulnya
yang tersentak keras seiring dengan
jilatanku di memeknya. Kupandangi memek itu lagi, dan aku
melihat ada seperti daging
kemerahan yang mencuat keluar,
bergerinjal berwarna merah seolah-
olah hendak keluar dari memeknya.
Dan nafas Mbak Lala tiba-tiba tertahan diiringi pekikan kecil.. dan
ssrr.. ceerr.. aku merasakan ada
cairan hangat muncrat dari
memeknya. "Mbak.. udah keluar?", tanyaku.
"Beluumm.., Ndreew.. ayo sayang..
masukin kontol kamu.. aku hampir
sampaaii.." erangnya.
Rupanya Mbak Lala sampai
terkencing-kencing menahan nikmat. Akibat pemandangan itu aku merasa
ada yang mendesak ingin keluar dari
penisku, dan segera saja kugocek
Mbak Lala sekuat tenaga dan secepat
aku mampu, sampai akhirnya.. "NDREEWW.. AKU KELUAARR..
OOHH.. SAYANG.. MMHH..
AAGGHH.. UUFF..", Mbak Lala
menjerit dan mengerang tidak
karuan sambil mengejang-ngejang.
Bola matanya tampak memutih, dan aku merasa jepitan di penisku begitu
kuat. Akhirnya bobol juga
pertahananku.. "Mbak.. aku mau muncrat nich.."
kataku.
"Keluarin sayang.. ayo sayang,
keluarin di dalem.. aku pengen
kehangatan spermamu sekali lagi.."
pintanya sambil menggoyangkan pinggulnya, menepuk pantatku dan
meremas pinggulnya.
Seketika itu juga.. Jrruuoott..
jrroott.. srroott..
"Mbaakk.. MBAAKK.. OOGGHH..
AKU MUNCRAT MBAAKK.." aku berteriak.
"Hmm.. ayo sayang.. keluarkan
semua.. habiskan semua.. nikmati,
sayang.. ayo.. oohh.. hangat..
hangat sekali spermamu di rahimku..
mmhh.." desah Mbak Lala manja menggairahkan.
Akupun terkulai diatas tubuh
moleknya dengan nafas satu dua.
Benar-benar malam jahanam yang
melelahkan sekaligus malam surgawi. "Ndrew, makasih ya.. kamu bisa
melepaskan hasratku.." Mbak Lala
tersenyum puas sekali..
"He-eh.. Mbak.. aku juga.." balasku.
"Aku juga makasih boleh menikmati
tubuh Mbak. Terus terang, sejak ngeliat Mbak, aku pengen
bersetubuh dengan Mbak. Tapi aku
sadar itu tak mungkin terjadi.
Gimana dengan keluarga kita kalau
sampai tahu."
"Waahh.. kurang ajar juga kau ya.." kata Mbak Lala sambil memencet
hidungku.
"Aku tidak nyangka kalau adik
sepupuku ini pikirannya ngesex
melulu. Tapi, sekarang impian kamu
jadi kenyataan kan?" "Iya, Mbak. Makasih banget.. aku
boleh menikmati semua bagian tubuh
Mbak." Jawabku.
"Kamu pengalaman pertamaku,
Ndrew. Maksud Mbak, ini pertama
kali Mbak bersetubuh dengan laki- laki selain Mas Adit. tidak ada yang
aneh kok. Titit Mas Adit jauh lebih
besar dari punya kamu. Mas Adit
juga perkasa, soalnya Mbak berkali-
kali keluar kalau lagi join sama
masmu itu" sahutnya. "Terus, kok keliatan puas banget?
Cari variasi ya?" aku bertanya.
"Ini pertama kalinya aku sampai
terkencing-kencing menahan
nikmatnya gesekan jari dan tititmu
itu. Suer, baru kali ini Mbak sampai pipisin kamu segala. Kamu nggak
jijik?"
"Ooohh.. itu toh..? Kenapa harus
jijik? Justru aku makin horny.." aku
tersenyum. Kami berpelukan dan akhirnya
terlelap. Kulihat senyum tersungging
di bibir Mbak Lalaku tersayang.. Tamat

sepupuku endang

Kenalkan, nama saya Boy, teman-
teman biasa memanggilku Mas Boy.
Saya seorang pemuda berusia 25
tahun dengan tinggi badan 170 cm
dan berat 55 kg. Meski usia saya kini
sudah seperempat abad, namun pengetahuan saya dalam dunia
percintaan masih sangat minim dan
belum punya banyak pengalaman
yang layak dibanggakan
sebagaimana layaknya anak muda
jaman sekarang. Sekarang saya sedang bekerja pada
sebuah perusahaan swasta yang
bergerak di bidang jasa. Sebut saja
nama perusahaan itu adalah
Sepinggan tours and travel service.
Jarak kantor itu sekitar 5 km dari tempat tinggal saya. Kini saya tinggal dengan Om saya,
saya biasa memanggilnya om Rudy,
ia adalah adik kandung dari Ibu
saya). Om Rudy sehari-hari bekerja
sebagai Kepala sekolah di sebuah
SMK Negeri yang cukup terkenal di kota kami, sementara tante saya,
sebut saja namanya tante Rini
bekerja sebagai perawat di sebuah
RS swasta. Kedua anaknya (sepupu
saya) tinggal kost di kota lain karna
mereka tidak mau kuliah di kota kami (entah karena alasan apa).
Sejak kedua anaknya kuliah dan
tinggal di kota lain, om dan tante
saya hanya tinggal bertiga dengan
seorang pembantu. Sekitar dua bulan kemudian Om
Rudy mengajak saya agar saya
tinggal bersama mereka, dengan
alasan daripada saya harus kost di
luar, lebih baik saya tinggal di rumah
om saya saja karena di rumahnya ada kamar yang kosong, kata om
Rudy memberi alasan. Sejak saat itu
jumlah penghuni rumah bertambah
satu orang. Sebulan kemudian, tante
Rini membawa keponakannya ke
rumah, jadi sekarang ada lima orang yang tinggal di rumah itu. Sejak
kedatangan keponakan tante Rini,
suasana jadi kembali ramai, tidak
seperti dulu lagi ketika belum ada
keponakan. Nama keponakan tante
Rini adalah Endang, usianya 15 tahun, ia sudah duduk di kelas dua
SMKK Negeri. Endang adalah
seorang gadis yang cantik, cerdas,
rajin dan baik hati pada semua
orang. Suatu ketika, om Rudy dan tante Rini
pergi menghadiri acara perpisahan
siswa kelas II di sekolah tempat om
saya bekerja. Ia sempat mengajak
saya, namun saya menolak dengan
alasan saya agak lelah, lalu tante Rini mengajak Endang, namun Endang
juga menolak dengan alasan Endang
lagi ada tugas dari sekolah yang
harus diselesaikan malam itu juga
karena besok tugas itu sudah harus
dikumpulkan. Sebelum om dan tante meninggalkan rumah, mereka tidak
lupa berpesan agar kami berdua
berhati-hati, karena sekarang
banyak maling yang pura-pura
datang sebagai tamu, namun
ternyata sang tamu tiba-tiba merampok setelah melihat situasi
yang memungkinkan. Setelah selesai
berpesan, om dan tante pun pergi
sambil menyuruh saya menutup
pintu. Sejak kepergian om dan tante saya,
rumah jadi hening, kini hanya ada
suara TV, namun sengaja saya
kecilkan volumenya karena Endang
sedang belajar. Saya hanya duduk
di ruang depan menonton sebuah sinetron yang ditayangkan salah satu
stasiun TV swasta. Saya sempat
menyaksikan adegan panas seorang
lelaki paruh baya yang sedang asyik
berselingkuh dengan seorang gadis
yang ternyata teman sekantornya sendiri. Karena terlalu asyiknya saya
nonton TV, sehingga saya sangat
kaget ketika sebuah tangan
menepuk pundak saya. Setelah saya
lihat ternyata Endang, ia tersenyum
manis sambil menarik lenganku dengan manja menuju kamarnya.
Saya jadi deg-degan setelah melihat
penampilannya, ternyata ia hanya
mengenakan celana pendek ketat
warna coklat muda dengan kaos
orangenya yang super ketat, sehingga lekuk-lekuk tubuhnya
tampak begitu jelas. Sejenak saya terpana melihat
tubuhnya yang nyaris sempurna.
Saya amati pinggangnya bagai gitar
spanyol dengan paha yang
kencang, mulus, dan bersih. Selain
itu juga tampak buah dadanya sangat menantang. Sepertinya
ukuran BH-nya 34B. Pemandangan
itu sempat mengundang pikiran jahat
saya. Bagaimana rasanya kalo saya
menikmati tubuhnya yang nyaris
sempurna itu. Namun saya berusaha menyingkirkan pikiran itu karena
saya pikir bahwa dia adalah sepupu
ipar saya, tinggal serumah dengan
saya dan saya pun menganggapnya
sudah seperti adik kandung saya
sendiri. "Ada apa sih? Kok kamu mengajak
saya masuk ke kamar kamu?"
kataku agak bingung sambil
berusaha melepaskan tangan saya.
Sebenarnya bukan karena saya
menolak tetapi hanya karena grogi saja. Maklum saya belum pernah
masuk ke kamar Endang
sebelumnya.
"Kak, Endang mau minta tolong nih!"
katanya sambil menatapku manja.
"Kakak mau ngga membantu saya menyelesaikan tugas ini, soalnya
besok udah harus dikumpul." kata
dia setengah merengek.
"Oh, maksudnya kamu mau minta
tolong agar saya membantu kamu
mengerjakan tugas itu? Okelah. Saya akan membantumu dengan
senang hati, saya kan sudah berjanji
untuk selalu menolongmu." kataku
mantap.
"Asyik, makasih ya kak." kata
Endang sambil menciumku. Kontan saya merasa tersengat aliran
listrik karena meskipun umur sudah
25 tahun, saya belum pernah
mendapat ciuman seperti itu dari
seorang gadis, apalagi ciuman itu
datangnya dari gadis secantik Endang. Saya pun segera
membantunya sambil sesekali curi
padang padanya, namun sepertinya
ia tidak menyadari kalau saya
memperhatikanya. Setelah kami mengerjakan tugas itu
sekitar 30 menit, tiba-tiba Endang
berhenti mengerjakan tugas itu. Ia
mengeluh sambil memegangi
keningnya.
"Kak, Endang pusing nih, boleh ngga kakak pijitin kepala Endang?"
katanya sambil merapatkan
badannya ke dada saya.
Sempat saya merasakan gesekan dari
payudaranya yang cukup kencang
namun terasa lembut. "Emang kenapa kok Endang tiba-
tiba pusing?" tanya saya agak heran.
"Ayo kak, tolong pijatin donk,
kepala Endang pening!"
"Oke, dengan senang hati lagi."
kataku penuh antusias. Saya lalu mulai menekan-nekan
keningnya dengan tangan kiri saya
dan tangan kanan. Saya menahan
lehernya agar badannya tidak
bergoyang. Sesekali saya juga
mengelus pundaknya yang putih bersih.
"Kak, belakang leher Endang juga
kak, soalnya leher Endang agak
kaku nih." katanya sambil menuntun
tangan saya pada lehernya.
Setelah saya memijatnya sekitar lima menit, ia lalu berdiri sambil menarik
tangan saya.
Katanya, "Kak, Endang baring di
ranjang aja ya? Biar pijitnya
gampang."
"Terserah Endang ajalah." kata saya sambil mengikutinya dari belakang.
Lagi-lagi saya terkesima melihat
pinggulnya yang sungguh aduhai. Ia lalu berbaring telungkup di atas
ranjang sambil menyuruh saya
memijat leher dan punggungnya.
Sesekali saya melihat dia
menggerakkan tubuhnya, entah
karena sakit atau karena geli. Saya tidak tahu pasti, yang jelas saya juga
sangat senang memijat
punggungnya yang sangat seksi. Entah karena gerah atau bagaimana,
tiba-tiba saja ia bangun.
Katanya, "Kak, Endang buka baju
saja ya? Sekalian pakai balsem biar
cepat sembuh."
"Mungkin Endang masuk angin." katanya sambil melepaskan kaosnya,
lalu kembali berbaring di depan saya.
Saya terkesima melihat kulit
tubuhnya yang kuning langsat.
Dalam hati saya berpikir alangkah
bahagianya saya kalau kelak mempunyai istri secantik Endang.
Saya terus memijatnya dengan
lembut. Sesekali saya memutar-mutar
jari-jari saya di tepi rusuknya. Setiap
saya meraba sisi rusuknya, ia kontan
menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Kadang juga
pinggulnya ditarik. Maklum, ia belum
terbiasa disentuh laki-laki. Saya juga
sudah mulai merasakan penis saya
mulai bergerak-gerak dan kini sudah
semakin tegang. Tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya
menghadap ke arah saya.
Katanya, "Kak, Endang buka aja BH-
nya ya kak? Soalnya gerah nih."
"Terserah Endang lah." kata saya.
Kini kami saling berhadap-hadapan, ia berbaring menatap ke arah
pandangan saya dan saya berlutut di
samping kanannya. Dia hanya
tersenyum manja, saya pun
membalas senyumanya dengan
senyuman yang entah seperti apa modelnya, soalnya saya sudah tidak
konsen lagi karena nafas saya sudah
mulai tidak menentu. Sepertinya
nafas Endang juga sudah mulai tidak
terkendali, saya melihat bukitnya
yang nampak berdiri kokoh dengan pucuk warna merah jambu kini
sudah mulai turun naik. Saya sempat grogi dibuatnya,
bagaimana tidak, selama ini saya
belum pernah melihat pemandangan
seindah ini. Di depan saya kini
tergeletak seorang gadis yang
tubuhnya begitu memabukkan dengan desahan nafas yang
membuat batang kejantanan saya
sudah berdenyut-denyut. Seakan-
akan penis saya mau lompat
menerjang tubuh Endang yang
terbaring mengeliat-geliat, sungguh darah muda saya mulai berdesir
kencang. Kini saya mulai merasakan
detak jantung saya sudah tidak
beraturan lagi. "Kenapa kak?" katanya sambil
tersenyum manja.
"Ngga, ngga papa kok." kata saya
agak grogi.
"Sudahlah, ayo Kak pijitnya yang
agak keras dikit." "Iya, iya" jawab saya.
Saya lalu mulai mengelus-elus
perutnya yang putih bersih itu,
tanpa sengaja saya menyenggol
gundukan di dadanya.
"Ahh.." katanya sambil menggeliatkan tubuhnya.
Saya dengan cepat memindahkan
tangan, tetapi ia kembali
menariknya."Tidak apa-apa kak,
terusin saja." katanya.
Wah, benar-benar malam ini adalah malam yang sangat menyenangkan
bagi saya karena tidak pernah
terlintas di dalam pikiran saya akan
mendapat kesempatan seperti ini.
Kesempatan untuk mengelus-elus
tubuh Endang yang sangat meransang.
"Saya tidak boleh melewatkan
kesempatan sebaik ini," kata saya
dalam hati. Kini Endang semakin merasakan
rabaan jari-jari saya, saya melihat
dari desahan nafasnya dan dari
tubuhnya yang sudah mulai hangat.
Entah setan apa yang membuat
Endang lupa diri, dia tiba-tiba menarik wajah saya, lalu
mengusapnya dengan jari-jarinya
yang lembut dan mulai mencium dan
menggigit bibir saya. Saya hanya
pasrah dan terus terang saya juga
sebenarnya sangat menginginkanya, namun selama ini saya pendam saja
karena saya menghargainya dan
menganggapnya sebagai adik saya
sendiri. Tetapi saat ini pikiran itu telah
sirna dari kepala saya yang dialiri
oleh gelora darah muda saya yang menggelora. Ia terus mencium saya
dan kini ia melepaskan kaos yang
saya pakai lalu membuangnya di
samping ranjang. "Endang, ada apa ini?" tanya saya
setengah tidak percaya dengan apa
yang sedang ia lakukan.
Tetapi ia tidak memperdulikan kata-
kata saya lagi. Melihat gelagat
Endang yang sudah di luar batas kendali itu, saya pun tidak mau
tinggal diam. Saya mulai membalas
ciumannya, melumat bibirnya dan
menghisap lehernya yang putih
bersih. Saya merasakan penis saya
semakin keras dan berdenyut- denyut. Endang terus mencium bibir
saya dengan nafas tersengal-sengal.
Saya pun tidak mau kalah, saya
mulai meremas-remas payudaranya
yang masih kencang dan
menantang. Kini saya mulai mengisap pucuknya.
"Achh.." ia menggeliat. Saya melihat Endang semakin
menikmati perbuatannya. Sesekali ia
menggerakkan pinggulnya ke kiri
dan ke kanan sambil mendesah
nikmat. Endang melihat penis sudah
mendongkrak celana pendek saya, ia lalu menyelipkan tangannya ke
dalam CD saya dan ia kini sudah
menggenggam penis saya yang
berdiri tegak dengan otot-otot yang
berwarna kebiruan. Ia lalu menarik
celana pendek dan CD saya dan kemudian melemparkannya ke lantai. Ia kembali menangkap penis saya
dan mengocoknya dengan jari-
jarinya yang lembut. "Aachh..
achh.." benar-benar nikmat rasanya.
Saya merasakan penis saya semakin
tegang dan semakin panjang. Ia terus mempermainkan milik saya
yang sudah berdenyut-denyut dan
mulai mengeluarkan cairan bening.
Saya pun tidak mau ketinggalan.
Saya lalu menyelipkan jari-jari saya
ke selangkangannya. Saya merasakan lubang kemaluannya
sudah hangat dan sudah sangat
basah dengan cairan warna bening
mengkilat. Rupanya ia sudah benar-
benar sangat terangsang dengan
permainan kami. Dengan nafas yang tersengal-sengal,
saya lalu melorotkan celana Endang
lalu meremas-remas pahanya yang
putih mulus dan masih kencang.
Saya tidak sanggup lagi menahan
nafsu saya yang sudah naik ke ubun-ubun saya. Dengan sekali
tarik, saya berhasil melepaskan CD-
nya Endang. Kini ia benar-benar
bugil. Saya sejenak terpana
menyaksikan tubuhnya yang kini
tanpa sehelai benang, dengan kulit kuning langsat, halus, bersih dan
bentuk badan yang sangat seksi
sungguh nyaris sempurna. Saya benar-benar tidak tahan
melihat vaginya yang ditumbui
rambut tipis dan halus dengan
bentuknya yang mungil berwarna
coklat agak kemerah-merahan.
Kembali penis saya berdenyut- denyut, seakan meronta-ronta ingin
menerjang lubang nikmat Endang
yang masih terkatup rapat. Saya
sangat gemas melihat liang
kemaluannya dan kini saya mulai
mengusap-usap bibirnya dan meremas klitorisnya. Lubang nikmat
Endang sudah sangat basah. Saya
melihat Endang semakin terlelap
dalam nafsunya. Ia hanya
mengerang nikmat.
"Achh.. achh.. ohh.. ohh.." Saya terus menjilat klitorisnya. Ia
hanya mendesah, "Achh.. achh.."
sambil menarik-narik pinggulnya. "Kak, ayo masukin kak!" sambil
menarik penis saya menuju bibir
kemaluannya.
"Oke sayang," lalu saya membuka
kakinya.
Kemudian saya melipat kakinya dan menyuruhnya supaya ia membuka
pahanya agak lebar. Saya lalu
menarik pantat saya dan
merapatkannya pada selangkangan
Endang. Ia dengan cekatan meraih
batang kemaluan saya lalu menempelkannya di bibir
kemaluanya yang masih sangat rapat
namun sudah basah dengan cairan
lendirnya.
"Pelan-pelan ya kak, Endang belum
biasa." "Iya sayang," kata saya sambil
mengecup bibirnya yang merekah
basah. Saya kemudian mendorongnya
pelan-pelan.
"Achh.. sakit kak."
"Tahan sayang."
Saya lalu kembali mendorongnya
pelan-pelan dan kini batang saya sudah bisa masuk setengahnya.
Endang hanya menggeliat dan
menggigit bibirnya. Saya terus
mendorongnya sambil memeluk
tubuhnya. Sesekali saya
menyentaknya agak keras. "Achhkk.. sakit kak, pelan-pelan
donk!" memang kelaminnya masih
sangat rapat, maklum ia masih
perawan.
"Tahan ya sayang," saya mencoba
menenangkannya sambil memegang pinggulnya erat-erat.
"Akk.." Endang meringis keras.
Ia memukul dada saya dengan keras
sambil menarik pantatnya.
"Sakit kak, sakitt.." Saya merasakan batang kejantanan
saya menembus sesuatu yang kenyal
dalam lubang kenikmatan Endang.
Rupanya batang saya telah berhasil
menembul selaput daranya. Dari
liang sorga Endang tampak mengalir darah segar. Saya terus
menggoyang-goyangkan pinggul
saya maju mundur sambil menciumi
bibirnya dan meremas-remas
gunungnya yang sangat menantang
itu. Sesekali saya melihat dia merapatkan kedua pahanya sambil
mengigit bibirnya. Benar-benar milik
Endang sungguh nikmat, saya
merasakan vaginanya semakin basah
dan licin, namun tetap saya
merasakan kejantanan saya terjepit dan kadang seperti dihisap oleh
vaginanya Endang. Kini saya merasakan batang
kemaluan saya sudah berdenyut-
denyut sepertinya ingin
memuntahkan sesuatu, namun saya
tetap menahannya dengan
mengurangi irama permainan saya. "Terus kak, terus.." ia menggeliat.
Saya melihat kedua kakinya
mengejang. Gerakan saya kembali
saya pacu, membuat payudaranya
agak bergoyang dan sepertinya
semakin membesar berwarna kemerah-merahan.
"Achh.. achh.. Kak cepat kak, cepat
kak." sambil menggeliat.
Ia merapatkan pahanya. Dia mulai
menggerak-gerakkan tangannya
mencari pegangan. Akhirnya ia memelukku dengan erat dan
mengangkat kedua kakinya. Sambil
menggigit bibirnya, ia memejamkan
matanya. Saya merasakan kalau kini
badannya sudah kaku dan hangat.
Akhirnya Endang memelukku erat- erat dan mengangkat pantatnya
sambil berteriak."Achhkk.." Saya merasakan badannya bergetar
dan sepertinya ada sesuatu yang
hangat menyentuh batang
kejantanan saya, rupanya Endang
sudah orgasme. Saya semakin tidak
kuat menahan denyutan dari buah kejantanan saya, akibat kenikmatan
yang diberikan Endang sangat luar
biasa, batang saya semakin
berdenyut-denyut dan kini saya
benar-benar tidak sanggup lagi
menahannya. Lalu saya mempercepat gerakan saya dan
mendorong penis saya lebih dalam
lagi sambil menarik tubuh Endang
dengan erat ke dalam pelukan saya.
Saya merasakan kenikmatan yang
sangat dahsyat itu. Kini semuanya mengaliri dan menggetarkan seluruh
tubuh saya mulai dari ubun-ubun
sampai ujung kaki saya.
Akhirnya, "Srett.. srett.. srett.." Kejantanan saya mengeluarkan
cairan hangat dalam lubang
kemaluan Endang. Saya sempat
bingung dan takut karena telah
menikmati tubuh Endang secara
tidak sah. Namun rasa nikmat itu lebih dahsyat sehingga pikiran itu
segera sirna. Saya hanya tersenyum
lalu mengecup bibir Endang dan
mengucapkan terima kasih pada
Endang. Tampak tubuh Endang
basah dengan keringatnya tetapi terlihat wajahnya berseri-seri karena
puas. Endang hanya merapatkan
kedua tangannya ke sisi tubuhnya.
Ketika saya mencabut batang
kejantanan saya dari vaginanya ia
hanya tersenyum saja. Astaga, saya melihat di sprey Endang terdapat
bercak darah. Tetapi segera Endang
bangun dan menenangkan saya.
"Tenang mas, nanti saya cuci, tak
akan ada yang mengetahuinya."
katanya sambil meletakkan jarinya di kedua bibir saya. Kami berdua lalu menuju ke kamar
mandi. Di situ kami masih sempat
melakukannya sekali lagi, lalu
akhirnya kami kembali mandi dan
kembali ke kamarnya Endang.
Setelah saya mengambil baju dan celana, saya pun menuju ruang
tamu. Tidak lama kemudian keluarlah
Endang dari kamarnya lalu
mengajak saya makan malam
berdua. Katanya, ia sengaja duluan
makan karena tidak ingin bertemu dengan om dan tante malam ini.
Mungkin Endang malu dan takut
kalau perbuatan kami ketahuan.
Setelah makan, ia kembali ke
kamarnya. Entah ia tidur atau
belajar, saya tidak tahu pasti. Tidak lama kemudian, om dan tante
saya datang. Mereka menceritakan
keadaan pesta itu yang katanya
cukup ramai dibanding tahun lalu
karena tahun ini siswanya lulus 100
persen dengan nilai tertinggi di kota kami. Om saya menanyakan
Endang, tetapi saya katakan
mungkin ia sudah tidur sebab tadi
setelah makan ia sempat mengatakan
kepada saya bahwa ia agak lelah.
Om saya hanya menggangguk lalu menuju kamarnya, katanya ia juga
sudah makan dan kini ia pun ingin
istirahat. Saya tersenyum puas dan kembali
menonton sebentar, lalu masuk
kamar saya. Di dalam kamar, saya
tidak bisa tidur membayangkan
kejadian yang baru saja terjadi
beberapa jam yang lalu. Malam ini saya sangat senang karena telah
merasakan sesuatu yang tidak
pernah saya rasakan sebelumnya
dan pengalaman yang sangat manis
ini tentu tidak akan pernah saya
lupakan sepanjang hidup saya. Tamat

sepupuku sayang

Perkenalkan namaku Roni (samaran)
umur 25 tahun, bekerja pada suatu
perusahaan Jepang di bekasi sebagai
EDP. Cerita ini bermula waktu aku masih
SD kelas 5 dan mulai mengenal yang
namanya seks. Itu juga pertama kali
dengan adik sepupuku yang
lumayan cakep lah.., ingat aktris
sinetron "Dominique Sandra", seperti dia cantiknya.
Dia anak pakde ku yang tinggal di
Jawa Tengah namanya .. Retno .. (8
tahun). (Sengaja aku kosongkan
nama pertama dan terakhir, takut
ketahuan kakak sepupuku yang lain. Hehehe..). Sedangkan aku
tinggal di daerah Bekasi.
Waktu itu aku masih SD kelas 5 dan
aku minta di sunat seperti kawan-
kawan yang lain. Karena ku pikir
udah saatnya aku disunat. Biasanya seminggu sebelum disunat
banyak keluarga dari bapak dan
ibuku datang dan menginap juga
sekalian membantu masak-
masaknya. Nah, dari situlah aku
mulai mengenal sepupuku. Pertama aku biasa saja karena kupikir dia
masih sepupuku. Tapi kok kayaknya
di semakin genit dan centil di
depanku, tidak seperti sepupu
cewek yang lain, ("yang katanya
aku ganteng dan gagah dibandingkan cowok yang lain,
katanya setelah aku "berhubungan"
dengan dia"). Aku sih biasa saja,
karena aku belum paham betul.
Nah.. Puncaknya terjadi ketika malam
sebelum aku disunat. Setelah semua
orang tidur terlelap di rumahku, ada
juga sih yang main kartu remi dan
gaple, di luaran sambil begadangan
dan ronda, yang padahal waktu itu juga aku pengen ikut begadang, tapi
diomelin sama semua katanya,
disuruh banyak istirahat supaya
pada waktu di sunat tidak terlalu
banyak mengeluarkan darah. Aku
terjaga (mendusin) sekitar jam 01.00 malam karena ingin pipis. Setelah
pipis aku melewati kamar dimana
retno serta beberapa sepupu cewek
yang lain termasuk adikku sendiri
tidur. Aku iseng ngeliat karena kebetulan
lampunya mati maka aku jadi bebas.
Aku juga ngga tahu tiba-tiba saja
seperti ada yang menyuruhku untuk
masuk ke dalam kamar itu. Lalu aku
masuk dan kulihat retno tidur dibawah bersama adikku dan
sepupu cewek lainnya
menggunakan tikar, dia tidur
dengan posisi yang agak
menggairahkan dimana waktu itu dia
memakai rok sedangkan kaki kanannya diangkat keatas sehingga
terpampanglah paha mulus seorang
anak kecil. Walaupun lampu mati tapi
aku masih dengan jelas melihat paha
dan CD-nya (walaupun remang-
remang), karena masih ada lampu dapur yang nyala terang. Lalu aku
lihat semua orang yang ada dikamar.
Ah.. udah tidur semua.. iseng aku
tidur dismping dia, karena kebetulan
disamping kanannya kosong.. Sialan
dia menurunkan kaki kanannya sehingga pahanya tertutup semua. Sengaja aku tidak tidur karena diam-
diam aku menarik rok nya sampai
kedua pahanya yang mulus terlihat.
Dan juga CD yang agak
menggembung sedikit, walaupun
belum ditumbuhi bulu. Tiba-tiba aku ngerasa ada perasaan aneh, dimana
titit ku agak membesar, biasanya ini
terjadi kalau aku bangun tidur dan
langsung kencing, tapi ini lain. Ketika
ku pegang, kok makin enak..
karena dari kecil aku termasuk anak yang cerdas dan cepat tanggap,
maka dalam hal ini walaupun masih
bingung kenapa, aku pun sudah
bisa mencerna apa yang terjadi saat
itu.
Lalu akupun bangun dan duduk didepan pahanya, dan terlihatlah
sebuah CD putih dengan agak
sedikit menggembung bagian
tengahnya, walaupun belum ada
bulunya. Dan juga dadanya yang
sedikit menonjol menendakan bahwa dia agak bongsor. Nekat kudekati
Cdnya, dan ku cium. Ah.. biasa saja.
Tititku semakin tegang, dan ku
sentuh di bagian tengah Cdnya,
hangat.. lalu perlahan kuturunkan
Cdnya, pelan dan sangat hati-hati takut dia terbangun. 1 centi.. lalu
aku pura-pura tidur lagi.. melihat
tidak ada reaksi kuturunkan lagi..
Lagi.. Dan lagi.. sampai mata kaki. Dan.. saat itu pula dia bergerak.. aku
gemetar, jantungku berdetak
kencang sekali.. takut kalo dia
bangun, teriak dan mengadukan hal
ini pada semuanya. Tapi anehnya.
Dia cuma menggeliat dan menaikkan kaki kanannya kembali tapi tidak
penuh karena kaki kanan dan kiri
terikat oleh Cdnya yang masih
melingkar di mata kakinya. Melihat
itu, aku segera melepas Cdnya dan
berhasil..coy.. Kini didepanku terpampang sebuah pemandangan
indah walaupun itu hanya vagina
anak kecil tapi untuk seumuranku
waktu itu membuat titikku semakin
mengencang dan aku pun
mengambil kesimpulan bahwa ini toh yang namanya terangsang, seperti
yang aku baca di majalah-majalah
Kartini, Femina, dll kepunyaan
ibuku. Aku makin nekat dengan
menciumi vaginanya yang mungil..
Ah..masih biasa juga.. tidak ada bau apa-apa. Tapi setelah dipikir-pikir..
nih enaknya pake senter, ya udah
aku ambil senter di kamarku, senter
kecil buatan bokap untuk aku, yang
baterry nya cuma satu. Dan jaman Sekarang pun aku punya
tapi beli harganya +- Rp. 10000,
merknya Energizer, udah ada yang
jual dimana-mana. Terkadang kalo
lagi bengong sambil ngeliatin senter
kecilku, aku jadi tersenyum sendiri. Setelah senternya kudapat, aku
dekati dia lagi.. Masih dalam posisi
yang sama. Kutunggu sebentar
sampai semua terlihat aman. Lalu aku
tiduran di sampingnya.. Kuamati
wajahnya yang mungil.. busyet dah ternyata gua punya sepupu cantik
buangeet.. Walaupun masih SD tapi
tanda-tanda kecantikannya sudah
terlihat. Mungkin karena udah
keturunan kali ye.. He he he.. Ge eR
dah Gua.. Wah kayaknya udah lelap banget
nih retno, karena hanya terdengar
nafasnya yang teratur dan lembut..
sialan bikin aku makin bernafsu aja.. Aku bangkit dan langsung
kunyalakan senter, beruntung
karena lampunya kecil jadi hanya
diameter 3 centi saja, sinarnya.
Lumayanlah untuk menerangi
vaginanya retno.. eh.. dia bergerak dan melebarkan kedua pahanya,
pucuk di cinta ulam tiba. Terlihat
dengan jelas di kedua mataku,
vaginanya yang masih merah dan
ranum. Nekat kupegang dengan
tangan kanan sedangkan kiri masih memegang senter. Kering..?? Aku
colek terus aja.. eh.. terdengar
nafasnya yang mulai tidak teratur..
Tapi kok mulai basah?? wah jangan-
jangan dia ngompol nih.. tapi pas
aku cium tanganku, ah.. bukan air kencing nih..air apa yak?? terus ku
elus-elus vaginanya, lalu tanpa sadar
aku langsung mencium dan
menjilatnya.. Mmpphh..asin.. sial..
kok rasanya kayak gini sih?? ah..
peduli amat aku udah terlanjur terangsang. Kudengar nafasnya mulai tidak
beraturan tapi tidak berisik.. (unik
kan). Lalu ku buka celana ku,
karena aku masih kecil jadi belum
pakai CD. Aku ngeliat tititku makin
tegang dengan ujungnya yang masih tertutup oleh kulup. Dan
sedikit keluar lendir.. aku makin
heran lendir apaan nih..ku jilat.. kok
asin juga sih.. Ku coba mencerna
semua ini, tapi karena otak normal
ku udah ditutupi oleh nafsu aku jadi tidak bisa berpikir secara teoritis.
Yang ada saat itu hanya perasaan
nikmat dan juga nafsu yang
menggebu-gebu. Setelah puas
menjilati vagina retno, yang
sepertinya dia menikmati permainanku ini, aku lalu
menurunkan kedua kakinya sampai
lurus.
Lalu aku mulai merangkak di atas
tubuh nya tanpa menyentuh
tubuhnya sama sekali. Setelah posisiku pas, aku turunkan
tititku sehingga mendekati
vaginanya. Kucoba masukkin, kok
ngga mau masuk.. terus ku coba..
lagi..lagi.. ah capek.. susah juga,
pikirku. Yah udah aku tiduran lagi disampingnya.. ah mendingan juga
megangin vaginanya.. lagi asyik
berfikir untuk melanjutkan aksiku,
tiba-tiba dia menggeliat dan posisi
tubuhnya miring menghadap diriku
yang waktu itu aku juga sedang asyik menikmati wajahnya yang ayu.
Di tambah lagi dengan kaki kirinya
ditekuk ke atas sehingga sepertinya
dia sudah pasrah untuk di setubuhi.
Aku bingung.. Ku pegang lagi
vaginanya.. wah kok tambah basah.. jangan-jangan dia tahu dan
terangsang.. atau sedang mimpi
sambil ikuta terangsang.. wajahku
dengan wajahnya hanya berjarak 10
centi saja. Sehingga nafasnya yang
berat dan menggebu terdengar sangat jelas. Aku berusaha bernafas
dengan pelan supaya dia tidak
terbangun dan kaget. Tapi tiba-tiba tanpa kuduga dia
tersenyum dan tangannya bergerak
memegang tititku, Oouuppss.. ada
apa nih.. aku kaget setengah mati..
ah mungkin nih anak ngga sadar kali
yak.. Tapi setelah kuperhatikan mukanya, dia masih sambil
tersenyum dan mulai membuka
kedua matanya pelan-pelan. Aku
makin kaget dan takut, kalau itu
cuma tipuan dia setelah itu dia
teriak.. lalu aku pun bangun sambil merapikan celanaku, tapi sebelum
aku berjalan kaki ku ditahan oleh
tangannya retno, sambil tangan
kirinya memberi kode untuk kembali
tidur disampingnya.
Aku menggeleng, tapi sambil tersenyum dia tetap memberi kode,
dan aku pun seperti tersihir lalu aku
tidur disampingnya kembali. Kami tetap diam untuk beberapa
saat.. sampai dia akhirnya berbisik
kepadaku dengan bahasa bekasi
karena dia tahu aku ngga bisa
bahasa jawa, "Mas,.. akhirnya aku
kesampean juga bisa pegang tititnya mas". "Lo, kok kamu ngomong gitu,
sih", jawabku. "Entar aja aku
ceritain, sekarang elus-elus lagi
punyaku kayak tadi", jawabnya.
Bagai disamber geledek di tengah
malam, antara seang, kaget, gembira bercampu jadi satu, kuturuti
kemauan dia. Tanpa di suruh dua
kali aku langsung mengelus-elus
vagina retno, dan dia sepertinya
mendesis keenakan. Aku ngga
peduli kenapa dia mau seperti, yang penting aku juga sudah terangsang
berat. "Ehmm..eesstt.. eennaakk
mas..uuhh"..
"Hei..pelan-pelan, jangan berisik..",
jariku makin liar menggosok
vaginanya yang makin lama makin
membanjir. Tangannya pun mulai meremas dadanya sendiri. Semua
kami lakukan dengan sangat hati-
hati takut membangunkan yang
lainnya.
"Mmmass.. yang cepet dong.. Eesstt..
eesstt.. aahh..". "Gila nih anak.. kecil-kecil udah
pinter yang beginian, belajar
darimana nih anak yak?", pikirku
dalam hati.
Tak lama kemudian, setelah sekian
lama aku menggosok vaginanya yang membuat tanganku pegal, dia
merapatkan kedua pahanya..
"Ret.. tanganku jangan dijepit
dong..", kataku pelan.
"Aakkuu mauu naympee, mass",
katanya "Nyampe kemana.. ret, ngaco kamu"
"Ohh..sstt.." sseerr..sseerr..
kurasakan jariku sepertinya ada
cairan yang keluar lumayan banyak
dari vaginanya.
"Kamu ngompol ya..?", kataku "Bbb bukann Mass, ituu namanya
cairan kenikmatan", jawabnya
"Ahh.. Eesstt", erangnya. Kembali aku dibuatnya berpikir,
kenapa nih anak.. Aku masih
bingung..
Lalu kedua pahanya mulai
mengendur dan perlahan membuka..
Tercium aroma yang aneh di udara kamar.. " Bau apa nih, ret..",
tanyaku. "Itu namanya aroma
punyaku", jawabnya. Aneh..??!!
Tak lama setelah dia orgasme (yang
aku baru tahu setelah aku SMP),
jariku di lapnya dengan menggunakan CDnya. Kami terdiam
beberapa saat, sampai kemudian dia
kembali memegang tititku yang
sudah lemas, entah kapan aku juga
tidak merasakan kapan tititku ini
mengkerut. "Mas, kok tititnya lemes sih"
"Mana aku tahu.."
"Ya udah sini retno bangunin lagi"
"Emangnya kamu bisa"
"Sini.. serahkan padaku"
Leherku dielus-elus dengan tangannya yang lembut, dicium,
dijilat, yang membuatku merasakan
sensasi yang aneh, asing tapi kok
enak dan nikmat, sepertinya aku tak
mau dia berhenti melakukannya.
Tindakannya itu ternyata membuat tititku kembali menegang, dan
rupanya dia juga sudah
mengetahuinya dengan memegang
tititku.
"Tuh.. kan dah bangun lagi"
"Trus aku mau diapain, sih" "Pokoknya Mas tenang aja, dijamin
enak deh"
"Terserah koe lah..", jawabku. Lalu dia membuka resleting celana ku
dan mengeluarkan tititku yang
sudah menegang dengan hebat.
"Ih.. lucu juga yah.. titit anak cowok
kalo belum di sunat". "Cerewet
luh..", kataku agak kesal karena dari tadi dia selalu menjatuhkan ku terus.
"Jangan marah dong, Mas". "Nih
kalo diginiin enak ngga?".
Tangannya yang mungil mengocok-
ocok tititku, sambil membuka kulup
(kulit atas) bagian ujung tititku, sehingga terlihat seperti topeng
Ksatria Baja Hitam kalo dibalik,
apalsgi kalo dikasih 2 mata pake
spidol, persis banget..!! (kata teman-
teman sebayaku yang sudah disunat
sewaktu kami mandi di kali, dan saling memperhatikan tititnya
masing-masing). "Ret.. eennaee rekk..".
"Hmm sstt..ohh.."
Tidak lama dia bangun dan
kepalanya sudah berada diatas
perutku, "Mau ngapain kamu ret.."
"Nikmatin aja yah Mas..". Gila dia mengulum tititku, sampai aku
blingsatan keenakkan.
"Cah.. gemblung koe..", kataku
pelan..
"Men.., sing penting ayu, akeh sing
naksir karo aku, wee..", katanya.. Sialan juga nih bocah..
"Ohh.ret .. eennakk.. "
Sepertinya dia makin cepat
mengulum penisku, sangat cepat,
hingga aku merasakan sensasi yang
sangat luar biasa yang baru pertama kali kurasakan seumur hidupku.
Perasaan apa nih.. Dan sepertinya
juga aku pingin pipis.
"Ret.. Aku pengin pipis nih".
Tapi dia cuek aja, sambil terus
mengulum penisku, kulihat bibirnya yang mungil naik turun
memasukkan dan mengeluarkan
tititku.
"Akhh..Eeuuhh.. ", croott..crroot..
mau ngga mau aku akhirnya pipis
juga.. tapi kok pipis rasanya lain, sangat nikmat. Dia terus mengisap
sampai habis air mani ku habis..
(semua ku tahu sampai detail setelah
aku menginjak SMP).
Aku lemas dan tak berdaya,
langsung saja aku terlentang, sementara retno sepertinya pergi
keluar kamar.
"Enak ya, Mas..", katanya manja,
setelah dia kembali ke kamar..
"Dari mana kamu, Ret?"
"Dari kamar mandi, buang mani, Mas".
"Mani? apaan tuh?"
"Ih.. Mas.. kok ngga tau sih.."
"Ya udah kita tidur lagi besok kan
Mas mau disunat entar banyak
darahnya lo kalo kurang tidur". Dia pun mencium pipiku, aku pun
merespon tindakan dia dengan
mencium pipinya juga.
Aku pun bangkit, dan memakai
celanaku.. kulihat tititku masih ada
beberapa cairan yang saat itu aku ngga paham cairan apa itu.
"Ret,.. kapan kau mau ceritain semua
ini", tanyaku.
"Entar.. aja.. masih banyak waktu..
Aku libur sekolah hampir 1,5 bulan,
entar aja kalo Mas udah di sunat, nanti aku ceritain semuanya",
jawabnya.
"Yo..wis..karep mu lah..", "met bobo
yak..
"Met bobo juga Mas".. Tanpa sadar kulirik jam sudah jam
03.00, berarti lama juga aku
bercumbu sama retno.. aku harus
tidur supaya besok pagi aku ngga
cape dan ngantuk.
Aku pun ke kamar mandi untuk pipis dan pada saat pipis aku
merasakan hal yang biasa saja, aku
semakin bingung kenapa tadi pada
saat aku pipis di mulut retno kok aku
ngerasa enak dan nikmat, tapi kok
sekarang biasa saja. Ah .. bodo amet.. Aku pun kembali ke kamar
dan terlelap.. Hingga besok pesta sunatanku
meriah sekali, aku berangkat ke
mantri sekitar jam 06.00, dimana aku
masih sangat terlihat sangat ngantuk,
aku sempat di marahin sama ibu
karena aku kurang istirahat, beruntung semua ngga ada yang
tahu, kecuali kami berdua. Ternyata or-tu ku mengundang
banyak orang untuk hadir dalam
pesta sunatanku. Banyak teman-
temanku yang hadir, bahkan ada
juga teman cewek yang nekat ingin
ngeliat tititku yang udah disunat. Tapi ketika kulirik retno yang
memang dari aku datang dari mantri
dia selalu menemaniku, terlihat
sangat tidak suka terhadap teman
cewekku, sambil mempelototi cewek
itu. Yah udah teman cewek ku tidak jadi ngeliat, ada satpamnya sih.
Hehehehe.. Hingga aku sembuh retno masih
menginap dirumahku padahal or-
tunya sudah pulang ke jawa,
katanya masih betah main sama
adikku, padahal dia kurang begitu
akrab sama adikku hanya sebatas main bekel, boneka, congklak,
masak-masakan, dll. Ternyata setelah waktu pas dia
menceritakan kepadaku kalau dulu
dia di kampung nya di ajarin oleh
teman cowoknya yang katanya
naksir sama dia, anak SMP kelas 2.
Gila yak tuh cowok.. sepupu gua di mainin.. katanya dulu dia ajak main
dokter-dokteran, trus sampai begini
deh.. Untung aja retno kaga
kecewa, karena setelah itu aku
bertekad untuk melindungi retno
dan sampai sekarangpun aku masih menjalin hubungan yang makin
hangat, walaupun aku sempat
berpikir untuk bersenggama
dengannya, aku takut karena dia
masih sepupuku, kami berkomitmen
hanya sebatas petting saja, dan jangan lebih. Ok.. rumahseks readers, masih
banyak petualangan bercintaku
dengan retno sepupuku, kayaknya
episode selanjutnya aku dan retno
bersex ria ketika aku SMA kelas 1.
Pada saat aku liburan sekolah. Tunggu aja episode selanjutnya.
Kritik dan saran sangat membantu,
bagiku yang masih terbilang sangat
awam dalam hal mengarang, karena
dari dulu pelajaran bahasa
indonesiaku dalam mengarang selalu standar, tidak pernah menakjubkan,
hanya saja yang eksak seperti IPA,
Matematika dan Or-kes aku selalu
terlihat menonjol dibandingkan
dengan teman-temanku yang lain.. NB: oh ya.. si retno nih punya lagu
favorit, tahu lagu "Nenek moyangku
Seorang Pelaut", mungkin bagi yang
pernah ngalamin SD, tahu lagu ini,
seperti ini, "KAKEK MOYANGKU
SEORANG PELAUT, PUNYA SENJATA DI BAWAH PERUT, BISA
MENGEMBANG, BISA MENGKERUT,
SEKALI TEMBAK, CRUUT, PERUT
CEWEK GENDUT", coba readers
nyanyiin lagu ini deh, pasti akan
tertawa.. bagi yang tahu dan kenal syair ini mungkin ada hubungannya
sama aku atau retno..(dah..). Tamat